Categories: KKPNelayanTerbaru

Didesak Soal Perompakan Nelayan, Tim KKP Turun ke Lampung

Menteri Susi telah mengutus Tim ke Lampung untuk menidak lanjuti kasus perompakan nelayan

MNOL, Jakarta  – Tim Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hari ini, Rabu (24/8), akan terjun langsung ke Lampung untuk berkoordinasi dengan pihak keamanan setempat. Hal ini menyusul laporan perompakan yang dialami oleh nelayan Pantura yang terjadi di perairan Lampung.

Sebelumnya, Kantor KKP didatangi massa sekitar 500 orang pada Selasa kemarin (23/8). Bukan merupakan aksi unjuk rasa, tetapi para nelayan asal Pantura itu berkumpul untuk memohon perlindungan dari perompakan di laut yang dialaminya.

Pasalnya, selama 3 bulan terakhir para nelayan yang melaut di Perairan Lampung telah dirugikan oleh para perompak yang menjarah hasil tangkapannya. Mayoritas para nelayan tersebut adalah nelayan rajungan atau kepiting.

Atas laporan tersebut, KKP akan menindaklanjutinya dengan meninjau langsung lokasi penjarahan. Rencananya, Rabu besok Sekretaris Jenderal KKP, Sjarief Widjaja bersama Plt Dirjen Perikanan Tangkap Zulficar Mochtar akan berangkat ke Lampung dan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk menindaklanjuti kasus tersebut.

“Mereka memohon perlindungan kepada KKP. Jadi, besok pagi tim akan berangkat ke Polda Lampung dan akan melakukan koordinasi dengan Lanal Lampung. Kita nanti akan membuat tim gabungan untuk mengamankan penangkapan ikan yang dilakukan nelayan,” ujar Susi saat menggelar konferensi pers di kantornya, Selasa (23/8).

Saat datang ke kantor KKP, para nelayan tersebut ditemui langsung oleh Plt. Dirjen Perikanan Tangkap, Zulficar Mochtar. Mereka mengungkapkan bahwa selama 3 bulan terakhir, mereka sudah dirampok sebanyak 86 kali.

“Mereka datang dari berbagai daerah ke KKP untuk menyampaikan aspirasi. Mereka mengeluhkan bahwa mereka yg menangkap Rajungan di wilayah Lampung mengalami masalah keamanan. Sebanyak 86 kali terjadi perampokan, kepiting mereka diambil disertai penodongan,” ungkap Zulficar.

Zulficar menambahkan, para nelayan tersebut mengalami kerugian hingga Rp25 juta setiap satu kali dijarah. Mereka dijarah sesaat setelah mereka menangkap rajungan.

“Sekali perampokan, mereka bisa merugi 1-2 ton atau seharga 25 jt rupiah. Modusnya adalah setelah mereka menangkap rajungan, mereka didekati kapal-kapal kecil dengan orang bertopeng dan langsung menodong mereka. Ini sudah 3 bulan terjadi. Mereka berharap KKP bisa membantu agar tindak kriminal tersebut bisa ditumpas,” jelas Zulficar. (Tan)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Pelindo Sosialisasikan Penataan Peta Peran Korporasi

Makassar (Maritimnews) – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo menyosialisasikan penataan peta peran korporasi kepada…

2 days ago

PMT Port Visit melalui Onboarding Budaya Perusahaan

Belawan (Maritimnews) - PT Pelindo Multi Terminal atau PMT memberikan pengalaman awal dunia kerja kepada…

3 days ago

Kebakaran Kontainer di NPCT1 Cepat Dipadamkan, Tidak Ada Korban

Jakarta (Maritimnews) - New Priok Container Terminal One (NPCT1) berhasil menangani kebakaran yang terjadi pada…

4 days ago

Breakfast With Leader Pelindo 4 Hadapi Perubahan Pelabuhan dan Streamlining

Makassar (Maritimnews) – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 4 memperkuat komunikasi internal dan keterlibatan pegawai…

4 days ago

IPC TPK Raih Dua Penghargaan TOP GRC Awards 2026

Jakarta (Maritimnnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menerima dua penghargaan dalam ajang TOP GRC…

5 days ago

Kinerja Positif IPC TPK Hingga Agustus 2026, Tumbuh 8,37 Persen

Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) kembali mencatatkan tren kinerja operasional yang positif…

5 days ago