“Bagi China, kebijakan-kebijakanya tersebut bersifat pertahanan yakni untuk menjaga agar mereka tidak dikepung dan diblokade oleh Amerika Serikat, yang dianggapnya sebagai saingan terbesarnya” ucap Untung Suropati dalam acara peluncuran buku “Arungi Samudra Bersama Sang Naga” di Lemnahas (31/8) dimana Perwira Tinggi TNI AL tersebut menjadi penulis buku bersama Yohanes Sulaiman dan Ian Montratama.
Ia menambahkan atas dasar kesadaran tersebut, China-pun dalam pandanganya selain menawarkan paket kerjasama ekonomi, juga melakukan tekanan secara militer untuk mencapai tujuan politiknya. Sehingga China pun semakin memperkuat angkatan lautnya, membuat pangkalan udara di Laut China Selatan, dan bertindak semakin agresif.
Pertanyaannya bagaimana melihat perkembangan China tersebut dari sudut pandang gagasan Poros Maritim Indonesia? Ia mangatakan konsep jalur Sutera Maritim Abad ke-21 dan Satu Sabuk Satu Jalur sebetulnya bisa bersinergi dengan konsep Poros Maritim Dunia dengan syarat bahwa Indonesia mau dan bisa untuk mengambil kesempatan tersebut.
Ia merekomendasikan untuk menghadapi tantangan tersebut, Indonesia harus kembali ke akar kebijakan bebas-aktif yang ditekankan Bung Hatta di tahun 1948 , yakni mendayung di antara dua karang, memanfaatkan pertikaian kekuatan-kekuatan besar untuk kepentingannya, membina hubungan erat baik dengan China, maupun Amerika Serikat, dan negara-negara lain yang penting seperti Australia, India, Jepang, Korea Selatan, Singapura dan Malaysia untuk mengimbangi sikap agresif China.
Oleh : Dr. Dayan Hakim NS* Perusahaan pelayaran saat ini tengah menghadapi kewajiban untuk menyusun…
Jakarta (Maritimnews) - Kunjungan Mahasiswa dan Mahasiswi Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia (UI) ke…
Pontianak (Maritimnews) - Dukungan perusahaan IPC Terminal Petikemas terhadap Asta Cita ke-4 Pemerintah Republik Indonesia…
Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Area Teluk Bayur bersama PT Pelabuhan Tanjung…
Jambi (Maritimnews) - Indonesia adalah produsen dan eksportir utama kayu manis global, menguasai sekitar 41%…
Dwelling time yang masih jauh di atas standar internasional bukan sekadar masalah teknis kepelabuhanan —…