Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto memukul gong tanda pembukaan Workshop Perbenihan Ikan Nasional (WPIN) 2017.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto memukul gong tanda pembukaan Workshop Perbenihan Ikan Nasional (WPIN) 2017.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto memukul gong tanda pembukaan Workshop Perbenihan Ikan Nasional (WPIN) 2017.

MN, Jakarta – Tcomm dan Majalah TROBOS Aqua bekerja sama dengan DJPB di Bogor menyelenggarakan Workshop Pembenihan Ikan Nasional 2017 yang dihadiri lebih dari 330 peserta  pada awal bulan ini. Ke-330 orang peserta tersebut terdiri dari UPT/UPTD perbenihan berbagai daerah, perwakilan asosiasi perikanan, perusahaan pakan, hatchery, dan berbagai stakeholder lainnya.

Pembicara yang dihadirkan dari dalam dan luar negeri, diantaranya Ir. Coco Cocarkin, MSc (Direktur Perbenihan KKP), Dr. Agus Oman Sudrajat (Ahli Reproduksi Ikan, IPB), Dr George Chamberlin (Kona Bay Marine Resources Hawai), Borge Soraas (Aqua Optima), Dries Agnessen (Blue Genetic), Blue Aqua Singapore, Joe MCcDonald (Varicon Aqua), Eka (PT. Booster), Effendi Wong (Ketua Hipilindo), Budhi Wibowo (Ketua AP5I), Ir. Mimid Abdul Hamid, M.Sc (Kepala BBPBL Lampung), dan Budiman, APi, M.Si (Sekertaris Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat).

Pada workshop perbenihan ikan nasional juga dilakukan link and match antara pelaku usaha dan pemerintah dalam hal ini UPT/UPTD. Beberapa rekomendasi workshop disampaikan kepada Menteri Kelautan dan Perikanan serta stakeholder terkait yaitu :

  1. Membentuk asosiasi hulu-hilir per komoditas.
    Saat ini asosiasi perikanan yang ada masih terkota-kotak dalam bagian per bagian pembenih saja, atau pembudidaya saja, atau olahan saja. Di Eropa telah diterapkan asosiasi yang linier dari hulu ke hilir, misalnya untuk komoditas Salmon, asosiasi yang ada mulai dari pembenih, pembudidaya pembesaran, hingga pengolahan menjadi satu bagian. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengembangan komoditas perikanan budidaya secara terintegrasi dari hulu ke hilir. Hal ini tentunya untuk meningkatkan pertumbuhan dan PDB sektor perikanan.
  2. Berkonsentrasi pada spesies tertentu untuk dikembangkan secara terintegrasi.
    Indonesia memiliki potensi perikanan budidaya yang sangat besar dengan diversifikasi spesies yang banyak. Untuk memperoleh hasil yang optimum harus ditentukan beberapa komoditas/spesies unggulan yang akan dikembangan secara terintegrasi dari hulu ke hilir. Misalnya, komoditas udang dan bandeng di air payau, lele dan patin di air tawar, barammundi/kakap putih dan rumput laut di air laut. Komoditas tersebut harus dikembangkan secara menyeluruh dan terkonsep untuk menggenjot produksi dan nilai tambahnya.
  3. Menghidupkan kembali pemuliaan induk unggul.
    Sudah 2 tahun terakhir, anggaran untuk pemuliaan induk unggul ditiadakan. Harapannya pemuliaan genetik dapat dilanjutkan dan dikembangkan dengan perencanaan matang dan didukung anggaran yang besar oleh pemerintah seperti yang dilakukan oleh Norwegia pada ikan salmon. Agar kedepannya ketersediaan induk-induk unggul melimpah dan hatchery dapat memproduksi benih berkualitas tinggi, sehingga pembudidaya dapat bersaing dalam modal produksi dan kualitas.
  4. Transformasi teknologi perbenihan modern.
    Saat ini semakin berkembang beberapa teknologi untuk mencetak induk maupun benih unggul yang bebas penyakit, di antaranya teknologi SNP (single nucleotide polymorphism) untuk mengetahui DNA penciri, dan genome/DNA editing yang dibutuhkan dalam proses pencetakan induk unggul. Selain itu, teknologi di tingkat hatchery untuk menciptakan benih unggul yang bebas penyakit juga harus terus ditingkatkan, di antaranya dengan penggunaan RAS (Recirculating Aquaculture System), aplikasi bioreaktor alga, dan lain sebagainya.
  5. Membangun Broodstock Center berkelas dunia.
    Saat ini kebutuhan induk, terutama udang sebagian besar masih diperoleh dari impor. Kepercayaan pelaku hatchery untuk menggunakan induk lokal masih kecil, sehingga perlu ada upaya lebih untuk pemerintah membangun broodstock center per komoditas yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan stakeholder. Pemerintah juga dapat bekerjasama dengan pihak swasta dalam hal ini produsen induk dari Hawai untuk membuat broodstock center kelas dunia, agar tingkat kepercayaan pelaku dalam menggunakan induk produksi lokal meningkat.
  6. Peningkatan ketahanan pangan dari ikan.
    Semakin tinggi pertumbuhan penduduk, tentunya kebutuhan pangan dalam hal ini protein juga terus meningkat. Ikan menjadi salah satu sumber protein yang dapat dijadikan pilihan bagi masyarakat karena ikan memiliki tingkat produktivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan ternak atau hewan darat lainnya seperti ayam. Produktivitas produksi untuk ikan lele misalnya dalam satu hektar lahan dapat mencapai 5.000 ton per hektar, sedangkan untuk ternak dan pertanian hanya ratusan ton saja. Selain itu promosi ikan dalam rangka peningkatan konsumsi ikan di masyarakat juga terus dilakukan, agar target konsumsi ikan 50 kg per kapita per tahun dapat dicapai.
  7. Perlunya sinergi peraturan perundangan.
    Dalam mendukung pembangunan sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi perbenihan perlu didukung oleh aturan perundangan. Saat ini ada Undang- undang Nomor 23 Tahun 2014 yang memindahkan kewenangan urusan pemerintah daerah provinsi ke tingkat kabupaten/kota. Diharapkan ada sinergi antar-kelembagaan yang mendukung jalannya proses pembangunan perbenihan nasional. Hal ini perlu disuarakan di level pusat dan DPR untuk kembali mengkaji peraturan yang dapat mewadahi semua pihak.
  8. Swasembada induk dan benih unggul.
    Kebutuhan benih dan induk terus meningkat setiap tahunnya. Diperkirakan kebutuhan benih saat ini mencapai 115 miliar dan kebutuhan induk sebanyak 20 juta ekor untuk semua komoditas. Untuk itu, pemerintah bersama stakeholder lainnya harus bekerja sama bersinergi menghasilkan induk dan benih unggul tersebut. Masing-masing pihak harus mengambil peranan, dengan meningkatkan sarana dan prasarana, teknologi, dan kapasitas produksi.
  9. Sinergitas tambak artemia dan garam.
    Kebutuhan artemia sebagai pakan induk dan benih semakin meningkat. Saat ini Indonesia masih mengimpor cyst (telur dorman) artemia, untuk itu perlu dibangun tambak artemia untuk memenuhi kebutuhan biomasa artemia bagi produsen induk dan hatchery dalam negeri. Dalam hal ini DJPB sedang menyiapakan pembangunan tambak artemia di NTT, yang nantinya dapat disinergikan dengan produksi garam hasil proses penumbuhan artemia. Ke depan diharapkan adanya sinergitas antara tambak garam untuk memproduksi biomasa artemia di berbagai daerah di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *