Published On: Tue, Dec 5th, 2017

Membedah Kekuatan Maritim Indonesia dan Negara Pesisir Laut Natuna Utara di Hari Armada Nasional

Hari Armada RI.

Hari Armada RI.

MN, Jakarta – Hari ini, 5 Desember 2017, Indonesia memeringati Hari Armada yang merupakan bagian penting dari sejarah Angkatan Laut Indonesia. Berdasarkan Skep Kasal Nomor A 4/2/10, tanggal 14 September 1959, yang dikeluarkan oleh KASAL pada saat itu Komodor Laut RE Martadinata, ditetapkan berdirinya Armada Angkatan Laut RI yang menggabungkan seluruh jajaran kekuatan tempur laut ke dalam Armada ALRI. Namun mengingat berbagai hal, maka pelaksanaan upacara peresmian Armada ALRI tersebut baru dapat terlaksana pada tanggal 5 Desember 1959. Inilah yang menjadikan dasar peringatan hari Armada yang kita laksanakan setiap tahun hingga hari ini.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), armada diartikan sebagai rombongan (pasukan) kapal perang. Setiap angkatan laut negara di seluruh dunia, harus mempunyai armada kapal perangnya termasuk TNI AL.

Setiap tahunnya, perkembangan armada milik TNI AL semakin berkembang. Dengan visi menjadi Angkatan Laut Kelas Dunia (World Clasa Navy), keberadaan armada yang mumpuni mutlak diperlukan. Terlebih lagi, dengan perkembangan kejahatan laut yang semakin hari semakin berkembang, serta kondisi geopolitik khususnya di regional yang semakin panas, menjadi tuntutan bagi TNI AL untuk memiliki armada tempur yang mumpuni, yang mampu menjaga kedaulatan NKRI.

Menarik untuk mengamati kondisi politik regional di Laut China Selatan yang merupakan salah satu daerah potensi konflik besar di kemudian hari. Meski belum secara gamblang terlibat ataupun dilibatkan dalam konflik perebutan wilayah antara Tiongkok, Vietnam, Malaysia, Filipna, dan Brunei Darusallam tersebut, sangat mungkin menyeret Indonesia menjadi salah satu negara yang akan terlibat langsung di di dalamnya.

Keberadaan Pulau Natuna yang berada di kawasan laut tersebut menjadi alasan kuat potensi ini bisa saja terjadi. Seperti beberapa waktu yang lalu, tatkala peluncuran peta baru Indonesia yang mengganti nama Laut Cina Selatan aka Laut Tiongkok Selatan menjadi Laut Natuna Utara yang memperoleh hadiah berupa protes keras dari Tiongkok.

Selain itu, konflik yang disebabkan oleh pelanggaran wilayah oleh penduduk negara-negara yang berada di kawasan tersebut juga sudah sering terjadi. Hal ini merupakan merupakan alasan kuat bagi Indonesia untuk memiliki angkatan laut yang kuat, mumpuni, serta dapat diandalkan untuk menjadaga kedaulatan NKRI.

Dan untuk menwujudkan angkatan laut yang kuat, diperlukan juga armada yang kuat dan siap sedia dalam menjaga kawasan kita.

Dari sudut pandang kesiapan armada dalam menghadapi konflik di Laut Natuna Utara (LNU) tersebut, secara kuantitas Indonesia masih jauh tertinggal dari Tiongkok. Bahkan apabila seluruh armada negara yang terlibat dalam konflik tersebut disatukan, belum sebanding dengan armada perang yang Tiongkok miliki.

Meskipun begitu, di antara negara lain yang berada di LNU, secara kuantitas jumlah armada, Indonesia bisa dikatakan berada di peringkat ke dua, meskipun masih jauh di bawah Tiongkok.

Menyambut Hari Armada Nasional tahun 2017 ini, Maritimnews sebagai media informasi kemaritiman yang selalu mengajak semua elemen bangsa bersama membangun poros maritim dunia, mencoba membedah armada (dalam hal ini alutsista ) perang angkatan laut dari negara-negara yang terletak di sepanjang salah satu kawasan perairan paling panas di dunia pada saat ini, yaitu Laut Natuna Uata atau Laut China Selatan.

Data yang diambil merupakan hasil olahan yang bersumber dari IISS Military Balance tahun 2017 dengan segala keterbatasn yang kemungkinan eror yang terjadi di dalamnya. Selain itu, perincian armada dalam tulisan ini hanya berbicara tentang kuantitasnya saja belum jauh mendalam hingga kualitas per armada yang dimiliki oleh masing-masing negara tersebut.

 

Lanjut ke Jumlah Personel Angkatan Laut

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

About the Author

-

Redaktur

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha