Published On: Wed, Oct 24th, 2018

Games of Thrones dan Konflik Laut China Selatan

Kapal Induk Liêu-Ninh-1 di Laut China Selatan

Oleh: Dedi Gunawan Widyatmoko, SE, MMPol.*

MN – Geoffrey Till, ahli sejarah maritim dan strategi maritim dari Inggris dalam bukunya Seapower, A guide for the twenty-first century menerjemahkan seapower menjadi 2 aspek: input dan output. Seapower sebuah negara sebagai input terdiri dari kekuatan Angkatan Laut, Coastguard, Industri Maritim dan kontribusi yang relevan dari Angkatan Udara dan Angkatan Darat negara tersebut. Sedangkan seapower sebagai output adalah bukan hanya bagaimana menggunakan laut akan tetapi juga sebagai kemampuan untuk mempengaruhi kebiasaan orang atau pihak lain dari laut dan di laut.

Apabila kita gabungkan 2 konsep ini, seapower bisa diartikan sebagai kekuatan sebuah negara untuk melindungi kepentingannya di laut. Konsep seapower ini rasanya masih sangat relevan untuk menilai situasi dunia akhir-akhir ini.

Berita Internasional yang kurang mendapat perhatian di tanah air

Belakangan ini, media-media nasional lebih banyak dihiasi berita politik menjelang Pemilu 2019 dan sedikit mengabaikan berita-berita internasional yang menurut saya sangat menarik untuk menilai apa yang sedang terjadi dan apa yang mungkin akan terjadi di dunia. Apa yang sedang terjadi dan yang mungkin akan terjadi dalam tataran global tersebut mau tidak mau akan sangat berpengaruh dalam segala aspek kehidupan di Indonesia.

Sedikit banyak konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan China dipengaruhi oleh masalah bagaimana menyikapi isu nuklir Korea Utara. China terlihat tidak mau menuruti permintaan Amerika Serikat untuk Bersama-sama memberikan embargo ekonomi ke Korea Utara. Ketegangan China–AS juga dipicu dengan makin menguatnya ekonomi China yang terus bergerak dan makin menguasai perdagangan dunia.

Di lain pihak, sesuai janji kampanyenya, Presiden Trump melakukan berbagai upaya untuk membuat AS berjaya kembali dengan proteksi perdagangan dan menarik diri dari berbagai perjanjian perdagangan bebas. Terakhir, AS menerapkan tarif yang tinggi untuk impor aluminium dan baja yang masuk ke Negara Paman Sam tersebut. Tentu saja upaya ini untuk menghadang dominasi China dan menghidupkan kembali industri dalam negeri AS.

Tarif ini kemudian diberlakukan dengan pengecualian terhadap sekutu-sekutu AS salah satunya Australia. Tentu saja langkah AS ini makin mempertajam persaingan China–AS dalam perang dagang.

Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah menegangnya hubungan antara Rusia dengan negara-negara barat. Peristiwa upaya pembunuhan warga negara Rusia yang mendapatkan suaka politik di Inggris menjadi titik awal ketegangan. Rusia tidak mengakui berada di belakang upaya pembunuhan ini akan tetapi pihak Inggris sepertinya sangat yakin kalau Rusia yang mendalangi aksi ini. Inggris kemudian mengusir diplomat-diplomat Rusia dari negaranya dan diikuti oleh AS.

Rusia kemudian membalas dengan mengusir juga diplomat-diplomat AS dan negara-negara barat termasuk juga Australia dari negaranya. Ketegangan ini sepertinya akan menjadi nostalgia era Perang Dingin.

Dari berita-berita tersebut, dapat disimpulkan adanya ketegangan yang makin besar di dunia yang kemudian memperjelas adanya persaingan 3 kekuatan utama di dunia: AS, Rusia dan China. Dan yang menarik, saat ini ketiga negara tersebut sedang dipimpin oleh Presiden yang teguh pendirian: Donald Trump, Vladimir Putin dan Xi Jinping.

Kehadiran Armada Angkatan Laut China untuk latihan dalam jumlah yang significant di Laut China Selatan adalah upaya China untuk “unjuk gigi”. Di lain pihak, pidato Presiden Putin yang menyampaikan bahwa kemampuan persenjataan Rusia mampu menjangkau seluruh dunia jelas saja bisa diartikan sebagai pernyataan “jangan pernah remehkan Rusia”.

Negara-negara lain dengan permasalahan masing-masing menjadi medan pertarungan pengaruh 3 negara besar tersebut. Konflik Syiria dan berbagai permasalahan di Timur Tengah yang tak kunjung usai; potensial konflik di Laut China Selatan yang melibatkan negara-negara pantai di sekelilingnya; dan program senjata nuklir Korea Utara yang walaupun sudah mereda akan tetapi belum benar-benar selesai, pasti masih menjadi fokus perebutan pengaruh 3 kekuatan besar ini.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan posisi berada di persilangan antara 2 Samudera (India dan Pasifik) dan 2 Benua (Asia dan Australia). Indonesia juga merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia. Dari 2 kenyataan tersebut, negara-negara lain pasti melihat Indonesia sebagai jalur lintas baik militer maupun perdagangan. Dan Indonesia sebagai potensi pasar komoditas.

