KRI Bung Tomo 357 melakukan latihan dengan kapal perang dari Jerman FGS Erfurt di Perairan Mediterania.
MNOL, Jakarta – Kiprah KRI Bung Tomo (TOM)-357 dalam Satgas Maritim TNI Kontingen Garuda XXVIII-H/UNIFIL TA. 2015 di Lebanon kian menunjukan kegemilangannya sebagai bagian dari Naval Diplomatic Mission TNI AL. Sejarah UNIFIL akan mencatat, bahwa pada tanggal 4 April 2016 sejumlah kapal perang dari berbagai negara participant MTF UNIFIL berkumpul di Beirut Port untuk melaksanakan event yang langka terjadi di sela-sela kapal harus melaksanakan On Task di Area of Maritime Operations (AMO).
Kapal-kapal perang tersebut biasanya secara bergiliran melaksanakan pengamanan di Area of Maritime Operations (AMO) dan Territorial Water (TTW) Lebanon, dalam melaksanakan tugas pokoknya sebagai unit MTF UNIFIL sesuai United Nations Security Council Resolution 1701.
Di antara tugas tersebut ialah mengawasi genjatan senjata, membantu dan mendukung LAF (Lebanese Armed Force) untuk meningkatkan kekuatan di daerah selatan dan menjaga interfensi kekuatan militer Israel di Lebanon. Selanjutnya mengkoordinasikan segala aktivitas dengan pemerintahan Lebanon dan Israel, memberikan bantuan dan memastikan akses dengan prinsip perikemanusiaan kepada populasi sipil serta sukarelawan dan personel yang tidak pada tempatnya kembali aman, membantu LAF mengambil langkah stabilisasi antara blue line dan sungai Litani bebas dari personel militer beserta alat tempur dan persenjataan di luar dari pemerintahan Lebanon dan UNIFIL dan terakhir yaitu membantu pemerintah Lebanon mengamankan perbatasan dan pintu masuk untuk mencegah masuknya persenjataan illegal.
Sejumlah tugas tersebut dijabarkan kembali ke dalam Tugas Pokok Maritime Task Force (MTF) yaitu melaksanakan patroli di perairan Territorial Lebanon guna mencegah penyelundupan senjata illegal masuk ke wilayah Negara Lebanon, serta meningkatkan profesionalisme personel Lebanese Armed Forces-Navy (LAF-Navy) melalui berbagai pelatihan. Pada hari tersebut, sejumlah kapal perang dari Brazil (BRS Independencia), Indonesia (KRI Bung Tomo), Jerman (FGS Erfurt), Turki (TCG Gurbet), Yunani (HS Roussen) dan Bangladesh (BNS Ali Haider dan BNS Nirmul) hadir guna melaksanakan Commanding Officers Conference dengan pimpinan MTF Commander.
Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengevaluasi operasi, penyampaian MTF Commander Guidance, penyelarasan strategi operasi bersama yang diikuti oleh seluruh Komandan Kapal dan Kepala Departemen Operasi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh maritimnews.com dari Pen Satgas Maritim Konga, pada kesempatan tersebut, MTF Commander Rear Admiral Claudio Henrique Mello De Almeida, menyampaikan pemaparannya sebagai Commander Guidance. Antara lain; guna mencapai keberhasilan misi agar terjalin komunikasi yang baik dan melaporkan segala hal yang terjadi dengan segera, mengutamakan prinsip-prinsip keselamatan dan kesiapsiagaan seluruh unsur MTF.
Sambung Almeida, pelaksanaan patroli pengawasan di daerah AMO guna melaksanakan MIO (Maritime Interdiction Operation) perlu pemberian pelatihan bagi personel LAF-Navy dan latihan sesama unsur MTF, menjaga disiplin dan perilaku seluruh personel yang tergabung dalam Satgas MTF, penggunaan Brazilian House bagi seluruh personel MTF, dan untuk peringatan 10 tahun MTF pada Oktober 2016 mendatang. Selebihnya komandan unsur MTF akan bertanggung jawab pada setiap pelaksanaan tugas.
Sementara itu, Dansatgas Maritim TNI Kontingen Garuda XXVIII-H/UNIFIL TA. 2015 Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan, S.T. pada kesempatan tersebut menyampaikan isu-isu strategis guna meningkatkan sinergisitas operasi bersama antara lain dalam evaluasi pencapaian operasi yang diraih oleh KRI Bung Tomo-357.
“Sampai saat ini pelaksanaan Hailing masih pada peringkat tertinggi di antara seluruh kapal perang yang tergabung dalam MTF. Di mana 730 hailing dalam 6 bulan pelaksanaan operasi di Lebanon, diperlukan upaya peningkatan metode pelatihan bagi LAF Navy untuk mencapai kemandiriannya mengamankan Teritorial Water Lebanon,” ungkap Yayan.
Lebih lanjut lulusan AAL tahun 1993 itu menyatakan kapal perang merupakan High Value Aset Strategis yang harus dipertanggung jawabkan oleh setiap komandan kapal kepada negaranya. Oleh karena itu diperlukan kesamaan tindak dalam berbagai aksi di lapangan untuk mengutamakan keselamatan personel dan material yang menjadi tanggung jawabnya.
Menurutnya, momentum tersebut sangat strategis karena di antara Angkatan Laut yang tergabung dalam MTF merupakan para Angkatan Laut modern yang sangat diperhitungkan pada tataran global. Diterimanya rekomendasi serta gagasan-gagasan dari Satgas Maritim TNI Kontingen Garuda XXVIII-H/UNIFIL untuk diimplementasikan dalam operasi sebagai bukti salah satu keberhasilan Naval Diplomatic Mission oleh TNI AL dalam mendukung program Nawa Cita yang dicanangkan oleh Pemerintah RI guna menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
“Itu harus didukung oleh kekuatan Maritim Indonesia yang kuat dan TNI Angkatan Laut yang disegani. Oleh karena itu dalam setiap event, interaksi dalam konteks multilateral harus menunjukkan kualitas personel,” terangnya.
Masih kata Yayan, personel yang memiliki profesional tinggi akan setara dan diperhitungkan oleh negara lain. Begitu juga dengan performa kapal perang dengan segala atribut kesenjataannya yang terpelihara dan terawat dengan baik akan menjadi faktor utama diperhitungkannya Angkatan Laut suatu negara.
“Ya tentunya itu akan berdampak pada kewibawaan negara, terutama dalam menjalankan Amanat Pembukaan UUD 1945 untuk melaksanakan ketertiban dunia,” pungkasnya usai mengikuti kegiatan Commanding Officers Conference di kapal perang Brazil.
Selesai kegiatan tersebut seluruh kapal perang yang tergabung dalam CTG 448 MTF langsung melaksanakan manuver lapangan dan KRI TOM-357 melakukan latihan dengan kapal perang dari Jerman FGS Erfurt di Perairan Mediterania. (TAN)
Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka meningkatkan kepedulian terhadap anak yatim.piatu, Koperasi Karyawan (KOPKAR) Terminal Petikemas…
Bandar Lampung (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Panjang mencatat kinerja operasional yang…
Jakarta (Maritimnews) - PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) berhasil menjaga kinerja operasional secara solid…
Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) mencatat kinerja operasional yang positif dalam melayani angkutan…
Ini bukan soal satu atau dua pelabuhan yang perlu diperbaiki. Ini adalah kegagalan sistemik yang…
Ditulis oleh: Arief Poyuono Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang berada di kisaran 5 %…