Categories: DiplomasiOpiniTerbaru

Mengulas peran Gunboat Diplomacy saat ini (Bagian I)

Ilustrasi: Gunboat Diplomacy oleh KRI Dewaruci

Oleh: Letkol Laut (P) Dickry Rizanny N., MMDS*

Speak softly and carry a big stick; You will go far. (Theodore Roosevelt – Diplomacy)

Diplomasi secara sederhana dapat diartikan sebagai manajemen dalam hubungan internasional. Sehingga diplomasi maritim dapat didefinisikan sebagai manajemen dalam hubungan internasional melalui domain maritim. Pengertian ini bukan berarti penggunaan diplomasi untuk mengatur permasalahan maritim melalui kodifikasi hukum internasional, namun lebih pada penggunaan aset maritim dalam mengatur hubungan internasional itu sendiri.

Gunboat Diplomacy

Gunboat Diplomacy mulai dikenal sejak abad 19 yaitu pada saat kapal-kapal perang negara Eropa bermanuver di sepanjang pantai perairan negara-negara kecil yang akan direbut dengan terus menembakkan meriam ke arah darat, dengan tujuan untuk mendapatkan pengaruh dalam memenangkan diplomasi dan agar negara sasaran menyerahkan diri. Pada perkembangannya, prinsip diplomasi ini digunakan oleh negara-negara adikuasa untuk menguasai negara lain dengan taktik imperialisme, menggunakan kekuatan militer yang tidak seimbang dan memanfaatkan kondisi belum adanya hukum internasional yang berlaku terutama mengenai penjajahan dan intimidasi antar negara.

Baru pada awal tahun 2000, ketika kekuatan di dunia mulai berubah ke arah kekuatan multipolar, negara-negara yang dulunya merupakan korban dari gunboat diplomacy, misalnya China, India dan Korea Selatan, mulai menggunakan diplomasi yang serupa demi mencapai tujuan negara masing-masing.

Gunboat diplomacy bukanlah suatu aktivitas atau taktik kuno yang telah ketinggalan jaman. Saat ini, diplomasi ini masih digunakan baik oleh negara yang sudah maju maupun negara berkembang dalam mendukung tujuan nasional mereka.

Dengan berkembangnya taktik kolonialisme dan berlakunya hukum internasional yang mengikat, prinsip gunboat diplomacy tetap digunakan dengan mempertahankan relevansi terhadap tujuannya, yaitu untuk mengejar atau mendapatkan suatu tujuan atau kepentingan suatu negara dengan cara memaksa negara lain, tanpa menimbulkan konflik berskala besar dan menggunakan anggaran yang besar.

Secara nyata, gunboat diplomacy tidak pernah ditinggalkan dan tidak pernah berubah secara prinsip, namun yang berubah adalah karakternya atau strateginya. Sebagai contoh, pada bulan Desember 2011 sampai Januari 2012, dalam latihan Velayat 90, AL Iran menunjukkan kemampuan mereka dalam menembakkan Sub-Surface to Surface Missile (rudal dari kapal selam ke kapal permukaan). Tujuan latihan ini untuk mengirim pesan kepada negara lain, terutama yang melintas Selat Hormuz, bahwa apabila merasa terancam, Iran mampu untuk menutup selat tersebut.

Selat Hormuz adalah selat yang sangat penting dan sangat menentukan dalam diplomasi maritim di kawasan Timur Tengah, terutama AS dan sekutunya. Beberapa hari kemudian, USS Abraham Lincoln, kapal induk terbesar AL Amerika Serikat, dengan dikawal kapal-kapal Cruiser dan Destroyer AL Amerika serta frigate AL Inggris dan AL Perancis, berlayar melintas Selat Hormuz.

