Staf Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI, Letkol Laut (P) Salim, saat memberikan Kuliah Umum Jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP UPN Veteran Yogyakarta, Senin (5/12/2016).
MNOL, Yogyakarta – Staf Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI, Letkol Laut (P) Salim menjelaskan soal perwujudan poros maritim dunia untuk kejayaan bangsa dan negara di tengah pergolakan dunia hanya dapat diwujudkan dengan membangun ocean leadership (kepemimpinan yang bervisi maritim).
Hal itu ia sampaikan saat memberikan Kuliah Umum Jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP UPN Veteran Yogyakarta bertema ‘Kebangkitan Maritim Indonesia’ di Ruang Seminar FISIP UPN Veteran Yogyakarta, Senin (5/12/2016) atau yang bertepatan dengan Hari Armada RI 2016.
Menurut Salim, pergolakan dunia itu dapat dibagi dalam tataran global dan regional yang keduanya sedang menunjukan tensi yang tinggi dan dapat berakibat pada stabilitas NKRI yang kini memiliki visi poros maritim dunia.
“Kita beruntung memiliki Presiden Joko Widodo yang sekian waktu kepemimpinannya tetap konsisten memperjuangkan kebangkitan maritim Indonesia. Visi poros maritim dunia yang diinisiasi presiden saatnya diterjemahkan banyak kalangan dalam berbagai bentuk kontribusi nyata. Bukan pada waktu dan tempatnya kalau kita terus mengolok-olok kepemimpinan, tanpa solusi,” ujarnya di depan ratusan mahasiswa yang hadir.
Menurut lulusan AAL tahun 1995 ini, visi poros maritim dunia merupakan bentuk implementasi dari ocean leadership dari seorang pemimpin bangsa. Hal itu pernah dibuktikan oleh nenek moyang bangsa Nusantara sejak masa Sriwijaya dan Majapahit.
Mengutip pernyataan AT Mahan, bahwa kekuatan laut merupakan unsur yang terpenting dalam kejayaan suatu bangsa. Sambung Salim, hal itu juga pernah digaungkan oleh Bung Karno pada saat meresmikan Institut Angkatan Laut (Sekarang AAL) pada tahun 1953 di Surabaya yang menyatakan ‘Jadilah bangsa pelaut yang mempunyai Armada Niaga, bangsa pelaut yang mempunyai Armada Militer, bangsa pelaut yang kesibukannya dilaut, menandingi irama gelombang lautan itu sendiri’.
“Indonesia sebagai tatanan negara bangsa di Nusantara setelah Sriwijaya dan Majapahit memiliki sejarah yang menguatkan peradaban maritim seperti Sumpah Pemuda, Proklamasi dan Deklarasi Djuanda. Sedangkan kini sedang berproses menuju poros maritim dunia,” ungkapnya.
Kendati upaya mewujudkan itu berada di tengah-tengah permasalahan dunia, Salim menegaskan penanaman internalisasi kepemimpinan maritim untuk membentuk kepribadian sumberdaya manusia yang sadar kodrat dan jatidiri maritim perlu dilakukan sejak dini.
“Visi poros maritim dunia tidak akan dapat berarti apa, tanpa dukungan banyak pihak, termasuk kampus sebagai lembaga pendidikan penting. Kita sekarang sedang berjuang dan terus berjuang. Disebut berjuang karena jelas berarti akan banyak mengorbankan kepentingan pribadi. Kalau tidak sekarang, kita akan terus terpuruk dengan nalar kontinental yang sekian waktu dibentuk oleh penjajahan Belanda,” tandasnya.
Menurutnya, fakta tentang maritim sebagai kodrat Nusantara sengaja dipendam oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Karena sejarah dunia banyak mencatat kepahlawanan dan keberanian leluhur Nusantara yang berhasil memanfaatkan laut sebagai kekuatan utama.
Penulis buku Kodrat Maritim Nusantara itu juga mengutip pernyataan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo yang menyatakan kondisi saat ini dalam gelombang proxy war yang terus memberikan ancaman baik nyata maupun tidak nyata bagi kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.
“Indonesia terlebih lautnya merupakan incaran banyak negara. Semua sumber energi, pangan dan air ada di sini karena kita berada tepat di garis equator,” tambahnya.
Maka dari itu ia mengimbau agar generasi muda selain menanamkan jiwa bahari juga menanamkan jiwa Pancasila dan UUD 1945 sebagaimana yang founding fathers serukan.
Di akhir penjelasannya, Pamen TNI AL yang sudah berkeliling di hampir 40 negara di dunia itu membeberkan pentingnya membangun kekuatan maritim termasuk angkatan lautnya.
“Dalam lima pilar pembangunan poros maritim dunia, pertahanan maritim dengan TNI AL sebagai leading sector-nya perlu dibangun agar bisa menjalankan tugas universalnya berdasarkan peraturan nasional untuk menjaga kedaulatan maritim NKRI,” pungkasnya.
Usai memberikan pemaparan, pria yang kerap berpuasa Daud (sehari puasa sehari tidak) itu mendapat antusias yang tinggi dari para peserta kuliah umum melalui beberapa pertanyaan yang kritis. Dengan demikian, dirinya bangga melihat semangat para mahasisiwa UPN Yogyakarta.
Ia berkesimpulan di kemudian hari akan lahir pemimpin yang bervisi maritim dari kampus ini. Para mahasiswa pun diperbolehkan untuk berkomunikasi dengannya untuk pemahaman lebih lanjut tentang bagaimana membangun Indonesia sebagai negara maritim yang besar dan berwibawa. (Tan/MN)
Jakarta (Maritimnews) - Keluarga Besar Federasi Serikat Pekerja (FSP BUMN Bersatu) berdukacita atas kejadian tabrakan…
Jakarta (Maritimnews) - Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada…
Makassar (Maritimnews) - Peluang kolaborasi internasional di sektor kepelabuhanan dan kawasan industri semakin terbuka setelah…
Makassar (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memperkuat sinergi…
Bandar Lampung (Maritimnews) - IPC Terminal Peti Kemas (IPC TPK) area Panjang berhasil menjaga produktivitas…
Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) konsisten…