Kerang Hijau pun Jadi Martir Reklamasi Teluk Jakarta

Kerang hijau

MNOL, Jakarta – Kerang hijau yang memiliki bahasa latin Perna Viridis merupakan biota laut yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat. Selain rasanya yang lezat, hewan moluska yang mengandung protein tinggi itu biasa disantap dalam waktu-waktu senggang dan biasa menjadi pembuka dari hidangan besar. Untuk daerah Jakarta, kerang hijau biasa dibudidaya di sekitar Cilincing, Jakarta Utara yang saat ini juga termasuk area proyek pembangunan 17 pulau reklamasi Teluk Jakarta oleh Pemprov DKI.

Dalam momen kunjungan Assosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) ke Cilincing, yang didampingi oleh Ketua DPW Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Muhammad Taher, Minggu (15/5/16) lalu mereka melihat langsung bagaimana pengolahan kerang hijau itu yang biasa dikonsumsi oleh warga Jakarta.

Sungguh memprihatinkan kondisinya, hasil SDA Kelautan yang dikenal murah meriah itu kini benar-benar mengkhawatirkan bila dikonsumsi, tentunya juga berdampak pada penghasilan masyarakat pesisir Cilincing. Hasil investigasi yang dilakukan oleh anggota APMI salah satunya Ahmad Pratomo kepada pembudidaya kerang hijau tersebut didapat hasil sejak adanya proyek reklamasi Teluk Jakarta, populasi kerang hijau jauh menurun dan berdampak juga pada kualitas rasanya.

Saat diskusi dengan para nelayan dan pembudidaya kerang hijau, pria yang biasa disapa Tomi itu melihat cangkangnya kini tak lagi berwarna hijau, tetapi lebih berwarna kehitam-hitaman. Menurut nelayan di sana, itu akibat putaran arus air yang tidak stabil sebagai imbas adanya pembangunan reklamasi Teluk Jakarta.

Kepada maritimnews, Tomi menceritkan hasil temuannya itu sebagai telaah dari dampak diberlakukannya proyek reklamasi Teluk Jakarta.

“Kerang yang berwarna hijau ini lazimnya yang kita tahu berwarna hijau adalah kerang yang masih segar, dan masih sehat,” ujar Kepala Bidang Kajian Sejarah dan Budaya Bahari APMI tersebut.

Ternyata adanya perubahan pada kerang-kerang ini terjadi sejak 2 tahun yang lalu, saat reklamasi mulai gencar-genacarnya diberlakukan. Inilah bukti temuan bahwa reklamasi berdampak negatif terhadap ekosistem laut, khususnya kerang hijau sebagai salah satu hasil tangkapan nelayan Cilincing.

“Rasanya sedih sekali mendengar kisah mereka perihal rusaknya ekosistem laut kita ini. Tapi apa daya, mereka para nelayan hanya bisa bertahan,” tuturnya.

Lebih lanjut, lulusan S2 Sejarah Universitas Indonesia itu mengungkapkan untuk saat ini dan mungkin seterusnya, mereka hanya mampu bertahan mencari nafkah untuk keluarganya. Mungkin yang mereka sadari saat ini adalah tidak ada yang bisa diharapkan dari siapapun. Termasuk pemimpin daerah yang mereka pilih pada Pilgub yang lalu.

“Nyatanya penguasa Jakarta lebih suka melihat hotel, apartemen, rumah mewah, yacht, dan kapal pesiar untuk mendatangkan investor, dari pada menyelamatkan kehidupan perekonomian masyarakat nelayannya dan ekosistem laut yang terlihat jelas kondisinya di depan mata,” ulasnya.

Di akhir penyampaiannya, Tomi mengaitkan fenomena ini dengan visi besar pemerintah dalam membangun poros maritim dunia. Tentunya didapat suatu anomali besar antara wacana dengan kondisi sebenarnya.

“Berbicara maritim, tentu berarti bicara pengelolaan sumber daya laut. Bicara manusia yang juga mengolahnya, tetapi rupanya sumber daya laut-nya (sudah) terancam hancur. Begitupun sumber daya manusia-nya. Jadi, dengan keadaan seperti ini, apa masih layak visi poros maritim dunia itu pak Presiden?” pungkasnya. (Tan)

 

 

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

GERTAK: Presiden Prabowo Subianto Copot Menkeu Purbaya Terkait Dugaan Isu Jual-Beli Jabatan

Jakarta (Maritimnews) - Jual-beli jabatan merupakan salah satu awal permulaan dan bentuk tindak pidana korupsi…

3 days ago

Survei IDM Ungkap Dua Sisi Bea Cukai: Pelayanan Bagus, Namun Kebijakan Tarif Masih Jadi PR

Jakarta (Maritimnews) - Hasil survei Indonesia Development Monitoring (IDM) terhadap pengguna jasa Direktorat Jenderal Bea…

3 days ago

Analisis Penerbitan PMK 51/2026 tentang Angkutan Barang Terusan

Peraturan Menteri Keuangan No.51 tahun 2026 adalah aturan Kementerian Keuangan yang mengatur tentang Angkut Terus…

4 days ago

TPS Gelar Sosialisasi Bisnis Operasional Bersama GINSI Jatim

Surabaya (Maritimnews) - Kolaborasi antar instansi menjadi faktor penting dalam menciptakan layanan logistik efisien, transparan,…

4 days ago

Atasi Kepadatan, Pelabuhan Tanjung Wangi Kini Dilayani Empat Kapal

Banyuwangi (Maritimnews) - Aktivitas bongkar muat kendaraan melalui kapal Roll On-Roll Off (Ro-Ro) di pelabuhan…

6 days ago

Pelindo Regional 4 dan Kejati Maluku Perkuat Sinergi Hukum

Makassar (Maritimnew) – Dalam rangka memperkuat sinergi dalam penanganan masalah hukum bidang perdata dan tata…

7 days ago