Published On: Thu, Dec 9th, 2021

Analisa Konflik Integrasi Pengelolaan Rantai Pasok dan Penanganannya

 

 

Kegiatan bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok

Oleh: Dr Dayan Hakim NS*

Logistik merupakan disiplin yang berkaitan dengan pengelolaan aliran barang, informasi, dan uang mulai dari procurement, storage (warehousing dan inventory) dan delivery service (transportasi dan customer service) barang sesuai dengan jenis, jumlah, kualitas, waktu dan tempat yang dikehendaki konsumen dari point of origin ke point of destination secara efektif dan efisien. Logistik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari supply chain. Supply chain meliputi proses transformasi raw material menjadi produk dan mengantarkan barang hingga pelanggan sedangkan logistik meliputi pergerakan material dalam supply chain.

Logistik 4.0 merupakan integrasi logistik dan inovasi digital dengan penggunaan information and communication of technology (ICT) yang didukung oleh cyber-phycisal system (CPS).CPS adalah sistem fisik dan rekayasa yang operasinya dapat dimonitor dan dikoordinasikan. Kata kunci dari logistik 4.0 ialah digitalisasi, Internet of Things (IoT) dan Internet of Service (IOS), automation dan real time, dan artificial intelligence.

Manajemen layanan logistik terdiri dari 2 dimensi yaitu :

  • Dimensi Rantai Pasokan Fisik: Autonomous dan self-controlled sub system logistic seperti transportasi  (misalnya  pemakaian  teknologi  blockchain)  yang  saling berinteraksi satu sama lain
  • Dimensi Rantai Nilai Data Digital: berupa mesin dan data sensor (pada tingkat benda fisik) sepanjang keseluruhan rantai pasokan. Melalui lapisan konektivitas data yang dikumpulkan disediakan untuk semua jenis analitik (misalnya di cloud), kemungkinan menghasilkan bisnis jasa nilai tambah yang potensial

Dari model aplikasi dua dimensi ini, akan muncul tiga komponen nilai yang diharapkan oleh pelanggan. Pertama nilai ketersediaan (Value of availability) artinya membuat produk dan layanan tersedia bagi  pelanggan  melalui  pengiriman  otonom.  Penciptaan nilai  melalui ketersediaan barang atau jasa adalah nilai tambah utama kegiatan logistik dan jasa. Kedua, nilai integrasi digital (Value of digital servilization) muncul melalui transparansi permeable dan ketelusuran sepanjang rantai pasokan (supply chain).  Ketiga, konsumsi, biasanya melebihi point of sale (POS), tapi ini bukan berarti rantai pasokan berakhir pada titik ini.

Dengan melihat keuntungan dari Integrasi Rantai Pasok dalam mengahadapi Era Logistik 4.0 membuat banyak perusahaan manufaktur berupaya untuk melakukan integrasi pengelolaan rantai pasok. Namun ternyata upaya melakukan integrasi pengelolaan rantai pasok ini tidak mudah. Dalam penerapannya, integrasi pengelolaan rantai pasok menimbulkan banyak konflik. Pemilik perusahaan dan pimpinan puncak perlu memahami konflik yang terjadi pasca integrasi pengelolaan rantai pasok agar dapat mengambil keputusan strategis yang tepat dan menguntungkan bagi perusahaan secara keseluruhan.

Dari hasil pengamatan terhadap perilaku bisnis terkait pengelolaan rantai pasok dan manajemen layanan logistik sedikitnya terdapat 5 konflik yang sering terjadi. Sebetulnya masih ada beberapa konflik lainnya namun kurang signifikan dampaknya terhadap kinerja keuangan. Solusi yang dibahas dalam hal ini hanya bersifat usulan dan masih perlu penelitian lebih lanjut mengenai efektivitasnya.

