TPK Koja
Jakarta (Maritimnews) – Menyambut masa libur panjang Hari Raya Waisak dan cuti bersama, Terminal Petikemas (TPK) Koja melakukan serangkaian langkah antisipatif guna kelancaran arus barang dan demi menjamin pelayanan optimal kepada pengguna jasa agar tidak terjadi kongesti di area pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.
Sekretaris Perusahaan TPK Koja, Paulus Cahyandaru menegaskan, bahwa momentum libur panjang kerap kali menjadi penumpukan aktivitas bongkar muat yang berdampak pada arus logistik di pelabuhan.
Untuk itu manajemen TPK Koja menerapkan beberapa langkah strategis, yakni optimalisasi SDM dan peralatan (24 jam), imbauan kepada Depo untuk operasional di Hari Libur, dan nonitoring kondisi YOR (Yard Ocupancy Ratio) dan evaluasi Real-Time.
Kemudian Tim layanan pelanggan TPK Koja siap memberikan informasi terkini terkait status petikemas, jadwal operasional, dan solusi atas kendala yang sedang dihadapi pengguna jasa.
Termasuk berkoordinasi dengan pihak otoritas pelabuhan, Bea Cukai, asosiasi pengguna jasa pelabuhan, serta instansi terkait lainnya untuk memitigasi potensi kemacetan dan keterlambatan proses administratif, termasuk dalam pelaksanaan pemindahan lokasi penumpukan (PLP).
“Kami menyusun skenario operasional berbasis data historis trafik pasca-libur nasional. Melalui penguatan SDM, sistem digital, serta koordinasi lapangan, kami optimistis dapat mengelola lonjakan aktivitas secara efisien tanpa mengganggu waktu tinggal petikemas,” pungkasnya.
(Bayu Jagadsea/MN)
Oleh : Dr. Dayan Hakim NS* Perusahaan pelayaran saat ini tengah menghadapi kewajiban untuk menyusun…
Jakarta (Maritimnews) - Kunjungan Mahasiswa dan Mahasiswi Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia (UI) ke…
Pontianak (Maritimnews) - Dukungan perusahaan IPC Terminal Petikemas terhadap Asta Cita ke-4 Pemerintah Republik Indonesia…
Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Area Teluk Bayur bersama PT Pelabuhan Tanjung…
Jambi (Maritimnews) - Indonesia adalah produsen dan eksportir utama kayu manis global, menguasai sekitar 41%…
Dwelling time yang masih jauh di atas standar internasional bukan sekadar masalah teknis kepelabuhanan —…