Published On: Sel, Mar 3rd, 2020

Prof. Rokhmin Yakin Indonesia Saingi Produksi Lobster Vietnam dalam 3 Tahun

Penasihan Menteri Kelautan dan Perikanan Prof. Dr. Rokhmin Dahuri saat memberikan ulasan di hadapan para nelayan.

Penasihan Menteri Kelautan dan Perikanan Prof. Dr. Rokhmin Dahuri saat memberikan ulasan di hadapan para nelayan.

MN, Jakarta – Paska kembali dari lawatan kerja ke Australia, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo optimis usaha eskpor benih lobster serta budidaya lobster akan segera menggeliat di tanah air.

Usai mempelajari secara serius di negeri kanguru tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sangat yakin pembenihan lobster (hatchery) bisa dilakukan di Indonesia dan dalam jangka waktu tiga tahun ini diharapkan, Indonesia menjadi negara penghasil lobster yang mampu menyaingi Vietnam.

Hal ini disampaikan oleh Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan Prof. Rokhmin Dahuri dalam ulasannya  saat bertemu dengan para pelaku usaha dan akademisi di Gedung Mina Bahari III, KKP, Jakarta, Selasa (3/3).

“Kemarin saya lihat menetaskan telur (lobster) bisa dilakukan di Tasmania. Semakin digunakan (teknologinya) semakin murah dan efisien. Untuk ekspor benih lobster nanti dikasih kuota dan waktunya akan kita tentukan,” ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan pertama paska reformasi tersebut.

Lebih lanjut, Guru Besar Ilmu Kelautan IPB itu menyatakan bahwa dirinya juga sudah beberapa kali mengunjungi Vietnam untuk meninjau proses budidaya lobster di sana. Menurutnya pola di sana sangat maju terutama dalam hal pakan dan karakter pembudidayanya.

“Soal pakan di sana ada kerrang hijau, karena makanan yang paling lezat bagi lobster itu kerang hijau, itu dibudidayakan di sana, ditambah lagi ikan rucah. Jadi nanti (di sini) pakan kita genjot. Nah faktor yang kedua itu disiplin para pembudidayanya. Dalam membersihkan keramba jarring apungnya itu mereka rutin,” lanjutnya.

Ia juga menekankan bahwa pasar lobster di Vietnam sangat maju karena juga ditopang oleh sistem logistiknya. China sebagai negara terbesar dijualnya produk lobster Viernam bisa ditempuh oleh jalur darat hanya dalam jangka waktu delapan jam.

“Ini yang paling susah, logistik. Jadi pasar lobster Vietnam ke China itu cuma delapan jam diangkut menggunkanan truk. Kalau di kita kan bisa tiga hari,” tekannya.

Namun demikian, pria yang sedari kecil sudah akrab dengan kehidupan nelayan ini yakin jika dalam tiga tahun ini para pelaku usaha lobster kita kompak maka logistic cost-nya bisa ditekan. “Jadi kita main volume, misalnya (Vietnam) bisa satu juta, kita tiga juta sehingga ongkos kirim bisa di-cover begitu,” tegasnya.

Lebih jauh ia meyakini bahwa keuntungan dari ekspor lobster dan benih bukan lagi dinikmati oleh oknum segelintir orang melainkan bisa masuk ke kas negara.

“Saya perkirakan kalau US$ 8  (per ekor/benih) sementara kita ada 300 juta, itu sudah 2,4 miliar dolar AS kita terima,” pungkasnya.

About the Author

- Redaktur

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>