Categories: PelayaranTerbaru

Tragedi Kapal Zahro Express, Pengamat: Menhub Sebaiknya Mundur

Pengamat Maritim Siswanto Rusdi. (Foto: DokPribadi)

MNOL, Jakarta – Terkait terbakarnya kapal wisata Zahro Express tujuan Pulau Tidung di Muara Angke pada (1/1/17) lalu yang menewaskan kurang lebih 48 orang, pengamat maritim Siswanto Rusdi menegaskan kepada Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi untuk segera mengundurkan diri. Hal itu ia sampaikan mengingat banyaknya kejadian-kejadian yang menyangkut permasalahan transportasi kita khususnya di laut.

“Setelah mencopot Kepala Syahbandar Muara Angke, Pak Menhub juga darus mencopot Dirjen Hubla kemudian segera mengundurkan diri sebagai Menteri Perhubungan,” ujar Siswanto.

Pria yang kini menjabat sebagai Direktur The National Maritime Institute (Namarin) itu menyatakan KM Zahro Express tidak dapat dikatakan laik berlayar karena tidak memiliki alat-alat keselamatan dan alat pemadaman kebakaran yang cukup.

Selain itu, kapal tersebut juga tidak memiliki manajemen crowd, sehingga jika terjadi kebakaran, ABK bisa mengarahkan penumpang kapal dengan cepat untuk menyelamatkan diri. Akan tetapi dalam pernyataan resminya, Dirjen Hubla menyatakan kapal ini laik layar.

“Apanya yang laik kalau seperti itu? Ini perlu sikap yang jelas dari Dirjen Hubla bahkan Menteri Perhubungan. Perlu tanggung jawab dari keduanya,” tegasnya.

Menurut penilaiannya, laik berlayar bagi sebuah kapal tidak bisa hanya didasarkan pada satu aspek. Sebuah kapal yang hendak berlayar harus memenuhi aspek-aspek yang lain seperti material dan kontruksi.

Siswanto menduga, kapal KM Zahro Express memiliki banyak material yang mudah terbakar yang seharusnya tidak ada di kapal tersebut.

“Ini harus diaudit. Ada banyak celah di sektor manajemen keselamatan pelayaran kita,” keluhnya.

Apalagi bila dikaitkan dengan visi besar pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, hal-hal seperti ini harus sudah clear.

Tercatat, sepanjang tahun 2016 terdapat 431 kecelakaan laut. Memasuki tahun 2017, 2 kecelakaan laut sekaligus terjadi di hari pertama tahun tersebut. Tidak tanggung-tanggung, 48 nyawa melayang pada peristiwa kelalaian manajemen transportasi laut tersebut.

Kalau dilihat banyaknya korban, ini jelas manajemen crowd-nya tidak ada. Bangkai kapal habis semua. Sepertinya tidak ada upaya pemadaman atau tidak ada alat yang cukup.

“Sudahlah kejadian ini untuk yang terakhir kalinya. Resolusi 2017, sebaiknya Menhub mundur,” pungkasnya. (Tan/MN)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Atasi Kepadatan, Pelabuhan Tanjung Wangi Kini Dilayani Empat Kapal

Banyuwangi (Maritimnews) - Aktivitas bongkar muat kendaraan melalui kapal Roll On-Roll Off (Ro-Ro) di pelabuhan…

15 minutes ago

Pelindo Regional 4 dan Kejati Maluku Perkuat Sinergi Hukum

Makassar (Maritimnew) – Dalam rangka memperkuat sinergi dalam penanganan masalah hukum bidang perdata dan tata…

24 hours ago

Kemarau dan Kabut Asap Kalimantan, Partisipasi TPK Bagendang Salurkan 70 Tangki Air Bersih dan Masker

Kotawaringin Timur (Maritimnews) - PT Pelindo Terminal Petikemas melalui Terminal Peti Kemas (TPK) Bagendang berpartisipasi…

24 hours ago

Hari Pelanggan Nasional 2026, IPC TPK Perkuat Sinergi Lewat Customer Rafting

Bogor (Maritimnews) – Dalam rangka memperingati Hari Pelanggan Nasional, IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menyelenggarakan…

1 day ago

Agustus 2026, TPS Catat Throughput 128 Ribu TEUs

Surabaya (Maritimnews) - Kinerja arus petikemas (throughput) PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) untuk bulan Agustus…

1 day ago

Vessel Operational Disruption; Kapan Pengalihan Kapal Menjadi Pilihan Tepat

Oleh: SAFUAN - Doctor in Management Science Gangguan operasional merupakan salah satu risiko yang tidak…

3 days ago