Pelintasan selat ini memang merupakan rotasi rutin dalam skema operasi kapal induk AL Sekutu di perairan Teluk Persia. Di samping itu, flotilla kapal tersebut sekaligus memberikan pesan jelas kepada dunia internasional, bahwa AL sekutu mampu memberikan respons cepat, khususnya dalam menghadapi kekuatan Iran. Apa yang dilaksanakan AL Iran dan AL Sekutu merupakan bentuk gunboat diplomacy kontemporer. Tujuan mereka sama yaitu saling unjuk kekuatan untuk mempengaruhi opini pengambil kebijakan dan perkembangan lingkungan strategis.

Di kawasan Asia, diplomasi ini juga digunakan. Asia Timur merupakan kawasan yang sangat krusial dan sering terjadinya tipe diplomasi ini. Contoh yang paling jelas adalah pada Juli 2010, USS George Washington berpartisipasi dalam latihan bersama Invicible Spirit di Laut Jepang. Latihan ini dilaksanakan untuk memberikan jawaban atas kejadian tenggelamnya kapal jenis korvet Cheonan milik AL Korea Selatan sebelumnya.

Latihan bersama Korea Selatan dan Jepang ini merupakan respons untuk menunjukkan kemampuan dan kekuatan sekaligus menunjukkan niat US dalam membantu Korea Selatan terhadap potensi ancaman dari Korea Utara.

Sehingga jelas adanya bahwa gunboat diplomacy tidak pernah hilang dalam operasi angkatan laut di seluruh dunia. Penerapannya yang berbeda dipengaruhi adanya kemajuan teknologi militer, misalnya drone, rudal dan satelit. Di peperangan era modern, penggunaan kapal frigate, destroyer, rudal jarak jauh, membuat pengertian gunboat diplomacy terlihat ketinggalan jaman dan kuno. Namun secara prinsip, cara berdiplomasi ini sudah sangat matang dan sudah seharusnya di update kemudian di definisikan ulang sebagai Maritime Diplomacy.

Terlebih dengan perkembangan dimensi peperangan maritim dan peran angkatan laut yang berlainan, diplomasi menjadi salah satu bagian dari peran sejumlah operasi angkatan laut, yaitu penyebutan gunboat diplomacy menjadi coercive maritime diplomacy. Perkembangan karakter diplomasi juga membentuk dua jenis diplomasi maritim lainnya yang berkembang saat ini, yaitu co-operative maritime diplomacy dan persuasive maritime diplomacy.

Co-operative Maritime Diplomacy

Co-operative maritime diplomacy atau diplomasi maritim kerja sama dilaksanakan dengan berbagai cara, misalnya Port calls (kunjungan), Joint Exercises and Trainings (latihan dan pelatihan gabungan) dan melalui Persuasive maritime diplomacy (diplomasi maritim pendekatan) dimana diplomasi ini dilaksanakan melalui memanfaatkan peran kehadiran angkatan laut di suatu kawasan. Persamaan kedua diplomasi ini adalah lebih cenderung menggunakan cara pendekatan yang lunak, tanpa menunjukkan dan menggunakan hard power.

Sebagai contoh, pada tahun 2010, AL China mengirimkan Peace Ark, kapal rumah sakit tipe 920, ke Jibouti, Kenya dan Tanzania dalam rangka memberikan bantuan logistik dan perawatan medis. Peace Ark datang dan disambut dengan senyuman dan welcome dari penduduk Afrika. Pengiriman kapal ini memang terlihat seperti kerja sama yang menguntungkan, yaitu memberikan bantuan dan pinjaman sumber daya dalam membantu kemiskinan di Afrika.

Peace Ark

Namun, yang patut dipertanyakan adalah, mengapa AL China bersikeras membangun Peace Ark yang berbobot 10.000 ton yang hanya berfungsi sebagai kapal rumah sakit dan mengirimkan ke Afrika dengan anggaran yang sangat besar? Tentunya ada maksud dan tujuan di balik aksi tersebut.

