
MNOL, Jakarta – Banyak diantara kita kadang-kadang bertanya-tanya dalam diri sendiri seperti apakah sebenarnya pelabuhan kapal laut yang baik dan terbaik itu? Menurut laporan yang dibuat dalam forum ekonomi dunia (World Economic Forum), bahwa Belanda, Singapura, dan Uni Emirat Arab (UEA) adalah negara yang patut dicontoh untuk pembangunan pelabuhannya yang akan diterapkan di Indonesia.
Hal itu disampaikan oleh Manajer Senior Divisi Asset PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) Sjaifuddin Thahir kepada maritimnews di Jakarta (21/2). Menurutnya, ketiga negara tersebut memiliki pelabuhan kapal laut yang dibilang sebagai pelabuhan terbaik di dunia.
“Kenapa tidak dicontoh saja untuk Indonesia. Oleh karena itu untuk bisa menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia sebagai perwujudan dari kebijakan nasional yang sampai saat ini dibilang masih jalan di tempat, maka salah satu solusinya bahwa pelabuhan-pelabuhan di Indonesia harusnya dibangun dan mencontoh pada pelabuhan di tiga negera tersebut,” ujar Thahir biasa akrab disapa.
Sambung lulusan Perkapalan ITS ini, pelabuhan-pelabuhan pada ketiga negara tersebut sudah dilengkapi dengan peralatan-peralatan pelabuhan terbaru dan peralatan-peralatan yang termodern. Lahan pelabuhannya juga dibuat sangat besar dan luas tidak sempit (tidak setengah-setangah).
“Fasilitas pelabuhan yang dibangun semuanya berkualitas sangat tinggi,” tambahnya.
Demikian juga gedung-gedung dan gudang-gudang pelabuhan untuk keperluan pengiriman muatan atau kargo juga dirancang luas dan besar. Selain itu, gudang pengapalannya juga dirancang dengan penggunaan yang sangat spesifik sesuai dengan jenis muatannya.
“Untuk itu kita sebagai negara bahari dapat melihat dan menengok lebih dalam isi pelabuhan-pelabuhan pada ketiga Negara tersebut. Bila perlu kita membikin studi banding yang komprehensif,” imbuhnya.
Belanda dinobatkan menjadi negara dengan pelabuhan-pelabuhan yang berpredikat terbaik dan peringkat nomor satu di dunia. Pelabuhan-pelabuhan di Belanda memiliki skor 6,8 poin (maksimal 7) untuk pelabuhan kapal lautnya.
Hal ini sebagaimana telah dirilis dalam laporan persaingan dunia dari World Economic Forum. Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa nilai “1” adalah skor pelabuhan yang terburuk dan nilai “7” adalah untuk skor pelabuhan yang terbaik.
Sebagian besar pelabuhan-pelabuhan di Belanda dilengkapi dengan teknologi terbaru. Tentunya juga masih ada pelabuhan-pelabuhan di Belanda yang belum dilengkapi dengan teknologi terbaru namun boleh dibilang masih lebih baik daripada pelabuhan lain di dunia.
“Pelabuhan-pelabuhan di Belanda sebagian besar menangani pengiriman dan transportasi kargo dan khusus muatan petrokimia,” bebernya.
Pemerintah Negara Belanda tidak segan-segan berinvestasi di pelabuhan-pelabuhannya termasuk di pelabuhan Rotterdam sebagai contoh, yang memiliki fasilitas yang sangat baik. Pelabuhan di sana juga dilengkapi dengan ekstensi panjang (long extensions), gudang-gudang pelabuhan yang besar dan dilengkapi dengan sarana pengamanan yang canggih sesuai dengan ketentuan ISPS Code.
Sementara itu, Singapura, Negara tetangga yang sangat dekat dengan Indonesia, memiliki pelabuhan yang dinilai dengan peringkat kedua di dunia dengan 6,7 poin (maksimal 7). Pelabuhan kapal laut di Singapore adalah pelabuhan juga dinilai sebagai pelabuhan tersibuk di dunia. Setiap tahunnya kargo yang di-handle dan ditransportasikan bisa mencapai sebesar 1,5 miliar ton (data pada tahun 2005).
