Categories: OpiniTerbaru

Bung Agus Harimurti, Teluk Jakarta dan Pertarungan Pilgub

Oleh: Ziyad Falahi*

Di tengah serangkaian isu yang muncul terkait reklamasi Teluk Jakarta, dapat kita klasifikasikan dalam dua tema besar, yakni isu lingkungan hidup dan nasib nelayan. Para aktivis lingkungan mengkhawatirkan nasib ikan dan terumbu karang. sedangkan beberapa golongan lain secara konsisten melakukan advokasi terhadap nasib nelayan.

Entah mengapa perdebatan yang muncul belum mencoba menggali lebih dalam aspek aspek yang lain di luar tema sektoral. Tanpa bermaksud mengesampingkan diskursus yang tengah berlangsung, penulis mencoba lebih fokus menelaah Teluk Jakarta dalam konteks ketahanan nasional.

Reklamasi merupakan hal yang make sense untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi. Reklamasi terletak dalam bussiness district di pantai kota metropolitan. Artinya, konsentrasi perkantoran dan hunian premium secara berdekatan berdampak pada pesatnya nilai ekonomis tanah dan bangunan yang kemudian menambah pemasukan negara dari pajak dan gross domestic product

Namun perlu dipertimbangkan bahwa reklamasi berguna bagi negara dengan fundamental ekonomi yang kuat seperti Singapura dan Uni Emirat Arab. Barangkali pemerintah Indonesia beranggapan bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup stabil dengan indikator neraca pembayaran dan non performing loan yang terkendali.

Mencoba untuk tidak terkecoh dengan analisis kuantitatif-stastitikal, pendekatan ekonomi politik patut diuji. Kita coba mengukur political risk terutama yang berkorelasi dengan kepastian hukum. Lihat lebih dalam bagaimana dualisme kelembagaan antara OJK dan BI. Belum lagi Undang undang Lalu Lintas Devisa yang sedang dalam judicial review.

Bagaimanapun krisis ekonomi adalah ancaman bagi ketahanan nasional. Krisis bukan hanya dipandang bussiness as usual, sebagaimana krisis 1998 yang justru lebih disebabkan oleh politik para spekulan. Oleh karenanya, Pilgub DKI 2017 perlu sensitif terhadap ketahanan nasional.

Pertanyaan pun muncul; apakah Agus Harimurti yang namanya belakangan ini disebut sebut memiliki kepedulian tersebut?

jika iya, maka Agus memiliki tugas perjuangan yang belum selesai. Untuk mengatasi dampak reklamasi, sektor non riil perlu dihidupkan. Bantuan langsung tunai yang pernah dilakukan SBY sewaktu menjabat kembali relevan.

Selain itu, koperasi hasil laut dapat menjadi tawaran alternatif. Tidak ketinggalan, inovasi teknologi informasi dapat digunakan untuk membantu nelayan.

Selamat berjuang Bung Agus! Lindungi bangsa kita dari kekacauan seperti tahun 1998!

*Penulis adalah Dewan Redaksi Maritimnews dan juga dosen di berbagai perguruan tinggi 

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

FSP BUMN Bersatu Dukung Program Streamlining Danantara

Jakarta (Maritimnews) - Federasi Serikat Pekerja (FSP) BUMN Bersatu mendukung program streamlining atau perampingan struktur…

2 days ago

Say No To IPO; Pelindo Lebih Bermanfaat Tanpa Pasar Modal

Oleh: Siswanto Rusdi, Direktur The National Maritime Institute (Namarin) Daya Anagata Nusantara (Danantara) merencanakan initial…

3 days ago

PTP Nonpetikemas Dorong Peningkatan Kompetensi TKBM di Pelabuhan Panjang

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) memberikan pelatihan dan sertifikasi kepada 10…

1 week ago

DANANTARA dan Tugas Sejarah Transformasi Ekonomi Nasional Bagi Keadilan Sosial Rakyat

Oleh: Arief Poyuono, SE, M.Kom Indonesia sedang memasuki sebuah fase penting dalam perjalanan ekonomi nasional.…

2 weeks ago

Uji Emisi di Tanjung Priok, Pelindo Ajak Ekosistem Pelabuhan Jaga Lingkungan

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mendorong kolaborasi pengendalian emisi kendaraan di…

2 weeks ago

Sosialisasi Perkuat Ekosistem Vendor Pelindo Regional 4

Makassar (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo memperkuat ekosistem vendor di wilayah Regional…

2 weeks ago