Categories: GeopolitikHLTerbaru

Balon Udara Google, Ancam Kedaulatan Negara Poros Maritim

Ilustrasi Google-Project-Loon. (Foto: selular.id)

Maritimnews, Lampung – Visi prsiden, poros maritim dunia sejatinya merupakan implementasi kedaulatan NKRI bukan hanya di laut melainkan juga kedaulatan dalam ruang udara. Terkait peluncuran seratus lebih Balon Udara Google di ruang kita akan semakin memudahkan akses internet ke seluruh pelosok negeri.

Namun, di sisi lain itu menjadi sebuah ancaman serius bagi keamanan dan kedaulatan kita. Seperti yang diungkapkan oleh Mantan Menteri Perhubungan Jusman S Djamal beberapa waktu lalu, yang menilai seratus lebih balon udara yang melayang di khatulistiwa itu dapat merekam semua perilaku dan gerak-gerik penduduk Indonesia.

“Kita lupa kehadiran balon udara itu akan menghancurkan manfaat infrastruktur fiber optic yang telah ditanam oleh perusahaan nasional kita selama sepuluh tahun terakhir,” kata Jusman.

Lebih dari itu, sambungnya, Palapa Ring kini punya ancaman. Baik data maupun informasi apa saja kini diserahkan dengan sukarela dalam kendali Private Company International.

“Kita kini tidak lagi takut setiap jengkal tanah Indonesia dipetakan satu demi satu dan semua informasi tentang kekayaan Indonesia jadi milik Private Company bernama Google,” tambahnya dengan geram.

Masih kata Jusman,  kita takut emas kita dieksplorasi oleh Freeport tetapi kita tak pernah khawatir jika di era Internet of things dan di era Big Data ini, emas informasi kita dikuasai Google.

Selorohnya, padahal ketika ada satelit masuk alur udara kita semua bilang awas bahaya mata-mata. Ini mungkin yang disebut dengan pepatah ‘Waspada pada semut di ujung lautan, Gajah di pelupuk mata bebas bergendang dan menari’.

Dengan tegas, pria yang juga pernah menjadi Komisaris Utama PT Telkom dan Garuda Indonesia itu mempertanyakan bagaimana dengan sistem keamanan kita. Selanjutnya dengan makna kedaulatan territorial kita apalagi di tengah visi poros maritim.

“Kini dengan seratus balon udara tiap rumah, bangunan dan markas militer koordinatnya telah dapat di-implant ke dalam Google Map dan GPS dengan akurasi dan presisi amat tinggi. Sebab tiap tiga balon udara bisa mendefinisikan satu titik xyz dalam ruang dengan kekeliruan 0,000001,” tegasnya.

Di Amerika sendiri, tidak mungkin Google dibolehkan mengoperasikan ratusan balon udara untuk memetakan Pentagon dan Object Vital lainnya, sebab takut akan akibatnya. Karena dengan sistem seperti itu, setiap orang bisa memanfaatkan ratusan balon udara untuk gunakan smart vechicle , smart weapon dan drone dalam genggamannya untuk dengan mudah masuk ke pintu depan rumah melanggar privacy dan security.

“Mudah-mudahan ini hanya ketakutan pribadi saya yang pernah belajar dan mendapatkan tugas mengembangkan ANSS atau Aero Navigational,” ucapnya mengakhiri penjelasannya.

Senada dengan Jusman, Direktur Eksekutif Human Studies Institute, Rasminto Ghifari menyatakan kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia terkait hal demikian menjadi ancaman serius bagi kesinambungan bangsa ini ke depannya. Menurutnya, orang Indonesia merasa dicuri kalau uangnya tidak ada, tetapi jika data yang dicuri mereka acuh tak acuh.

“Keberadaan Google Loon lebih kepada keberadaan orang asing di Indonesia yang sewaktu-waktu dapat mengancam kita. Wong, kita ngerasa kemalingan cuma kalau uangnya yang dicuri, bukan datanya,” tandas Rasminto.

Disinyalir, fenomena itu terjadi juga akibat dari lemahnya rasa nasionalisme dan cinta tanah air kita akibat kian sulitnya kondisi hidup saat ini.

Lebih lanjut, pria yang menyelesaikan studi di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu menekankan bahwa Google tidak pernah mencari uang tetapi lebih mencari data. Sedangkan mayoritas seluruh rakyat Indonesia termasuk dirinya mengaku masih sibuk mencari uang untuk keperluan hidupnya. Akhirnya, dengan rela kita siap diketahui segala isi rumah oleh tamu-tamu kita.

Selain itu, Rasminto juga heran mengapa seluruh rakyat Indonesia bahkan termasuk aparatnya tidak berkutik terhadap fenomena ini. Tidak ada dari mereka yang angkat bicara baik di media elektronik maupun cetak. Padahal aparat negara terutama TNI merupakan Benteng NKRI yang terpercaya sejak masa kemerdekaan.

“Gak ada juga tuh TNI atau polisi yang tembak mereka pas lewat depan markas batalyonnya,” selorohnya mengakhiri pembicaraannya. (TAN)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Pelindo Regional 4 dan Kejati Maluku Perkuat Sinergi Hukum

Makassar (Maritimnew) – Dalam rangka memperkuat sinergi dalam penanganan masalah hukum bidang perdata dan tata…

35 minutes ago

Kemarau dan Kabut Asap Kalimantan, Partisipasi TPK Bagendang Salurkan 70 Tangki Air Bersih dan Masker

Kotawaringin Timur (Maritimnews) - PT Pelindo Terminal Petikemas melalui Terminal Peti Kemas (TPK) Bagendang berpartisipasi…

1 hour ago

Hari Pelanggan Nasional 2026, IPC TPK Perkuat Sinergi Lewat Customer Rafting

Bogor (Maritimnews) – Dalam rangka memperingati Hari Pelanggan Nasional, IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menyelenggarakan…

11 hours ago

Agustus 2026, TPS Catat Throughput 128 Ribu TEUs

Surabaya (Maritimnews) - Kinerja arus petikemas (throughput) PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) untuk bulan Agustus…

11 hours ago

Vessel Operational Disruption; Kapan Pengalihan Kapal Menjadi Pilihan Tepat

Oleh: SAFUAN - Doctor in Management Science Gangguan operasional merupakan salah satu risiko yang tidak…

2 days ago

Dukung Asta Cita dan SDGs, IPC TPK Perkuat Kebersihan Palembang

Palembang (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) melanjutkan komitmen keberlanjutan dan kepedulian terhadap lingkungan…

3 days ago