Konflk pertama yang sering timbul pasca integrasi pengelolaan rantai pasok adalah pertentangan antara unit produksi dengan biaya penyimpanan. Permasalahan tersebut timbul dari keinginan bagian produksi untuk memproduksi barang sebanyak-banyaknya dengan tujuan skala ekonomis dalam upaya menekan biaya produksi dibandingkan dengan penambahan biaya gudang penyimpanan yang meningkat sesuai dengan banyaknya dan lamanya penyimpanan. Penambahan biaya gudang kadang tidak sebanding dengan penurunan biaya unit produksi yang dihasilkan.

Hal ini sebetulnya merupakan masalah klasik dan sudah penelitian terkait Economic Order Quantity (EOQ) yang menghitung jumlah unit produksi yang efisien dibandingkan dengan biaya gudang. Namun dalam praktiknya ternyata permasalahan tersebut masih sering terjadi dan tidak semudah itu penerapannya. Secara teori mungkin mudah untuk menurunkan biaya penyimpanan tetapi pola gudang penyimpanan yang ajeg sejak ratusan tahun lalu tidak mudah untuk diubah.

Upaya yang dapat dilakukan untuk menyiasati permasalahan tersebut dapat dilakukan dengan mengubah gudang penyimpanan yang dipergunakan. Hal ini telah ditempuh oleh pabrik semen. Ketimbang melakukan pengiriman semen dalam kantong yang tentunya lebih mahal maka dilakukan pengiriman pupuk dan semen dalam bentuk curah. Moda transportasi diubah yang semula menggunakan container untuk pengepakan kantong semen dan disimpan dalam gudang tertutup menjadi pengangkutan dengan kapal breakbulk dan semen ditempatkan di gudang terbuka untuk kemudian dikantongkan di gudang terbuka di point of destination. Biaya penyimpanan dapat ditekan sedangkan disisi lain jumlah kapasitas produksi dapat terus ditingkatkan untuk menekan biaya produksi per unit.

Konflik kedua yang sering timbul saat integrasi pengelolaan rantai pasok adalah pertentangan antara biaya transportasi dengan biaya penyimpanan. Sudah merupakan rumus baku bahwa semakin besar kapal yang dipergunakan akan semakin murah biaya transportasi per unit yang dikeluarkan. Di sisi lain, kapasitas gudang yang ada sangat terbatas dan tidak mudah untuk merubah dalam waktu singkat. Penelitian untuk mengatasi hal ini sudah dilakukan dengan mempergunakan rumus jurusan tiga angka (bering/navigasi). Namun dalam praktiknya ternyata tidak mudah.

Upaya yang dapat dilakukan untuk menyiasati permasalahan tersebut sebenarnya sederhana, yakni membuat jadwal pengiriman yang teratur. Hal ini telah dilakukan oleh Bulog dalam mendistribusikan beras ke daerah pelosok tepat waktu. Mengacu pada pola distribusi pada tahun sebelumnya maka dapat diprediksikan kebutuhan beras pada tahun ini sehingga dapat ditetapkan jadwal pengiriman yang sesuai dengan kapasitas gudang di daerah yang dituju.

Dengan adanya jadwal pengiriman yang teratur maka dapat dibuatkan kontrak angkutan laut terjadwal. Shipping line tentu saja lebih senang adanya jadwal pengiriman yang teratur sehingga dapat disusun rencana commission day kapal yang lebih baik yang pada akhirnya dapat menekan biaya angkutan laut.

Konflik ketiga yang sering membuat top manajemen bingung adalah pilihan antara penetapan harga jual dengan jaringan distribusi yang ada. Mungkin karena suatu peraturan, perusahaan tidak diperkenankan melakukan penjualan langsung sehingga harus melalui jaringan distribusi. Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan oleh pabrik terkadang tidak dipatuhi dengan serta merta oleh jaringan distribusi. Jaringan distribusi terkadang menetapkan harga jual seenaknya dan mengakibatkan penjualan menjadi menurun atau tidak mencapai target yang diharapkan.

Untuk menyiasati hal tersebut maka perusahaan dapat membuat Factory Outlet khusus untuk memasarkan produk pabrik tersebut. Bahkan Kimia Farma mendirikan anak perusahaan PT Kimia Farma Apotek dan PT Kimia Farma Diagnostik untuk menjual langsung ke konsumen. Dengan adanya Factory Outlet, konsumen akan melihat perbandingan harga antara pabrik dengan retailer dan retailer juga akan mematuhi Harga Eceran Tertinggi yang sudah disepakati.

