Published On: Fri, Nov 2nd, 2018

Cegah Potensi Konflik Maritim Indo-Pasifik, Danseskoal Paparkan Peluang Baru Penyelesaian Sengketa

Foto bersama para pembicara Seminar Internasional Undip dengan tajuk “Maritime Conflict and National Integration in the Indo-Pacific Region”

Foto bersama para pembicara Seminar Internasional Undip dengan tajuk “Maritime Conflict and National Integration in the Indo-Pacific Region”

MN, Semarang – Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Danseskoal) Laksamana Muda TNI DR. Amarulla Octavian, S.T., M.Sc., D.E.S.D mengungkapkan terdapatnya potensi perang terbuka di antara negara-negara yang ada di kawasan Indo-Pasifik. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara kunci dalam seminar internasional yang diselenggarakan oleh Universitas Diponegoro (Undip), Kamis (1/11).

Dalam seminar internasional bertajuk “Maritime Conflict and National Integration in the Indo-Pacific Region”  yang digelar dalam rangka Dien Natalies 2018 ini, Laksda TNI Amarulla Octavian memaparkan beberapa peluang baru dalam rangka penyelesaian berbagai konflik yang terjadi di kawasan Indo-Pasifik.

Mengambil judul “Maritime Disputes in the Indo-Pacific Region: Indonesia’s New Strategic Blue Print”, mantan Dekan Manajemen Pertahanan Unhan ini memaparkan bahwa peluang baru yang dimaksud olehnya ialah dengan merubah sengketa menjadi kerja sama.

Seperti kita ketahui bahwa permasalahan yang terjadi di kawasan ini, yang sebagian besar disebabkan oleh saling klaim sejarah atau hukum oleh beberapa negara terkait, sangat berpotensi meledak hingga menjadi perang terbuka di kemudian hari.

Hal ini tidak terlepas dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Seskoal yang menunjukan efek dari saling klaim tersebut, akan mengakibatkan perlombaan senjata dan rivalitas militer diantara negara-negara tersebut.

“Beberapa sengketa maritim yang terjadi di Laut Cina Timur, Laut Cina Selatan, dan bahkan Blok Ambalat disebabkan klaim sejarah dan/atau klaim hukum beberapa negara. Hasil penelitian Seskoal menunjukkan bahwa sebagian besar klaim yang dilakukan secara unilateral memicu konflik maritim yang dapat berakibat perlombaan senjata dan rivalitas militer. Jika kondisi ini berlarut, maka tidak menutup kemungkinan meletusnya perang terbuka,” ujarnya.

Lebiih lanjut, perwira tinggi TNI AL dengan dua bintang di pundak ini menekankan peluang baru yang dimaksud olehnya tersebut ialah dengan menawarkan konsep kerja sama atas wilayah sengketa maritim tersebut, untuk dikelola bersama oleh negara-negara yang bersengketa.

“Peluang tersebut menawarkan konsep kerjasama atas wilayah sengketa maritim untuk kepentingan bersama para pihak yang bersengketa. Wilayah sengketa maritim dapat dirubah menjadi zone ekonomi maritim yang dikelola bersama demi kesejahteraan antarnegara di kawasan sehingga otomatis ketegangan bersenjata di laut dapat diminimalisir,” lanjutnya.

Ini bisa menjadi solusi jangka panjang sekaligus solusi jangka pendek dalam mengatasi permasalahan sengketa wilayah yang belum terlihat akan mereda dalam beberapa waktu ke depan ini. Konsep ini juga berguna untuk mencegah konflik yang telah terjadi meluas ataupun melebar di kemudian hari.

Lebih jauhnya, Danseskoal menjelaskan bahwa beberapa wilayah yang dipersengketakan tersebut sangat berpotensi terkait erat dengan jalur perdanggangan utama dunia yang bila tidak segera dicarikan solusinya bisa melebar hingga melibatkan negara lain di sekitarnya.

Selain itu, dengan potensi melebarnya konflik yang terjadi, perekonomian dunia juga berpotensi terganggu . Hal ini dikarenakan arah melebarnya konflik tersebut ialah menuju wilayah yang merupakan jalur utama pelayaran dunia.

Selain menghadirkan Danseskoal sebagai pembicara kunci, seminar internasional ini juga menghadirkan akademisi dari New York University Ismail Fajrie Alatas, Ph.D., akademisi dari National University of Singapore Dr. Maitrii V. Aung-Thwin dan Dr. Donna Brunero, akademisi dari University of Brunei Darussalam Dr. Diotima Chattoraj, akademisi dari University of the Philippines Prof. Dr. Matthew C. Maglana, akademisi dari National Cheng Kung University dari Taiwan Frank Dhont, Ph.D., dan akademisi dari Guangxi Normal University dari Cina Dr. Xu Xiaodong.

About the Author

- Redaktur

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha

alterntif text
alterntif text
alterntif text
Connect with us on social networks
Recommend on Google
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com