Di Laut Natuna Utara, Okupasi Ekonomi Pakai Alat Tangkap Ikan

Peta Laut Natuna Utara (foto:Sindonews)

MN, Jakarta – Negara China bukan saja melakukan pendekatan militer tapi juga hampir setiap waktu melakukan okupasi ekonomi di laut Natuna utara yang diklaim sebagai Nine Dash Line (sembilan garis putus-putus).

Bahkan China telah mengembangkan Kepulauan Spratly jadi kawasan ekonomi dengan pendekatan pariwisata. Artinya China berhasil memanfaatkan ruang di dalam zona yang diklaimnya adalah wilayah kedinastian Tiongkok.

Hal itu ditegaskan Direktur Maritim Research Institute, Makbul Muhammad terkait memanasnya kembali Laut Natuna Utara, dimana upaya China di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) dan Landas Kontinen (Laut Natuna Utara) sebagai area penangkapan ikan tradisional China.

“Ternyata aksi pendekatan ekonomi jauh lebih berani dalam bermain di wilayah laut sengketa. Cukup bersenjatakan alat tangkap ikan,” jelas Makbul Muhammad kepada Maritimnews di Jakarta, Sabtu (4/1).

Lelaki lulusan Prodi Keamanan Maritim Universitas Pertahanan (Unhan) ini mengingatkan, kegagalan atas Sipadan dan Ligitan, bukan karena militer. Kita tidak mampu melakukan ekspansi kepada Malaysia, karena pengaruh ekonomi Malaysia kuat di pulau tersebut.

Sekarang, lanjut Makbul, sejauh mana Pemerintah Republik Indonesia mamanfaatkan Natuna Utara dalam pendekatan non militer? Laut yang begitu kaya sehingga negara-negara asing pun hilir mudik memanfaatkannya.

“Saran buat Kementerian Kelautan dan Perikanan, buatlah kebijakan khusus untuk pemanfaatan laut Natuna Utara. Kirimlah nelayan tangguh yang difasilitasi oleh negara. Mereka setiap waktu akan mengibarkan Merah Putih di laut Natuna Utara,” pungkasnya.

(Bayu/MN)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

INSA Jaya Gelar RAC Ke XVIII, Andi Patonangi Ketua Masa Bakti 2026 – 2031

Jakarta (Maritimnews) - Setelah menjabat pengurus antar waktu (PAW), Andi S Patonangi ditetapkan secara aklamasi…

21 hours ago

RUPST Pelindo 2025: Kontribusi ke Negara Rp7,81 Triliun

Jakarta (Maritimnews) – Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 PT Pelabuhan…

4 days ago

IPC TPK Jambi Dukung Ekspor 19,2 Ton Kopi Kerinci ke Mesir

Jambi (Maritimnews) - Dalam rangka mendukung kelancaran ekspor kopi robusta asal Kerinci ke negara Mesir…

4 days ago

Januari – Mei 2026, Arus Penumpang Pelindo Regional 4 Melesat 10,2% YoY

Makassar (Maritimnews) - PT Pelindo (Persero) Regional 4 mencatat trafik arus penumpang selama periode Januari–Mei…

6 days ago

Januari – Mei 2026, Throughput IPC TPK Capai 1,49 Juta TEUs

Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) mencatat pertumbuhan arus petikemas sebesar 6,1 persen…

7 days ago

Direct Baru di IPC TPK, MV AS Carolina ke Tiongkok Selatan

Jakarta (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) memperkuat konektivitas logistik internasional melalui pelayanan perdana…

1 week ago