
MNOL, Jakarta –Dalam rangka Gerakan Aksi Bersih untuk memperingati Hari Bumi di Cilincing, Jakarta Utara (6/5), PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) mengingatkan perlunya pemahaman akan Marine Pollution (Marpol) kepada setiap stakeholder maritim di Indonesia.
Pada momentum tersebut, BKI juga memberikan bantuan dalam bentuk Coorporate Social Responbility (CSR) kepada warga Cilincing. Hal itu merupakan bukti konkret BKI dalam mematuhi aturan Marpol.
“BKI sebagai salah satu komponen dari maritim Indonesia melihat stakeholder yang utama adalah masyarakat. Mereka menggunakan laut sebagai media untuk melakukan kegiatan dan bekerja, jadi awareness masyarakat harus ditingkatkan untuk menjaga kelestarian laut,” kata Dirut PT BKI, Rudiyanto di sela-sela acara tersebut.
Dalam acara yang diselenggarakan oleh Kemenko Maritim itu, pemerintah berupaya untuk mengurangi sampah plastik di laut. PT BKI sebagai satu-satunya klasifikasi kebanggaan Indonesia turut berperan dalam rangka mengurangi polusi laut tersebut sebagai bagian dari aturan International Maritime Organization (IMO).
Sambung Rudi, biasa akrab disapa, dunia mengenal adanya Marpol yang sangat berkaitan dengan program pemerintah dalam rangka memerangi sampah laut ini. Oleh karena itu BKI terpanggil untuk terlibat dalam acara ini.
“Kita melakukan bakti langsung kepada masyarakat seperti yang kita lakukan di acara ini,” tambahnya.
Saat ini, Indonesia mendapat predikat sebagai negara penghasil sampah plastik terbesar nomor dua di dunia setelah China. Hal itu pun berdampak pada kelangsungan ekosistem biota laut serta akibatnya bagi kesehatan masyarakat.
Sedangkan Marpol sendiri merupakan konvensi yang disepakati oleh para negara anggota IMO untuk mengurangi pencemaran laut. BKI sebagai salah satu stakeholder maritim nasional yang berperan untuk menguji kelaikan suatu kapal juga berkewajiban menjalankan aturan tersebut.
“BKI dalam melakukan verifikasi kelaikan kapal juga memeriksa misalnya saat kapal membuang sampah atau dalam konteks air ballast system,” terang Rudi.
Lebih lanjut, pria asal Cirebon itu menyatakan saat ini BKI juga fokus mengklasifikasi kapal pengeruk sampah berdasarkan kriteria kelas yang ditetapkan. Hal itu juga dilihat dari besarnya tonnase dari kapal tersebut.
Kendati Indonesia saat ini masih kekurangan kapal pengeruk sampah, namun Rudi melihat yang terpenting untuk mengurangi sampah di laut adalah kesadaran masyarakat.
“Corrective action-nya itu bila masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan laut dan preventif action-nya adalah masyarakat jangan membuang sampah di laut, saya kira itu kunci utamanya,” pungkasnya.
Dalam event itu, BKI memberikan bantuan berupa alat keberhasilan kepada warga Cilincing. Acara yang dihadiri oleh Menko Maritim Luhut B Pandjaitan beserta jajarannya itu mendapat respons yang luar biasa dari masyarakat Cilincing bahkan di kota-kota lainnya.
(Adit/MN)