Jalur lintas dan potensi pasar Indonesia tersebut erat kaitanya dengan persaingan seapower negara-negara besar. Sejak merdeka, Indonesia sudah mengambil posisi non-blok dalam percaturan politik dunia. Dengan posisi sebagai negara non-blok, Indonesia tidak terikat persekutuan pertahanan dengan negara manapun. Dan ini juga bisa diartikan bahwa Indonesia akan berusaha meyelesaikan masalah ancaman terhadap pertahanannya dengan kemampuan sendiri.

AS dengan Uni Soviet (Rusia) pada era perang dingin menganggap sangat penting peran dan posisi Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara. Hal ini mengakibatkan kedua negara tersebut berebut pengaruh atas Indonesia.

Untuk saat ini, hal itu tidak begitu terlihat. Rusia lebih berkonsentrasi di Timur Tengah dalam perebutan pengaruhnya dengan AS. Jadi bisa disimpulkan bahwa Indonesia tidak begitu terlibat dan dilibatkan dalam konflik Rusia dengan AS dan negara-negara barat.

Hal ini berbeda apabila kita melihat persaingan China dengan AS. Indonesia berada pada posisi yang penting dalam persaingan 2 kekuatan ini. Kepentingan ekonomi dan kepentingan militer atas Indonesia yang membuat Indonesia menjadi begitu penting buat kedua negara besar tersebut.

China masih menjadi mitra dagang terbesar Indonesia dengan AS berada di posisi kedua. Industri pertahanan China juga mulai masuk pasar Indonesia. Tentu saja hal tesebut menjadi ancaman dominansi industri pertahanan AS dan sekutunya.

Posisi strategis Indonesia yang berada di posisi silang

Sejak Deklarasi Djuanda 1957 sampai sekarang, Indonesia terus berupaya memperjuangkan kedaulatan perairan kepulauannya. Perjuangan ini sudah berhasil dalam hal pengakuan dunia atas penguasaan Sumber Daya Alam di Perairan Kepulauan yang mutlak di bawah sovereignty (kedaulatan) Indonesia. Akan tetapi dalam hal lintas laut, perjuangan untuk bisa sepenuhnya menjaga kepentingan Indonesia di Perairan Kepulauan belumlah sepenuhnya berhasil.

Perairan Kepulauan Indonesia masih menjadi perairan yang relatif bebas. Dan hal ini memang menjadi tujuan AS, Australia dan negara-negara maritim besar lainnya yang ingin mempertahankan dominasinya atas laut dengan tetap berlakunya freedom of navigation/kebebasan bernavigasi di berbagai tempat salah satunya di Perairan Kepulauan Indonesia.

Insiden Bawean pada tahun 2003 menjadi bukti dominasi AS untuk tetap memberlakukan freedom of navigation di Perairan Kepulauan Indonesia dengan mengabaikan UU No 37/2002 tentang ALKI. Jelas diatur dalam UU tersebut bahwa lintas Perairan Kepulauan Indonesia harus hanya melalui 3 ALKI yang sudah ditentukan. Dan Laut Jawa bukanlah ALKI sesuai UU tersebut.

Apabila eskalasi konflik AS–China meningkat, kemungkinan besar Laut China Selatan menjadi pusat medan konfliknya dan seapower adalah alatnya. Kecil kemungkinan konflik berkembang sampai ke daratan. Armada militer AS guna mendekati Laut China Selatan akan melewati Pasifik dan berkolaborasi dengan Australia kemudian bersama-sama bergerak melalui Perairan Kepulauan Indonesia. Dengan begitu Perairan Kepulauan Indonesia menjadi perairan yang strategis dalam operasi militer kedua negara.

Dalam perang laut dikenal istilah dekenitetiko (deteksi, kenali, nilai, tentukan tindakan, komando). Kapal Perang yang bergerak dalam laut terbuka tentu saja lebih mudah dideteksi daripada yang berlayar di perairan dengan banyak pulau di sekelilingnya. Akurasi rudal juga akan lebih baik terhadap sasaran yang berada di laut terbuka. Pertimbangan-pertimbangan itulah yang membuat Perairan Kepulauan Indonesia menjadi sangat strategis sebagai jalur lintas apabila terjadi konflik militer di Laut China Selatan.

Sebagai penutup, tentu saja kita semua harus berdoa bahwa konflik militer tersebut tidak akan pernah terjadi dan ketegangan antara AS dengan China akan mereda. Tidak ada pihak yang diuntungkan dengan adanya konflik militer di Laut China Selatan. Dan Indonesia akan berada pada posisi yang terjepit apabila terjadi konflik militer antara dua negara adidaya tersebut. Tentu saja kita tidak ingin menjadi pelanduk yang mati karena ada dua gajah yang berkelahi.

 

Penulis adalah Praktisi dan Peneliti Kebijakan Maritim (Maritime Policy), tinggal di Surabaya. Tulisan ini adalah pendapat pribadi.

 

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha

alterntif text
alterntif text
alterntif text
Connect with us on social networks
Recommend on Google
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com