Capai Poros Maritim dengan Membangkitkan Kembali Semangat Maritim Wilayah Indonesia Timur

 

Kolonel Laut (P) Salim

Maritimnews, Ternate – Menyongsong kebangkitan maritim di timur Indonesia dalam bingkai negara poros maritim merupakan inti dari Seminar Nasional yang digelar oleh Universitas Khairun bekerja sama dengan Institut Maritim Indonesia (IMI), di Gedung Nuku, Unkhair, Ternate, Maluku Utara, Sabtu (2/6/16) lalu. Seminar yang bertajuk ‘Optimalisasi Pembangunan Maritim Wilayah Timur Untuk Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia’ itu dihadiri oleh ratusan mahasiswa Unkhair, perwakilan OKP, dan pejabat daerah setempat.

Para pembicara seminar antara lain, Staf Menko Maritim Dr. Ir. Nani Hendriati, M. Sc, Staf Asops Panglima TNI Letkol Laut (P) Salim dan Ardinanda Sinulingga dari IMI. Staf Menko Maritim diwakili membahas tentang kebijakan pemerintah dalam membangun poros mariitim dunia. Salah satunya perjalan 5 pilar pembangunan maritim yang sudah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo di awal pemerintahannya.

Kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah itu tentunya didasari dari wilayah laut Indonesia yang cukup luas sehingga disebut sebagai negara maritim. Selain itu Indonesia juga memiliki ribuan pulau serta garis pantai yang cukup panjang. Luas wilayah perairan Indonesia yang mencapai sekitar 3.000.000 km2 total dari luas Negara 5.193.250 km2. Dengan cakupan wilayah laut yang begitu luasnya, maka Indonesia pun diakui secara internasional sebagai Negara maritim yang ditetapkan dalam UNCLOS 1982.

Gugusan Pegunungan di Maluku Utara

Ketetapan UNCLOS juga memberikan kewenangan dan memperluas wilayah laut Indonesia dengan segala ketetapan yang mengikutinya. Sehingga, luas perairan itu meliputi Perairan Kepulauan, Laut Teritorial dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).

Kejayaan Masa Lalu

Selanjutnya Letkol Laut (P) Salim yang merupakan Perwira Menengah TNI AL yang sudah malang melintang dalam berbagai kursus di hampir 40 negara dan penugasan yang diembannya baik di TNI AL maupun Mabes TNI, mengerti betul ritme perjalanan maritim Indonesia dari masa ke masa.

Berawal dari pemaparan sejarah, lulusan AAL 1995 itu menarik karakteristik itu menjadi sebuah potensi dalam membangun kemaritiman bangsa Indonesia hingga pembangunan maritim yang bersifat lokal (Maluku).

“Sejarah telah mencatat masa lalu peradaban maritim bangsa kita khususnya cikal bakal perdagangan internasional di Maluku yaitu ada di Banda Naira sekitar bulan November 1511. Itu menjadi bahan perbincangan internasional ketika dari perjalanan yang panjang Portugis setelah menaklukan Malaka, dengan dipandu nahkoda melayu maka Antonio de Abreu dan Fransisco Serrao berhasil tiba di Banda Naira,” terang Salim.

Indonesia sebagai satu kesatuan dari dulu memiliki ikatan kuat dan saling mempengaruhi. Itulah yang tercermin dengan takluknya Malaka oleh Portugis yang kemudian disusul dengan Maluku.

Sambung Salim, keduanya antara Malaka dan Maluku merupakan pusat perdagangan dan pertumbuhan ekonomi di dua wilayah (Nusantara barat dan timur-red). Itulah kemudian menjadi istilah ‘Jalur Rempah Nusantara’, yang saat ini dalam pencapaian poros maritim dunia dan harus dihidupkan kembali.

“Rekonstruksi sejarah perjalanan penjelajah dunia menjadi bagain terpenting dalam sejarah maritim yang mengisahkan sebuah penemuan yang akan melahirkan pusat-pusat ekonom baru di Maluku. Potensi itu yang harus kita teruskan sekarang ini,” tegas pria asal Surabaya itu.

Tambahnya, Kepulauan Banda Naira juga telah tercatat dalam Buku Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca sebagai kepulauan yang terpenting dalam perdagangan internasional. Tentunya wilayah ini pun menjadi bagian dari negara Majapahit yang mampu mempersatukan Nusantara hingga Filipina dan Kamboja.

“Karena merupakan penghasil rempah-rempah, Kepulauan Banda menjadi incaran dari berbagai bangsa dan berbagai cara. Misalnya ekspedisi Cristopher Colombus yang dibiayai Ratu Issebela dan Raja Spanyol untuk mencari kepulauan ini tapi pada akhirnya hanya menemukan kepulauan Carbian-West Indies. Dan justru Colombus terkenal dengan teori Bumi Bulat dan hanya menemukan benua baru (daratan Amerika-red),” tandasnya.

Dengan kata lain, sebelum melakukan pelayaran, antara Portugis dan Spanyol tengah membuat kesepakatan untuk tiba di Maluku karena keunggulan rempah-rempahnya. Keduanya pun mensepakati jalur tempuh, Spanyol ke barat dan Portugis ke timur. Alhasil di abad 16, keduanya pun akhirnya bertemu di Maluku.

Foto Bersama – Para Pembicara Seminar Nasional di Unkhair

Sedangkan Ardinanda Sinulingga yang merupakan Mahasiswa Universitas Pertahanan jurusan Maritime Security lebih mengurai tentang Maluku dan Maluku Utara sebagai potensi pertahanan yang berbatasan langsung dengan Filipina dan Palau. Pasalnya dalam sejarah Perang Dunia II, daerah ini menjadi ajang perebutan antara Jepang dan Sekutu.

“Dengan maraknya ancaman di sekitar Perairan Maluku, sudah selayaknya pemerintah memprioritaskan pembangunan banyak Pangkalan TNI AL di wilayah ini,” ujar Ardinanda.

Dari masa sejarah baik pada zaman VOC hingga Perang Dunia II, daerah Maluku dan Maluku Utara tambah Papua merupakan daerah strategis yang memiliki banyak potensi dalam perwujudan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Maka dari itu sudah selayaknya pemerintah dengan program Nawacita-nya menjadikan daerah tersebut sebagai prioritas pembangunan.

Selesai pemaparan dan Tanya jawab dari ketiga pembicara, piha Unkhair kemudian menyerahkan cinderamata sebagai kenang-kenangan yang dilanjutkan dengan ramah tamah dan foto bersama.(DIT)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Pelindo Konsisten Jaga Kelestarian Lingkungan Laut

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) konsisten…

8 hours ago

Kunjungan Sosial Kopkar TPK Koja Ke GMMI

Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka meningkatkan kepedulian terhadap anak yatim.piatu, Koperasi Karyawan (KOPKAR) Terminal Petikemas…

3 days ago

Pelindo Panjang: Optimalisasi dan Sinergi, Kunci Pertumbuhan Positif

Bandar Lampung (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Panjang mencatat kinerja operasional yang…

4 days ago

IPC TPK Catat 850 Ribu TEUs di Triwulan I 2026

Jakarta (Maritimnews) - PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) berhasil menjaga kinerja operasional secara solid…

4 days ago

Masa Lebaran 2026, Arus Penumpang Pelindo Meningkat 14,14%

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) mencatat kinerja operasional yang positif dalam melayani angkutan…

5 days ago

Pelabuhan Kita Masih Berdiri di Atas Fondasi yang Rapuh

Ini bukan soal satu atau dua pelabuhan yang perlu diperbaiki. Ini adalah kegagalan sistemik yang…

6 days ago