Published On: Tue, Oct 23rd, 2018

Santri dan Poros Maritim Dunia

Ilustrasi Santri.

Ilustrasi Santri.

Oleh : Muhammad Sutisna, S.Sos.

MN, Jakarta – Hari Santri dan Visi Poros Maritim Dunia merupakan dua variabel yang tidak bisa dipisahkan karena sama-sama dicetuskan di Era Pemerintahan Jokowi-JK. Pemerintahan Jokowi yang menetapkan Hari Santri dan poros maritim dunia sebagai  kebijakan awal pembangunannya, membawa angin segar terhadap masa depan santri dan kejayaan maritim di bumi pertiwi.

Penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional ini disahkan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) pada tahun 2015 yang lalu melalui Keppres Nomor 22 tahun 2015. Penetapan tersebut merupakan bentuk penghargaan pemerintah terhadap peran para santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Santri memiliki andil besar terhadap proses panjang kemerdekaan bangsa Indonesia yang hingga kini terus berkibar hingga berusia 73 tahun. Itulah mengapa keterkaitan antara Santri dan Poros Maritim dunia tidak dapat dipisahkan.

Santri juga memiliki komitmen yang kuat dalam membangun kejayaan maritim di bumi nusantara. Hal tersebut tidak terlepas dari peran Presiden Republik Indonesia ke 4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang notabenenya adalah seorang santri, namun memiliki wawasan maritim yang luar biasa hebatnya.

Gus Dur sudah mampu membaca  soal potensi ekonomi kelautan yang dimiliki bangsa ini, di era itu beliau sudah berbicara bahwa perlu adanya reorientasi ekonomi dari daratan ke lautan. Yang selama ini tidak pernah digarap secara optimal. Dengan 75% mayoritas lautan, dan secara letak geografis Indonesia yang sangat strategis. Berada di kawasan Asia Pasific yang merupakan kawasan sentral perekonomian dunia, tempat dua arus niaga bertemu silih berganti. Disitulah Indonesia memiliki peluang kunci sebagai penyeimbang pembangunan ekonomi di kedua lautan tersebut.

Pemerintah saat ini perlu mendorong penguatan pesantren di seluruh Indonesia, terutama pada pesantrem yang memiliki letak geografis di pesisir pantai, agar memberikan pemahaman pendidikan wawasan maritim.

Ini berguna untuk mengajak masyarakat sekitar pesantren akan pentingnya menjaga keseimbangan pesisir pantai dan penguatan ekonomi masyarakat pesisir. Selain itu, santri juga perlu diberikan beasiswa studi ketika kuliah nanti untuk bisa fokus dalam hal-hal yang berkaitan dengan dunia maritim.

Mulai saat ini diperlukan upaya pembinaan kepada santri agar memiliki wawasan kemaritiman yang berkiblat pada ketetapan Al-Qur’an. Salah satunya dapat dilakukan melalui peran lembaga pendidikan (formal atau non-formal), guna tergali dan terbinanya generasi muda bahari yang tidak hanya pintar, tapi benar dan bermoral dalam mengelola potensi lautan.

Dalam gagasan yang dikemukakan oleh KH. Ma’ruf Amin soal arus baru ekonomi Indonesia. Di mana perlu adanya pemerataan ekonomi dengan meningkatkan  kemandirian ekonomi umat. Sektor perikanan dan kelautan perlu menjadi perhatian khusus dalam melatih para santri dan memberikan wawasan luas agar bisa memanfaatkan potensi maritim yang besar tersebut, yang bisa berdampak baik  pada kemandirian ekonomi dari santri itu sendiri.

Ke depannya, melihat kondisi laut yang pada saat ini sudah sangat memprihatinkan, Santri juga bisa dilibatkan dalam kegiatan pelestarian laut. Melalui pesantren maritim, selain pengembangan ekonomi masyarakat pesisir, santri juga bisa diajarkan bagaimana menanam pohon bakau sebagai salah satu cara mengurangi abrasi dilaut.

Seperti yang kita ketahui bersama, erosi dan abrasi laut sering terjadi pada daerah pantai yang gundul. Abrasi sendiri diartikan sebagai pengikisan atau penggerusan daratan yang diakibatkan oleh berbagai macam hal, diantaranya akibat terjangan gelombang.

Salah satu cara mencegah abrasi ini yaitu dengan reboisasi atau  menanam kembali pohon bakau. Pohon bakau ini berguna sebagai langkah meredam kecepatan dan tenaga gelombang yang datang tersebut.

Tanaman bakau (mangrove) juga merupakan tempat bagi berbagai macam biota yang hidup di laut, sehingga keberadaanya sangat penting bagi pelestarian lingkungan wilayah di pantai dan laut.

Santri juga bisa dilibatkan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat untuk tidak buang sampah sembarangan di pesisir pantai, khususnya pesisir pantai yang dihuni oleh para nelayan, yang identik dengan kawasan kumuh.

Padahal dahulu di era Walisongo, pesisir pantai merupakan pusat peradaban masyarakat, di mana terjadinya berbagai macam pertukaran arus budaya, ekonomi, hingga politik, khususnya dalam penyebaran agama islam yang begitu masif di kawasan pesisir.

Di sinilah pentingnya peran santri dalam mewujudkan visi poros maritim dunia tersebut, yaitu dengan menjadikan kembali pesantren sebagai basis peradaban maritim. Di mana seluruh masyarakat pesisir bisa dilibatkan secara aktif dalam menjaga kelestarian pesisir dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat pesisir  yang hari ini identik dengan kemiskinan dan jauh dari kata sejahtera.

Oleh karena itu, penting bagi para santri untuk memiliki pemahaman yang kuat soal wawasan maritim, sebagai bentuk ikhtiar meneruskan amanat Gus Dur dalam menjadikan Indonesia kembali menjadi negara maritim yang jaya. Santri harus memiliki peran di sektor tersebut.

Selamat Hari Santri Nasional. Bersama Santri, Bahari kita Jaya.

*Penulis merupakan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

About the Author

- Redaktur

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha

alterntif text
alterntif text
alterntif text
Connect with us on social networks
Recommend on Google
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com