Konflik keempat yang sering membuat pusing Direktur Keuangan saat integrasi pengelolaan rantai pasok adalah penurunan kolektibilitas dengan kenaikan unit discount. Dalam meningkatkan penjualan, manajemen umumnya menempuh kenaikan unit discount. Bagi retailer yang bermodal besar hal ini akan menguntungkan karena akan menekan harga pokok per unit. Namun terkadang retailer tidak mengukur pola konsumsi atau penjualan di area tersebut sehingga tidak dapat meningkatkan penjualan. Atau retailer tidak mau berbagi discount yang diperoleh dengan konsumen.

Hal ini sering terjadi pada produk ban. Banyak retailer yang menyimpan stok dalam jumlah besar dengan harapan memperoleh extra discount namun tidak dapat meningkatkan penjualannya. Akibatnya kolektibilitas piutang meningkat karena sebagian besar stock menumpuk di retailer yang satu sedangkan di retaler yang lain justru kosong. Arus kas menjadi terhambat, catatan penjualan harus dikoreksi karena ada penumpukan barang konsinyasi di gudang retailer.

Solusi Permasalahan

Integrasi pengelolaan rantai pasok seharusnya dapat mengatasi hal tersebut dengan membuat system informasi penanganan stock dalam konsinyasi yang baik sehingga stok konsinyasi dapat didistribusikan sesuai pola penjualan yang ada. Digitalisasi gudang akan membuat pengelolan stock konsinyasi menjadi transparan dan pengelolaan arus kas dapat lebih tertata. Sasaran dari integrasi pengelolaan rantai pasok dalam menciptakan nilai layanan digital dapat tercapai.

Konflik terakhir adalah pertentangan antara customer delivery dengan agile. Agile adalah metode kerja untuk bergerak cepat dan mudah. Inovasi banyak dilakukan untuk membuat terobosan agar penyelesaian pekerjaan menjadi cepat dan mudah. Di sisi lain, pola layanan logistic baik angkutan laut maupun angkutan darat sejak ribuan tahun lalu selalu bergerak dengan pola dan system yang sama. Proses layanan logistik dimulai dari konsolidasi muatan di point of origin sampai ke point of destination untuk unloading.

Ada kejadian dimana perusahaan pelayaran menawarkan kepada staf logistik untuk mempercepat pengiriman satu minggu sebelum jadwal yang ditentukan dengan tambahan discount. Staf tersebut setuju. Ternyata ketika tiba di tujuan, pelabuhan tujuan belum siap karena dermaga terisi kapal lain yang sedang bongkar, gudang milik konsumen belum siap karena stok belum habis dan banyak timbul kendala lain. Akibatnya kapal terkena denda demurrage. Ekstra discount yang diperoleh tidak sebanding dengan denda demurrage.

Untuk mengatasi hal tersebut, dibutuhkan disiplin ketat dari staf logistik untuk mematuhi jadwal pengiriman yang sudah ditetapkan. Integrasi pengelolaan rantai pasok bertujuan membentuk system rantai pasok yang baik. Dibutuhkan ketaatan dari setiap pelaku rantai pasok untuk mematuhi system yang telah disusun. Agile tidak diperlukan dalam integrasi pengelolaan rantai pasok.

Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa konflik yang terjadi saat integrasi pengelolaan rantai pasok harus diselesaikan dengan bijak dan dipahami kasus per kasus. Penanganan konflik yang baik justru dapat memperbaiki pola layanan kepada pelanggan sehingga meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Dengan demikian, Integrasi pengelolaan rantai pasok dapat mencapai tujuan yang diharapkan yakni ketersediaan produk dan jasa, ketelusuran sepanjang rantai pasok dan konsumsi yang melebihi titik jual.

 

*Penulis adalah Praktisi Logistik Nasional

 

 

 

 

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com