Misi tersebut memiliki keuntungan diplomasi dan efek yang sangat kuat terhadap kehidupan bernegara. Peace Ark mengirim pesan perdamaian, membangun kepercayaan terhadap negara yang dibantu, memperkuat hubungan diplomatik dan mendorong persepsi bahwa China adalah negara yang ramah. Persepsi keramahan inilah yang merupakan tujuan pokok China, apalagi jika dikaitkan dengan pertanyaan ada apa dibalik pembangunan kekuatan angkatan bersenjata China, terutama angkatan lautnya yang sangat pesat.

China hanya ingin memberikan persepsi bahwa negaranya adalah negara yang ramah dan cinta damai. China juga berusaha menghilangkan persepsi bahwa pembangunan kekuatan militer yang pesat dari AL China, bukanlah untuk tujuan yang berperang atau keinginan untuk mencaplok negara lain.

Selain Peace Ark, AL China juga menggunakan kapal latih Zheng He dalam melaksanakan diplomasi, yaitu dengan melaksanakan pelayaran keliling dunia dan berkunjung ke pangkalan-pangkalan negara lain, baik negara besar maupun negara kecil. Pada tahun 1989 adalah merupakan pertama kalinya kapal AL China berkunjung ke pangkalan Amerika Serikat di Hawaii.

Kunjungan ini bertujuan bukan saja untuk menunjukkan misi diplomasi dan membangun pengaruh terhadap sekutu, namun juga memastikan potensi rival dan musuh, dalam hal ini Amerika itu sendiri. Indonesia juga melakukan hal yang sama dengan mengirimkan KRI Dewaruci melaksanakan pelayaran keliling dunia dan singgah di negara lain dengan misi sama dengan Zheng He, yaitu berdiplomasi melalui kerja sama.

Dengan mempelajari apa yang dilakukan Peace Ark dan Zheng He, dengan dua jenis operasi yang berbeda, Zheng He adalah kapal latih yang mempunyai misi goodwill ke negara-negara maju dan berkembang. Peace Ark adalah kapal rumah sakit yang memberikan bantuan kemanusiaan di beberapa negara miskin di dunia.

Dapat disimpulkan bahwa bentuk kedua diplomasi tersebut merupakan bagian dari diplomasi maritim yang mengutamakan kerja sama. Dua diplomasi modern di atas adalah contoh yang sangat sempurna untuk menerangkan tentang konsep diplomasi maritim saat ini secara luas, yang merupakan contoh pelaksanaan diplomasi maritim kerja sama (co-operative Maritime Diplomacy).

Di dalam cooperative maritime diplomacy sendiri dapat melibatkan bermacam-macam aktor maritim, misi dan agen-agen maritim yang berlainan dalam suatu operasi yang mirip dan kohesif. Yang patut dijadikan patokan bahwa, pertama, kata cooperative/kerja sama adalah penting. Sebagai contoh adalah diplomasi yang dikemas dalam operasi bantuan kemanusiaan dan bencana alam. Kerja sama lebih dikedepankan baik antara sekutu maupun musuh dalam membantu korban bencana dan melaksanakan operasi bersama dengan koordinasi antar aktor maritim.

Kedua, cooperative maritime diplomacy dilaksanakan antar negara yang mempunyai tujuan politis yang sama, yaitu untuk mencari pengaruh, koalisi/aliansi dan kepercayaan. Diplomasi ini tidak bertujuan untuk menggertak, menghalangi, memaksa, atau membujuk dengan kekuatan. Diplomasi ini lebih mengutamakan metode untuk menarik perhatian, kooptasi dan usaha untuk menginspirasi negara lain.

Operasi Militer Selain Perang dan Soft Power

Perkembangan teknologi pada kapal perang dan bertambahnya peran yang diemban kapal perang, seperti helikopter organik, persenjataan, sekoci tempur, memberikan pilihan bahwa operasi kapal perang tidak hanya untuk berperang, tapi juga dapat digunakan untuk mendaratkan pasukan di daratan yang minim infrastruktur dan memberikan bantuan ke area yang sulit di akses. Sehingga, angkatan laut saat ini mampu mengemban bahwa peran dan fungsi selain perang adalah lebih penting dan lebih diperlukan dunia daripada perang itu sendiri, misalnya bantuan kemanusiaan, bencana alam.

