Tingkatkan Layanan Melalui Pergub 44 Tahun 2020 Samsat Kapal Perikanan
Penulis: Rusdianto Samawa, Ketum Dewan Front Nelayan Indonesia (FNI) Implementasi Peraturan Gubernur NTB nomor 44 tahun 2020 tentang Sistem Administrasi…
Penulis: Rusdianto Samawa, Ketum Dewan Front Nelayan Indonesia (FNI) Implementasi Peraturan Gubernur NTB nomor 44 tahun 2020 tentang Sistem Administrasi…
Indonesia memiliki ketergantungan besar terhadap protein hewani dari sektor perikanan sehingga bisa dikatakan kualitas ikan ini sangat bergantung dari tangkapan nelayan.
KKP menilai bahwa UU Cipta Kerja (Ciptaker) akan memberikan kestabilan dan keberlanjutan usaha perikanan, baik di perikanan tangkap maupun budidaya.
MN, Batam – Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub melalui Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Tanjunguban, menyelamatkan 8 (delapan) kru kapal…
Pandemi Covid-19 yang melandan hampir seluruh dunia pada saat ini, telah memukul semua sektor kehidupan, termasuk sektor perikanan negeri ini. Dampaknya sudah mulai dirasakan para nelayan dan pekerja perikanan di sejumlah daerah. Hasil pantauan DFW-Indonesia di Provinsi Jawa Tengah dan Bitung (Sulawesi Utara) mengindikasikan turunnya harga ikan, menurunnya daya beli masyarakat, dan terhentinya kegiatan penangkapan ikan oleh nelayan tradisional.
Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menyoroti terganggunya sektor logistik perikanan akibat pandemi Covid-19 yang kian mempersulit kehidupan para nelayan, khsusnya nelayan kecil pada saat ini. Hal itu dikemukakan oleh Ketua Hariannya, Dani Setiawan saat berbicara dalam forum diskusi online via aplikasi Zoom yang dihelat oleh Kopi Pahit dan Monitorday.com, Minggu (18/4).
Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) berharap negara hadir bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya para nelayan dan pelaku sektor kelautan dan perikanan lainnya, saat kondisi pandemi seperti saat ini. Hal ini diutarakan langsung oleh Ketua Hariannya, Dani Setiawan dalam diskusi online via aplikasi Zoom yang diselenggarakan oleh Kopi Pahit dan Monitorday.com, Minggu (19/4).
Pemerintah dinilai kurang serius dalam memperhatikan nasib para nelayan selama pandemi Covid-19 ini berlangsung. Selain dihadapkan pada risiko terkena virus yang muncul dari Kota Wuhan Tiongkok tersebut, para nelayan juga saat ini berhadapan dengan kondisi ekonomi yang semakin tidak menentu. Selama pandemi ini menerjang, nelayan nelayan dihadapkan pada pendapat yang terus menurun dan harga barang kebutuhan pokok yang terus menanjak naik.
Sejalan dengan tingkat produksi hasil laut yang masih stabil di tengah pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh kawasan di seluruh dunia, organisasi pangan dunia (FAO) menilai Indonesia memiliki peluang dan kapasitas untuk menjadi pemasok bahan pangan dunia, utamanya panganan hasil laut.
Paska kembali dari lawatan kerja ke Australia, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo optimis usaha eskpor benih lobster serta budidaya lobster akan segera menggeliat di tanah air.