Categories: GeopolitikHLTerbaru

Pertemuan Xanana dengan Menko Polhukam Wiranto Bahas Tumpahan Minyak

Wiranto dan Xanana Gusmao

MNOL, Jakarta –  Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto bertemu dengan Menteri Perencanaan Pembangunan dan Investasi Timor Leste, Xanana Gusmao untuk membahas persoalan sengketa perbatasan perairan antara Indonesia, Timor Leste dan Australia yang minggu depan akan disidangkan di Mahkamah Internasional Den Haag, Belanda.

Pertemuan tersebut berlangsung di Restoran Bunga Rampai, Menteng Jakarta Pusat, Minggu (21/8) malam.

Sebelum pertemuan tersebut berlangsung, Ketua Umum Partai Hanura itu menyambangi kediaman mantan Presiden BJ Habibie di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (19/8).

Wiranto menyebutkan, bahwa pertemuannya dengan Habibie dilakukan dalam rangka silahturahim.

Ia juga berkata Habibie menyampaikan beberapa hal yang harus dilakukan dirinya setelah diangkat menjadi Menko Polhukam.

“Intinya saya datang ke sini selain silahturahim juga minta doa restu. Beliau juga menyampaikan beberapa pesan kepada saya mengenai tugas yang harus saya lakukan sebagai Menko Polhukam,” ujar Wiranto.

Bila dikaji lebih dalam dua pertemuan yang berlainan hari tentunya memiliki keterkaitan. Sebab, baik Wiranto dan Habibie merupakan tokoh yang memberikan referendum Timor Leste yang saat itu masih menjadi bagian dari NKRI.

Minyak Dulu Baru Perbatasan

Timor Leste sendiri saat ini sedang dirundung masalah perbatasan dengan Australia. Pasalnya, negara yang baru berumur jagung ini merugi miliaran dolar dari eksplorasi kilang minyak dan lapangan gas lepas pantai di Laut Timor.

Sebab dalam wilayah perairannya terdapat bidang minyak dan gas multi-miliar dolar namun hal itu dikelola oleh Australia.

Menurut Perdana Menteri Timor Leste, Rui Maria de Araujo pihaknya sudah memiliki perjanjian pembagian hasil dalam pengelolaan Sumber Daya Alam tersebut.

Namun, pihaknya belum menentukan batas perairan dengan Australia. Begitu juga batas perairan dengan Indonesia.

Rui Maria de Araujo juga menyebutkan, pihaknya sempat mengajak Australia untuk berunding. “Namun Australia menolak melakukannya meski kami telah berulang kali mengundang untuk duduk bersama membahas masalah ini,” tuturnya.

Australia juga disebut menyadap kantor kabinet Timor Leste selama berlangsungnya proses negosiasi  perjanjian yang akan membagi pendapatan dari lapangan minyak dan gas Greater Sunrise senilai 40 miliar dolar AS. (RM/MN)

 

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Pasca HoA, Pelindo Godok Draf Kerja Sama PINP

Jakarta (Maritimnews) - Pasca launching Pelindo Indonesia Network Pendulum (PINP) dan menandatangani Heads of Agreement…

14 hours ago

Pelindo Regional 4 Kunjungi KPPU Makassar, Perkuat Persaingan Sehat Jasa Kepelabuhanan

Makassar (Maritimnews) – PT Pelindo (Persero) Regional 4 mengunjungi kantor Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)…

1 day ago

IPCC Gelar Public Expose 2026

Jakarta (Maritimnews) – PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IDX:IPCC), anak perusahaan PT Pelindo Multi Terminal…

4 days ago

Pelindo Gelar Coffee Morning, Sosialisasikan peralihan Nota Layanan Jasa Barang Non Petikemas

Jakarta (Maririmnews) - Dalam rangka meningkatkan sinergitas hubungan kerja sama yang telah terjaga dengan baik,…

5 days ago

TPS Gelar Safety Drill Hadapi Cuaca Ekstrem

Surabaya (Maritimnews) – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menggelar Safety Drill Angin Kencang di area…

1 week ago

TPK Koja Gelar Pelindo Mengajar 2026 di SMAN 8 Yogyakarta

Yogyakarta (Maritimnews) - KSO Terminal Petikemas Koja (TPK Koja) menggelar Program Pelindo Mengajar sebagai bagian…

2 weeks ago