Published On: Tue, Jan 19th, 2021

Jelang Turunnya Trump, AS Boikot CNOOC di LCS

Ilustrasi pengeboran lepas pantai.

Ilustrasi pengeboran lepas pantai.

MN, Jakarta – Jelang berakhirnya masa jabatan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, Negeri Paman Sam tersebut memasukan salah perusahaan pengeboran lepas pantai milik Tiongkok, China National Offshore Oil Corp (CNOOC) ke dalam daftar hitam. Hal ini mengakibatkan akses perusahaan tersebut ke teknologi AS menjadi terbatas, terkecuali bila ada izin khusus.

Tidakan pemerintah AS ini sendiri, terkait dengan aktifitas salah satu perusahaan besar Negeri Tirai Bambu di wilayah perairan dengan kondisi geopolitik sangat panas dalam beberapa tahun terakhir, Laut Cina Selatan.

Dilansir dari Bloomberg, CNOOC sejatinya telah melakukan pengeboran di wilayah perairan yang jauh dari perbatasannya, termasuk wilayah sejauh 200 mil dari perbatasan sejumlah negara seperti Vietnam dan Filipina.

Lebih lanjut, pada hari Kamis yang lalu, Menteri Perdagangan AS, Wilbur Ross, mengatakan bahwa aktifitas raksasa minyak asal negeri yang saat ini dipimpin oleh Xi Jin Ping itu, bertindak sebagai “pengganggu” bagi militer Tiongkok untuk mengintimidasi negara-negara tetangga-tetangganya.

Di tempat terpisah, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Zhao Lijian, mengungkapkan keberatan negeri tempat CNOOC tersebut berasal.

“Tindakan pemerintahan Trump ini, sekali lagi, menunjukan kepada publik, kepada komunitas internasional apa itu uniteralisme, standar ganda, standar ganda, dan intimidasi,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian, seperti dikutip dari Bloomberg, dalam suatu acara pengarahan di Beijing, Jumat (15/1).

Lebih lanjut, Lijian menjelaskan bahwa Pemerintah Tiongkok akan terus memberikan dukungan kepada CNOOC maupun perusahaan-perusahaan milik negara tersebut.

“Tiongkok akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk memastikan hak dan kepentingan yang sah serta sesuai hukum terhadap perusahaan-perusahaan dari negara kami. Kami akan mendukung perusahaan-perusahaan kami, untuk melindungi, menegakan hak dan kepentingan mereka sesuai dengan hukum yang berlaku,” tambahnya.

Saat perusahaan yang berkantor pusat di Beijing tersebut terlibat sengketa teritorial terkait pengeboran di sekitar wilayah Vietnam dan Filipina, sebagian besar produksi aktual perusahaan itu di Laut China Selatan, lebih dekat ke wilayah dua negara anggota ASEAN tersebut, dan itu menjadi wilayah operasi inti perusahaan ini.

Menurut CNOOC sendiri, wilayah Laut China Selatan bagian timur menyumbang lebih kurang 242.000 barel minyak bumi per hari pada tahun 2019 yang lalu, di kedalaman 100 s.d 1.500 meter. Ini setara 17% dari total produksi perusahaan selama tahun itu.

Masih di tahun 2019, CNOOC juga mengembangkan pengeboran di area Yangjiang Sag, patahan bawah laut di sebelah barat daya Hongkong, serta membuat tujuh penemuan baru di seluruh dunia pada tahun tersebut.

About the Author

- Redaktur

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com