
MNOL, Jakarta – Istilah One Belt, One Road (OBOR) sebagai representasi kekuatan maritim China dalam konsep jalur sutra maritim-nya, saat ini diganti menjadi Belt and Road Initiative (BRI). Pengumuman itu dilakukan oleh Presiden Xi Jinping di Beijing, baru-baru ini.
Menurut pengamat maritim dari The National Maritime Institute, Siswanto Rusdi, perubahan istilah itu untuk menepis kesalahan intepretasi yang selama ini melekat pada OBOR.
“Misalnya, kata ‘one’ (satu) dalam singkatan tersebut. publik cenderung mempersepsikan bahwa hanya satu jalan maritim dan satu sabuk daratan. Dengan persepsi ini terbangun pula kompetisi yang tidak sehat,” ulas Siswanto di Jakarta (10/5).
Dengan kata lain, dengan hanya satu jalur ini maka hegemoni China terhadap negara-negara yang dilewati jalur tersebut dianggap sangat tinggi. Sehingga dikhawatirkan terjadi penolakan di antara negara-negara yang menjadi mitra China dalam konsep Maritime Silk Road (MSR).
Sambung Siswanto, BRI sendiri diinisiasi oleh Presiden Xi untuk menghubungkan Asia, Eropa dan Afrika di sepanjang lima rute. “Lalu, kata ‘inisiative’ (inisatif) diperkenalkan untuk menekankan arti pentingnya keterbukaan bagi Beijing atas masukan dari berbagai mitra sehingga tidak terkesan China-sentris,” terangnya.
Di Indonesia sendiri sempat beredar berbagai asumsi soal penerapan OBOR. Kebanyakan asumsi yang beredar menekankan pada aspek kedaulatan dan kewaspadaan terhadap bahaya invasi China dengan konsep OBOR-nya.
Akhirnya Pemerintah China menyadari hal itu yang kemudian merubah istilah yang lebih soft dan mudah diterima oleh mitranya. Hingga saat ini, negara-negara di ASEAN, Asia Selatan, Timur Tengah dan Afrika yang menjadi mitra China dalam konsep tersebut.
Maka dari itu, sudah sepatutnya negara-negara yang menjadi mitra China terus mengasah kemampuannya dan melakukan analisa yang mendalam terhadap untung ruginya penerapan konsep tersebut di negaranya.
Siswanto menyatakan terkait dengan megaproyek China itu, Maritime Institute of Malaysia (MIMA) sebagai think tank kemaritiman milik pemerintah Malaysia dengan China Institute of International and Strategic Studies akan menggelar konferensi internasional dengan topik seputar BRI pada 25-26 Mei 2017 mendatang di Kuala Lumpur.
Konferensi internasional itu bertema “Expanding Cooperation and Addressing Gaps. Forum itu rencananya akan menampilkan pembicara dari Malaysia, China, Filipina, Australia.
Bahkan Siswanto pun diminta hadir dalam forum itu untuk mengurai lebih jauh soal BRI dan jalur sutra maritim. “Saya diminta untuk menyampaikan pemikiran tentang BRI and MSR: Comprehensive National Development and Reforms dalam forum itu,” pungkas dia.
Apapun istilahnya, yang pasti penerapan itu harus melihat kesiapan Indonesia dalam visi poros maritim dunia. Indonesia juga tak perlu khawatir dengan China Sentris sejauh mana kepentingan nasional kita dapat terealisasi serta tidak terganggu.
Hal itu, ditegaskan oleh analis pertahanan Dr Connie Rahakundini Bakrie di tempat terpisah. Ia menyatakan Indonesia harus banyak belajar dari China. Kendati menurutnya penerapan OBOR di ASEAN masih banyak masalah mengingat kondisi ASEAN sendiri belum solid hingga kini, tetapi ia menyarankan agar Indonesia tetap bekerjasama dengan China.
“Saya tidak menyebut OBOR itu buruk, tetapi kalau kita belum siap apapun itu maka akan banyak menimbulkan masalah. Dan bukan hanya dengan China kita bekerjasama tetap terhadap India, Korea Utara dan NATO sekalipun selama itu baik kenapa tidak,” ujar Connie di sela-sela acara bedah buku di Fakultas MIPA, UI (9/5) lalu.
Lebih lanjut, Connie mengutarakan ketika kita belum siap yang ada kita selalu kebakaran jenggot. Di sisi lain, ia menyampaikan agar Indonesia harus membuka kerja sama sebanyak-banyaknya untuk mengejar ketertinggalannya, termasuk dengan China dalam konsep OBOR.
Wanita yang aktif dalam Ikatan Pejuang Wanita Siliwangi ini juga mengimbau agar kita tidak perlu takut dengan China Sentris. Karena China sebagai negara maju dalam abad 21 ini memiliki kekuatan yang mumpuni di segala bidang.
“Yang paling utama kita harus memperkuat elemen kita, terutama pertahanan dan ekonominya, agar tidak mudah diembargo. Tetapi kalau China saat ini mampu berorientasi ke Kutub Selatan kenapa kita tidak ikutan untuk kepentingan nasional kita,” pungkas Connie mengakhiri.
(Adit/MN)