Misi Sosial, salah satu bentuk OMSP yang biasa dilakukan oleh Angkatan Laut

Penggunaan kapal perang untuk operasi militer selain perang telah ditunjukkan negara-negara adikuasa sekaligus sebagai sarana diplomasi demi kepentingan negara masing-masing. Jika dulu, apabila kapal induk Amerika lengkap dengan gugus tempurnya hadir di suatu perairan, terutama di wilayah negara-negara yang mayoritas muslim.

Maka muncul kecurigaan akan terjadinya penggunaan kekuatan laut untuk kepentingan Amerika. Namun saat ini persepsi tersebut berubah. Sebagai contoh, pada saat bencana alam tsunami, 24 buah kapal perang US hadir di pesisir pantai Aceh dalam melaksanakan misi kemanusiaan, sehingga mengesampingkan persepsi dan kecurigaan tersebut.

Saat ini, bentuk bantuan kemanusiaan dan bencana alam ini lebih memiliki efek diplomatis yang dapat mempengaruhi dalam kehidupan antar negara. Penggunaan angkatan laut dalam niat baik juga dapat memberikan penekanan bahwa militer juga dapat digunakan dalam operasi militer selain perang.

Buktinya adalah pada tahun 2010, di depan Parlemen Australia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan kebanggaan dalam melihat pasukan Australia dan TNI bekerja bersama dalam menyelamatkan nyawa dan meringankan penderitaan korban bencana alam tsunami. Ini menunjukkan fakta bahwa setelah 5 tahun sebelumnya Australia memimpin intervensi internasional terhadap Timor Timur, tentara Australia masih diterima oleh Indonesia.

Dapat kita lihat bagaimana kekuatan dan kemampuan good will dalam membantu korban bencana alam dan kemanusiaan mampu memberikan efek yang positif dalam diplomasi antara negara dengan memenangkan hati dan pikiran rakyat Indonesia.

Diplomasi yang bertujuan untuk memenangkan hati dan pikiran rakyat atau negara yang dituju oleh Joseph Nye disebut sebagai Teori Soft Power. Dalam bukunya, Joseph S. Nye, Jr (2004) menjelaskan bahwa “Soft Power is getting others to want the outcome that we want and rests on ability to shape the preferences of others.” Soft Power adalah aksi mempengaruhi orang lain untuk ikut menginginkan apa yang kita inginkan dan sangat bergantung pada kemampuan untuk membentuk pemikiran orang lain tersebut.

Pembentukan pemikiran tersebut tidak didapatkan melalui paksaan (coercion), namun dengan menunjukkan personalitas yang menarik, budaya, nilai politik dan institusi, jalan hidup atau kebijakan yang lebih bermoral dan resmi. Dengan melihat contoh-contoh diatas, sangat jelas bahwa pengaruh bantuan Peace Ark dan Zheng He terhadap kemanusiaan dan bencana alam lebih memberikan efek diplomatis yang lebih besar daripada “Invasi Sekutu ke Iraq pada tahun 2003.”

Sehingga dapat disimpulkan, co-operative maritime diplomacy dapat merupakan sebuah aksi dalam mendukung soft power melalui penggunaan aset hard power. Atau dengan kata lain disebut sebagai “soft maritime diplomacy”, dimana tipe ini sangat bertolak belakang dengan “hard maritime diplomacy” yang merupakan aplikasi dari gunboat diplomacy yang cenderung menggunakan persenjataan demi memaksakan kehendak.

