Categories: PelabuhanTerbaru

TPK Koja Butuh Strong Leadership Untuk Survive

TPK Koja. (Foto: Bayu/MN)

MNOL, Jakarta – Eksistensi Terminal Peti Kemas (TPK) Koja harus disikapi tepat apabila owner (IPC dan HPI) ingin TPK Koja bersaing dengan terminal-terminal lain di Pelabuhan Tanjung Priok. Khususnya Terminal Kali Baru yang memiliki kedalaman 16 meter dan didukung peralatan canggih.

Isu santer berhembus di Pelabuhan Tanjung Priok bahwa terminal-terminal peti kemas akan memakai “discount”.  “Apapun strategi terminal menggaet costumer itu sah saja. Apabila TPK Koja menghadapi situasi di ujung tanduk maka sosok strong leadership diperlukan guna meningkatkan level of service,” kata Capt Misnie dari KMTC Shipping Service kepada maritimnews.com, Selasa (29/3).

Menurut Manager Operasional KMTC Shipping Service lulusan Semarang Maritime Officers Education ini, sosok strong leadership adalah sosok pemberani yang menguasai operasional lapangan. Keberadaannya merupakan pemimpin yang dapat menjelaskan secara inovatif kepada owner dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan, baik fasilitas maupun sumber daya manusia (SDM) TPK Koja agar bisa bertahan hidup dari badai persaingan bisnis di pelabuhan Tanjung Priok.

“Tahun 2016 harus jadi tahun komersial bagi manajemen TPK Koja,” ujarnya.

Diakui Capt Misnie,bahwa status Kerja Sama Operasi (KSO) memaksa manajemen TPK Koja cukup sulit untuk mengambil keputusan yang tidak popular. Dalam artian keputusan cepat dan tepat baik bagi perusahaan maupun costumer. Padahal aturan-aturan owner yang ada dapat dikatakan sudah tidak tepat diimplementasikan di era sekarang, karenanya manajemen TPK Koja memerlukan justifikasi komersial.

Lebih lanjut, dia menyatakan sebaiknya owner TPK Koja memberikan kewenangan penuh komersil atas pelayanan operasional.  “Penyelesaian klaim akibat nilai klaim yang terlalu besar, pembebasan container tidak bertuan yang akhirnya diurus oleh pihak shipping line, discount  1 % atas pembayaran tepat waktu selama tiga bulan, hal itu bagi costumer dianggap aturan-aturan kolot,” bebernya.

Masih kata Misnie, seharusnya kewenangan mengambil keputusan diberikan saja sepenuhnya kepada manajemen TPK Koja agar manajemen yang mengerti betul situasi di lapangan dapat mengambil keptusan cepat, tepat dan win-win solution.

Mengutip pernyataan Direktur National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi, yang berpendapat bahwa pemerintah via Kementerian Perhubungan dan Kementerian BUMN agar meninjau ulang pola KSO dalam pengelolaan TPK Koja di Pelabuhan Tanjung Priok yang diselenggarakan oleh IPC/PT Pelabuhan Indonesia II dan Hutchison Port Indonesia (HPI). Maka, seharusnya owner sudah menyiapkan entitas bisnis baru yang lebih memberikan kepastian dan berbadan hukum dalam pengelolaan TPK Koja di pelabuhan Tanjung Priok. (Bayu/MN)

 

 

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Rekayasa Ulang BUMN Melalui Danantara Sebagai Motor Penggerak Kekuatan Ekonomi Nasional

Ditulis oleh :Arief Poyuono (Komisaris Pelindo) Jakarta 4 Oktober 2026 "Jika Anda tidak bisa memberikan…

4 hours ago

Implementasi EAZI di TTL Group, Tekan Port Stay

Surabaya (Maritimnews) - Terminal Petikemas Teluk Lamong (TTL) Group berkolaborasi berbagi peran dengan KSOP Utama…

2 days ago

TPS Gelar Safety Stand Down, Perkuat Budaya Keselamatan Kerja

Surabaya (Maritimnews) - Komitmen PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) terhadap safety culture terus dilaksanakan secara…

2 days ago

Fit to Drive IPC TPK bagi 150 Sopir Truk Peti Kemas

Jakarta (Maritimnews) - Bertepatan dengan perayaan Hari Pelindo ke-5, PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK)…

2 days ago

Pelindo 5 Tahun Bersatu, Perkenalkan ADHARA

Jakarta (Maritimnews) - Bersamaan dengan memperingati Hari Ulang Tahun ke-5 PT Pelabuhan Indonesia atau Pelindo,…

2 days ago

Kapal dan Pelabuhan: Kisah Cinta yang Tidak Perlu Dimerger

Oleh: Laksda TNI (Purn) Dr. Soleman B Ponto. ST, SH, MH Konon, di dunia maritim…

3 days ago