Published On: Sun, Feb 21st, 2021

Tanggapi Perlambatan Ekspor, INSA Suguhkan Beberapa Usulan

Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto.

MN, Jakarta – Asosiasi Pengusaha Perkapalan  Nasional Indonesia atau Indonesia Shipowner Association (INSA) menanggapi klaim beberapa pengusaha nasional yang menyatakan bahwa terjadi perlambatan ekspor akibat menurunnya aktifitas kapal.

Ketua Umum INSA, Carmelita Hartoto mengklarifikasi bahwa permasalahan tersebut terjadi akibat kontainer kosong yang merupakan imbas dari pandemi Covid-19 dalam kurun waktu setahun terakhir.

“Mungkin yang dimaksud adalah terkendala kontainer kosong, yang memang terjadi dalam beberapa bulan belakangan ini sebagai dampak lanjutan dari kondisi Covid-19. Kalau space atau ruang kapal, bukannya tidak ada kapal melainkan freightnya yang meningkat banyak,” ujarnya.

Lebih lanjut, wanita yang saat juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Transportasi dan Perbendaharaan Umum ini, menjelaskan bahwasanya ini merupakan efek bola salju dari pelambatan arus barang dikarenakan pandemi covid-19.

Karena berkurang barang yang diangkut, secara otomatis operator kapal juga mengurangi kapasitas angkutnya. Di sisi lain, kebijakan lockdown yang diambil oleh beberapa negara juga membuat terjadinya kongesti, sehingga pengembalian kontainer kosong/repo terhambat.

Ia juga menjelaskan bahwa pada saat kegiatan ekonomi Tiongkok mulai pulih dari Covid-19, terjadi peningkatan permintaan space dan kontainer kapal.

“Karena demand ini tinggi, sedangkan supply kontainer terhambat, terjadi hukum ekonomi, adanya penaikan freight/biaya angkut untuk kegiatan ekspor. Hal yang sama terjadi pada kegiatan ekspor Indonesia. Apalagi, pandemi ini juga berdampak pada penurunan volume impor Indonesia,” ulasnya.

Namun sayang, ia tak merincikan terkait besaran peningkatan biayanya, di mana menurut Ketua Bidang Perhubungan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ini, dinamika tersebut memang sudah sering terjadi di dalam dunia shipping.

“Masih segar dalam ingatan kita semua, beberapa tahun yang lalu terjadinya market global shipping yang depress. Di mana banyak perusahaan yang harus bankcrupt seperti Hanjin dan beberapa perusahaan kapal harus merger atau diakuisisi untuk bisa tetap survive,” tambahnya.

Wakil Ketua Umum Women in Maritime (WIMA) Indonesia ini pun memperkirakan dampak dari kondisi ini paling cepat berakhir di kuartal I-2021 untuk adanya keseimbangan kegiatan perdangan dunia. Untuk itulah, INSA juga telah beberapa kali telah mengusulkan kepada pemerintah untuk memecahkan masalah ini, sehingga para eksportir dapat mengatasi kendala dalam kegiatannya.

“Beberapa usulan kami misalnya, eksportir lakukan long term forecast, pemberian fasilitas mempersingkat waktu freetime demurrage untuk peti kemas impor, perubahan tipe kontainer untuk ekspor, relaksasi biaya pelabuhan untuk repo kontainer kosong, serta mempercepat proses hukum pada kontainer-kontainer yang tertahan kasus hukum,” tandas peraih gelar MBA dari Webster University ini.

About the Author

- Redaktur

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com