Dalam kenyataannya, co-operative maritime diplomacy ini terbukti sering memberikan hasil nyata dalam mempengaruhi pemikiran negara lain dan dalam memperkuat aliansi. Latihan bersama dengan angkatan laut negara lain akan lebih efektif dalam membentuk kapasitas, serta dapat membangun hubungan pertemanan yang membuat angkatan laut lebih kompatibel dalam melaksanakan operasi bersama. Latihan gabungan dan operasi pengamanan maritim bersama dapat membentuk suatu koalisi, membangun confidence building measures (CBM), dan tercapai harmonisasi di antara negara-negara yang berbeda.

Seorang Admiral dari AL Kanada, Rear Admiral Bob Davidson memberikan pandangannya mengenai Modern Naval Diplomacy, bahwa diplomasi maritim dapat dilihat adalah suatu operasi angkatan laut yang bertujuan untuk mencari pengaruh (maritime influence). Dia menggambarkan “kapal perang adalah duta besar mini, mewakili negara dan kepentingannya serta pengaruhnya di setiap pelabuhan yang disinggahi”.

Dalam artikelnya bahwa “the modern naval deployment has potential far beyond the limited concept of gunboat diplomacy. Maritime influence operations … can be conceived and implemented with a view to enhancing Canada’s reputation in a broad spectrum of areas that cross the boundaries of many government departments.”(Penggunaan kekuatan angkatan laut yang modern mempunyai potensi yang lebih daripada konsep gunboat diplomacy. Operasi maritim yang bertujuan untuk mencari pengaruh ….dapat dipahami dan diimplementasikan untuk meningkatkan reputasi Kanada di spektrum yang luas dimana dapat melebihi batas-batas peran departemen pemerintah yang lain).

Dapat disimpulkan bahwa, penggunaan kekuatan angkatan laut untuk keperluan diplomasi tidak hanya untuk kepentingan perang, namun dapat berpotensi mendapatkan hal-hal lain atau tujuan diplomasi suatu negara yang seharusnya dilaksanakan oleh departemen pemerintahan atau lembaga lainnya. Kesimpulan ini sesuai dengan apa yang dituliskan Geoffrey Till dalam bukunya Sea Power (2004), yaitu angkatan laut memiliki rentang kemampuan yang luas sehingga mengharuskan mereka untuk melaksanakan peran-peran yang biasanya sulit dikerjakan oleh angkatan militer lain.

Bersambung….(Bagian II)

*Penulis adalah lulusan AAL tahun 1998, saat ini berdinas di Srena Koarmatim

 

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Pagar Laut Tangerang dan Ujian Keadilan Ekologis Negara

Kasus pagar laut di pesisir Kabupaten Tangerang merupakan pengingat bahwa persoalan lingkungan hidup tidak pernah…

6 hours ago

NPCT 1 Pelabuhan Priok ECO Friendly, Hadirkan E-PM

Jakarta (Maritimnews) - Komitmen PT Pelabuhan Indonesia (Persero) mendorong transformasi layanan kepelabuhanan, termasuk menghadirkan fasilitas…

8 hours ago

Throughput IPC TPK Panjang Tahun 2025 Tumbuh Signifikan

Bandar Lampung (Maritimnews) - Transformasi layanan dan penguatan daya saing terminal berdampak pada peningkatan arus…

10 hours ago

KNPI: Peran Bapenda Tangerang dan Lemahnya Pengawasan Kepala Daerah Buka Jalan Korupsi Tanah Kohod Pagar Laut Rp16,5 M

Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) menilai penerbitan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang…

17 hours ago

Penguatan Operational & Service Excellence, Komitmen IPC TPK 2026

Jakarta (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) memantapkan arah strategis perusahaan tahun 2026 melalui…

2 days ago

Negara Jangan Jadi Penonton: Pagar Laut Bukti Hukum Masih Tumpul ke Oligarki

Pegiat pesisir dan laut Auhadillah Azizy menyebut kasus pagar laut di Kabupaten Tangerang sebagai kejahatan…

2 days ago