Categories: OpiniTerbaru

Thai-Canal, Mimpi atau Langkah Nyata?

Oleh : Ir. Sjaifuddin Thahir, MSc.*

Thai Canal ditujukan untuk memperpendek pelayaran tanpa melalui Selat Malaka

MN – Tentunya kita berharap Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia lebih cepat menjadi kenyataan. Ternyata, kita dengan negara lain seperti Thailand juga mempunyai program yang seiring yaitu mewujudkan poros maritim dunia. Thailand dengan mega proyek Thai-Canal-nya dimaksudkan untuk memperpendek jalur perdagangan, yang selama ini lewat selat Malaka.

Pembahasan pembangunan Terusan Thailand (Thai Canal) telah dimulai lagi yaitu dengan menyiapkan langkah-langkah strategis pembangunan sepanjang 100-kilometer. Banyak Negara-negara di dunia berkepentingan dengan terwujudnya program ini. Kelompok kerja telah dibentuk oleh beberapa perusahaan konstruksi dari China dan Negara-negara lain.

Thai-canal ini adalah masa depan Thailand yang terletak di Tanah Genting Kra. Namun masa depan program ini tidak sepenuhnya berada di tangan Thailand, tetapi juga Negara-negara lain yang berkepentingan. Negara-negara lain akan berkepentingan dan diperkirakan akan berkontribusi menyertakan modal serta pengaruh politiknya dalam merealisasikan ide lama ini. Thailand berharap ide ini bisa menjadi kenyataan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Selat Malaka merupakan pintu gerbang menuju ke Samudera Hindia dari kawasan Asia-Pasifik. Hal itu memungkinkan transportasi yang strategis dengan pelayaran pengangkut minyak mentah dan sumber daya lainnya untuk banyak pelabuhan di Asia Timur, misalnya Manila ke Tokyo. Ini seharusnya kita pertahankan kinerjanya.

Rute perdagangan ke Samudera Hindia melalui Selat Malaka mencatat banyak permasalahan, antara lain pembajakan di laut, adanya bangkai-bangkai kapal di dasar laut, timbulnya kabut asap dan emisi, serta banyak sedimen dan lain-lain. Selat Malaka dikabarkan memiliki tingkat kecelakaan dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan lewat Terusan Suez dan empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan lewat terusan Panama (China Daily Mail, March 16, 2014).

Dengan dasar tersebut, usulan untuk membangun terusan melalui Thailand sebagai rute pelayaran internasional alternatif dari Selat Malaka, dibuka kembali. Thai-canal secara signifikan akan dapat memangkas jarak pelayaran dari Asia Timur ke Terusan Suez dan Eropa, menurut Executive Intelligence Review.

Lalu lintas Selat Malaka meningkat setiap tahun sebesar 20%. Selat Malaka sangat sibuk yang diperkirakan seperlima dari perdagangan dunia, sehingga menyebabkan kemacetan dan akhirnya dapat meningkatkan biaya perdagangan. Sehingga tidak mengherankan bahwa gagasan pembangunan terusan melalui Thai-Canal menjadi topik yang sangat menarik bagi trader internasional, geo-strategi dan di IMO.

Thai-Canal dapat menjadikan beberapa negara di sekitar Selat Malaka akan terpengaruh meskipun selat ini akan selalu strategis untuk kegiatan perdagangan lewat laut. Sehubungan dengan konsekuensi pembangunan Thai-Canal ini, berikut beberapa spekulasi kekhawatiran:

  • Thai Canal akan mengubah lanskap strategis dan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik.
  • Sementara Malaysia dan Singapura diperkirakan akan terpengaruh menderita,
  • Myanmar, Kamboja, dan Vietnam akan mendapatkan keuntungan yang besar dari Thai Canal.
  • Namun, proyek ini akan menjadi kesempatan dan platform untuk negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia untuk melakukan kerjasama perdagangan yang saling menguntungkan.
  • Secara politik, India, Jepang dan China tertarik dalam mengembangkan kanal ini karena akan memberikan kontribusi finansial dan pengaruh politik dalam menempatkan ide lama ini ke dalam praktek.
  • Sebuah inspirasi membangun terusan Thailand bisa mengubah lanskap politik dan ekonomi dari seluruh wilayah.

Dari analisa tersebut, apakah Thai-Canal ini merupakan mimpi saja atau satu langkah nyata? Kita buktikan nanti.

 

*Penulis adalah Divisi Asset PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI)

Mobile : 0817188831

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Program Jejak Pelabuhan, Mahasiswa/i UI Kunjungi IPC TPK

Jakarta (Maritimnews) - Kunjungan Mahasiswa dan Mahasiswi Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia (UI) ke…

2 days ago

IPC TPK Gelar Pelatihan Keterampilan Bagi Perempuan Penyandang Disabilitas di Pontianak

Pontianak (Maritimnews) - Dukungan perusahaan IPC Terminal Petikemas terhadap Asta Cita ke-4 Pemerintah Republik Indonesia…

2 days ago

Sinergi Operasional IPC TPK dan PTP di Teluk Bayur

Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Area Teluk Bayur bersama PT Pelabuhan Tanjung…

3 days ago

IPC TPK Jambi Dukung Kelancaran Ekspor Kayu Manis ke Mancanegara

Jambi (Maritimnews) - Indonesia adalah produsen dan eksportir utama kayu manis global, menguasai sekitar 41%…

3 days ago

Barang Kami Tertahan, Bisnis Kami Pun Ikut Berhenti

Dwelling time yang masih jauh di atas standar internasional bukan sekadar masalah teknis kepelabuhanan —…

5 days ago

Pelindo Perkuat Sinergitas Optimalisasi Terminal Kijing, Akses Jalan jadi Prioritas

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) memperkuat sinergitas optimalisasi Terminal Kijing Mempawah Kalimantan Barat…

1 week ago