Membedah Tubuh Kokoh Anoa Amfibi

Panser Anoa versi Amfibi buatan PT. PINDAD (Persero)

Maritimnews, Jakarta – Meski masih berupa prototipe, namun kehadiran Anoa tipe Amphibious sudah menyita perhatian khalayak ramai, baik itu para pemerhati militer maupun masyarakat umum lainnya. Kehadirannya sangat dinanti dan diharapkan menjadi andalan dalam menjaga kedaulatan NKRI di masa depan.

Kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam, menjadikan kendaraan tempur bertipe amfibi adalah sebeuah kebutuhan penting. Pemerintah menyadari akan hal ini, melaui PT. Pindad (Persero) pemerintah mulai mengembangkan kendaraan amfibi yang tangguh di darat dan lincah di air. Kendaraan amfibi yang mampu mengemban tugas berat, menjaga NKRI dari darat maupun dari perairan sekaligus.

Bertolak dari produk yang sudah ada sebelumnya, PT. Pindad sedang mengembangkan Panser Anoa 6 x 6 untuk dibuat varian amfibinya. Dengan penambahan bagian depan (hidung) menjadi lebih mancung serta penambahan dua buah baling – baling air (water propeller) pada bagian belakangnya menandakan keseriusan PT. Pindad dalam pembangunannya.

Untuk urusan desain, secara sekilas memang masih sangat mirip dengan Panser VAB buatan GIAT Prancis, karena memang pada dasarnya desain awal Anoa mengacu pada Panser buatan negeri Menara Eifel tersebut. Selain itu, Anoa dan VAB memang menggunakan tipe mesin yang sama sebagai penggeraknya, yaitu Renault MIDR 062045 inline cylinder turbo-charge diesel.

Akan tetapi terdapat beberapa hal yang menjadi perbedaan yang cukup signifikan antara Anoa dengan Panser VAB besutan GIAT Prancis tersebut, antara lain penyempurnaan pada bagian suspensi, penambahan kubah tempat penembak depan yang terpisah, serta posisi kemudi yang berada di sebelah kanan menyesuaikan dengan standar kemudi di Indonesia. Khusus untuk penambahan kubah tempat penembak depan yang terpisah, hal ini merupakan salah satu kelebihan Anoa Amfibi dibandingkan dengan VAB. Pada VAB kubah penembak senapan mesin berat (SMB) tepat berada di samping posisi pengemudi. Posisi tentu saja kurang nyaman bagi pengemudi ataupun si penembak.

Untuk mendukung kenyamanan penggunanya, Anoa versi amfibi ini menggunakan transmisi otomatis dengan spesifikasi ZF S6HP502, mengadopsi 6 percepatan dan 1 gigi untuk mundur. Selain itu panser ini menggunakan Indeendet suspension, torsion bar sebagai suspensinya.

Dengan berat tempur sebesar 14 ton, panjang 6 meter, lebar 2,5 meter, serta tinggi 2,9 meter, kendaraan tempur ini mampu mengangkut 3 orang kru ditambah 10 orang personel. Kecepatan maksimum yang mampu ditempuh oleh prototipe panser kebanggaan anak bangsa ini ada lebih kurang 90 km/ jam saat melaju di darat dan lebih kurang 18,52 km/ jam atau 10 knot saat melaju di atas air. Saat ini sedang dikembangkan agar Anoa Amfibi ini mampu melaju di atas laut.

Kapasitas bahan bakar yang mampu ditampung oleh panser ini adalah sebanyak 200 liter. Dengan jumlah solar sebanyak itu, Anoa Amfibi mampu melaju hingga 600 km, atau dalam arti kata setiap liternya mampu membawa Anoa berjalan sepanjang 3 km.

Untuk kemampuan tempurnya Anoa Amfibi dilengkapi dengan pilihan senjata mesin berat (SMB) 12,7 mm atau pelontar granat AGL 40 mm. Selain itu, Anoa Amfibi juga dibekali pelontar granat asap 2×3 66 mm sebagai sarana untuk menghindari serangan lawan. Saat ini sedang dikembangkan Anoa Amfibi versi kanon. Kanon yang digunakan sendiri mengadopsi Cockerill 90 mm Mk III yang serupa dengan kanon pada tank Scorpion 90. Untuk plat baja yang digunakan pada Anoa sendiri, mampu menahan hantaman peluru kaliber 5,56 mm dan 7,62 mm.

Kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan Anoa Amfibi ini adalah masih banyaknya komponen yang harus diimpor. Untuk mesin, baling – baling, suspensi, hingga plat baja (diharapkan hanya hingga produksi Anoa ke 30) masih diimpor. Semoga ke depannya Indonesia, khususnya PT. Pindad (Persero) mampu membuat seluruh komponen penting tersebut sendiri, hingga tercipta kemandirian dalam memabsngun alutsista Indonesia.

A.P Sulistiawan

Redaktur

Share
Published by
A.P Sulistiawan

Recent Posts

Prestasi Penegakan Hukum Jangan Dibangun di Atas Kriminalisasi

oleh: Rizma Wulan Sari, SH, MH (Sekretaris Keluarga Besar Putra Putri Purnawirawan Hakim Indonesia/KB P3HI)…

8 minutes ago

Karyawan APBS Perkara Pengerukan Pelindo Harus Diputus Bebas Demi Hukum

Oleh: Malvin Berimbing, SH., MH . Direktur Eksekutif LBH-BUMN Indonesia sedang berada pada fase penting…

17 hours ago

FSP BUMN Bersatu: Kasus 6 Karyawan PT APBS, Bentuk Kriminalisasi Kejaksaan

Surabaya (Maritimnews) - Tidak ada bukti selama persidangan adanya aliran Dana ke enam Karyawan PT…

18 hours ago

Pilihan Prioritas Pembangunan Dry Port di Provinsi Jawa Tengah

oleh: Dr Dayan Hakim NS, Dosen Tetap Program MM Universitas Jayabaya Dry port (atau pelabuhan…

23 hours ago

Kawasan Industri dan Hilirisasi, Harapan Pelabuhan di Lampung

Bandar Lampung (Maritimnews) - Peran pelabuhan laut sebagai pintu gerbang perdagangan dan perekonomian, membutuhkan keberadaan…

1 day ago

IPC TPK Dorong Sportivitas Bersama Badminton Competition 2026

Jakarta (Maritimnews) - Komitmen PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) untuk tidak hanya unggul dalam…

1 week ago