Published On: Mon, Mar 25th, 2019

Dukung Konektivitas Nasional, Pushidroal Petakan Hidro-Oseanografi Pulau Namlea

Personel Pushidroal sedang melakukan survei dan pemetaan di Pelabuhan Namlea.

Personel Pushidroal sedang melakukan survei dan pemetaan di Pelabuhan Namlea.

MN, Ambon – Guna mendukung program tol laut dan konetivitas antar pulau di timur negeri ini, Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) melakukan survei dan pemetaan hidro-oseanografi untuk memutakhirkan data alur dan Pelabuhan Namlea, Maluku.

Seperti disebutkan sebelumnya, survei ini dilaksanakan guna mendukung tol laut dan konektivitas antar pulau di wilayah timur Indonesia, khususnya di Perairan Namlea, dengan menjamin keselamatan navigasi dan keamanan pelayaran di perairan tersebut.

Hal ini dilakukan mengingat Pelabuhan Namlea merupakan lokasi transportasi utama di Kabupaten Buru untuk berhubungan dengan pulau-pulau lain disekitarnya, termasuk dengan Kota Ambon, Ibukota Provinsi Maluku.

“Pelabuhan Namlea terpetakan dalam Peta Laut Indonesia (PLI) Nomor 397 dan berdasarkan sumber data survei pada perairan Namlea yang terakhir dilaksanakan pada tahun 1985, sehingga memerlukan pemutakhiran data survei Hidro-oseanografi,” jelas Kapushidrosal Laksda TNI Dr. Ir. Harjo Susmoro, S.Sos., S.H., M.H di Mako Pushidrosal, Ancol Timur, Jakarta, Senin (25/3).

Berkaitan dengan hal tersebut, Pushidrosal selama 50 hari ke depan, akan menggelar Operasi “Kerta Wardana 03-2019“ di bawah pimpinan Komandan Unit Survei-7 Satsurvei Hidros Mayor Laut (P) A. Agus Sutomo, S.T dengan jumlah personil sebanyak 15 orang, yang dalam beberapa hari lagi akan segera menuntaskan tugasnya melakukan pemutakhiran data hidrografi, oseanigrafi, geografi maritim, serta sarana bantu pelayaran di perairan tersebut.

Operasi “Kerta Wardana 03-2019“ bertugas melaksanakan operasi survei hidro-oseanografi yang meliputi akuisisi, pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data Hidro-oseanografi di perairan Namlea, Pulau Buru Maluku.

Pada saat survei, Tim Survei Kerta Wardana 03-2019 mendapatkan dua Pulau yang ada di PLI nomor 397 skala 1 : 200.000, yaitu Pulau Batu Tanah Roboh dan Pulau Baju, sudah tidak ada (hilang). Hilangnya kedua pulau ini tentunya akan mengurangi jumlah Pulau yang ada di perairan Indonesia atau yang sudah dipetakan.

Selain untuk memutakhirkan data alur Pelabuhan Namlea dan publikasi nautika untuk menjamin keselamatan pelayaran, survei, dan pemetaan yang dilakukan Pushidrosal ini juga dapat dipergunakan sebagai kajian penataan ruang laut dan pemetaan sumber daya alam yang ada, khususnya bagi Pemda setempat, serta penelitian bagi peneliti maupun akademisi perguruan tinggi.

About the Author

- Redaktur

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>