“Singapura menjaga stabilitas ekonominya dengan bisnis pelabuhan dan berinvestasi cukup besar pada bisnis pelabuhan. Apakah pelabuhan Tanjung Priok bisa bersaing menjadi pelabuhan tersibuk di dunia? Apakah negara Indonesia juga akan berinvestasi pada bisnis pelabuhan?” tandasnya.

Pelabuhan di Singapura dirancang dan dibangun dengan ukuran yang cukup besar untuk antisipasi ke depan meski harus melakukan reklamasi di beberapa titik. Pelabuhan di Singapura ini menjadi tempat yang sangat diminati untuk berhentinya atau beristirahatnya bagi banyak kapal-kapal kargo besar dari negara lain.
“Untuk itu pelabuhan Singapura bisa menagih dengan jumlah tarif yang cukup besar dikarenakan kepuasan dan keamanan aktivitas kapal di dalam pelabuhan. Itulah salah satu pendapatan utama Negara Singapura. Indonesia pun sebenarnya bisa menawarkan lebih aman dari pada di Singapura,” ujarnya lagi.
Sesuai informasi dari Forum Ekonomi Dunia itu, Singapura telah membuktikan dirinya dapat mengangkut seperlima (20%) dari total muatan container yang ada di dunia. Kemudian, Singapura juga dapat mengangkut setengah (50%) dari minyak mentah yang ada di dunia.
Kendati Singapura memiliki daratan yang sangat kecil dan sempit dibandingkan dengan Indonesia, tetapi menyadari dan mengetahui bagaimana Singapura bisa mengambil keuntungan dengan potensi garis pantainya yang ada dan yang benar-benar dimanfaatkan.
Satu lagi, menurut Thahir pelabuhan yang patut dicontoh oleh Indonesia yaitu Uni Emirat Arab (UEA). Negara ini dalam penilaiannya, pelabuhannya terletak pada urutan ketiga terbaik dunia dengan skor 6,5 poin (maksimal).
Pelabuhan-pelabuhan di UEA, dalam transportasi untuk internal UAE dan eksternal sekitarnya hampir dapat menangani setengah dari peredaran container di dunia (lebih besar dari Singapura). “Karena UEA adalah negara yang terletak di wilayah Teluk, dan UEA memiliki cadangan minyak yang cukup besar yang berada di dekat pantai,” terangnya.
Masih kata pria yang pernah mengenyam pendidikan di Newcastle University ini, UEA dapat mempertahankan dan meningkatkan ekonominya dengan mengandalkan untuk mengekspor minyak mentah ke negara-negara lain.
Negara UEA diakui mempunyai kekuatan dalam hal pengiriman lewat kapal laut dan pemerintah UEA telah banyak berinvestasi untuk pembangunan pelabuhan-pelabuhannya. UEA mengetahui potensinya bahwa perdagangan melalui laut dengan menggunakan pelabuhan yang dimilikinya sangat bermanfaat bagi negaranya pada skala yang lebih besar.
“UEA berencana untuk memiliki pelabuhan besar, dinamis dan modern, serta membuat menjadi negara pelabuhan terbaik di dunia,” ungkapnya.
Poros Maritim Dunia
Negara-negara yang memahami pentingnya perdagangan lewat laut pasti berinvestasi pembangunan pelabuhan dan melalui jalur transportasi lautnya. Negara-negara tersebut diatas telah berinvestasi dalam jumlah besar untuk membangun pelabuhan-pelabuhannya yang dilengkapi teknologi modern.
“Teknologi tidak hanya dapat membantu dalam membuat jalur perdagangannya sendiri tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan bagi negara-negara yang terkurung daratan atau landlocked countries,” ulas Thahir.
“Banyak negara dengan ekonomi terkemuka di dunia biasanya memanfaatkan sumber daya lautnya dan menjaga jalur lautnya dan Negara-negara tersebut melakukan perdagangan melalui jalur laut dengan cara yang sangat efisien,” tambahnya lagi.
Memiliki pelabuhan yang dilengkapi dengan peralatan yang baik dan andal akan membantu mengelola ekonomi nasionalnya untuk kebutuhan ekspor dan impornya.
Negara seperti Indonesia, perdagangan internasionalnya sangat tergantung pada jalur perairan laut Indonesia. “Indonesia tidak perlu ragu untuk meniru Negara-negara yang memiliki peringkat terbaik di dunia demi cita-cita menjadi Poros Maritim Dunia,” pungkasnya. (An/MN)






