Categories: EkonomiHLTerbaru

Mengulas Bisnis Maritim dengan kondisi Red Ocean Strategy

Foto bersama dari kiri ke kanan: Adharta Ongkosaputra, Carmelita Hartoto, Chandra Motik, dan Sjaifuddin Thahir. (Foto: Pramarin)

MNOL, Jakarta – Dewan Pembina Praktisi Maritim Indonesia (Pramarin), Ir Adharta Ongkosaputra, Msc menyatakan saat ini para pengusaha maritim Indonesia mengenal adanya istilah red ocean strategy, atau strategi maritim yang berdarah-darah.

“Yang pertama ini antara pengusaha dengan pengusaha, walaupun sudah berdarah-darah tetapi nilainya masih tinggi daripada dari luar negeri masuk ke Indonesia. Terus kita berdarah-darah dalam menembus birokrasi, kita tahu satu kapal di Indonesia bisa memiliki berapa perizinan,” kata Adharta di sela-sela pelantikan kepengurusan Praktisi Maritim Indonesia (Pramarin) di gedung Mercantile Athletic Club, Kawasan Sudirman, Jakarta, (22/4).

Melihat kondisi itu maka berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan oleh pengusaha pelayaran di Indonesia. Karena tingginya biaya tersebut sehingga untuk maintenance kapal jarang dilakukan oleh pengusaha kita.

“Itu yang membuat umur kapal pendek, otomatis harga kapal semakin mahal. Jadi kalau kita beli kapal seharga USD 1 juta tahun sampai 20 tahun dengan kita beli kapal USD 500 ribu tahannya cuma lima tahun, tentu lebih mahal yang lima ratus ribu,” bebernya.

Lebih lanjut, CEO dari PT Aditya Aryaprawira ini mengungkapkan satu hal yang paling menekan industri maritim kita adalah pengaruh global. Contohnya seperti masalah tenaga kerja (pelaut) dan teknologi.

“Kalau dulu di AIP (Akademi Ilmu Pelayaran-red) banyak orang-orang asing yang yang belajar dengan kita saat ini malah sebaliknya. Seluruh tenaga ahli saat ini banyak diisi oleh orang-orang asing,” tandasnya.

Menurutnya, hal itu terjadi karena adanya biaya remunerasinya yang jauh lebih murah. Kemudian jika kapal-kapal Indonesia berlayar ke luar negeri itu juga terkena aturan untuk membayar gaji crew yang sama dengan crew di luar negeri.

“Tidak ada masalah semestinya, tetapi pendapatan kita jauh di bawah mereka akibatnya pengusaha akan mengalami kerugian,” seloroh dia.

Selanjutnya, Adharta menyatakan bahwa tekanan global lainnya setelah tenaga kerja adalah teknologi. Contohnya, teknologi pada kapal yang dapat membuat 2-3 kali lebih cepat dari semula, namun membutuhkan biaya yang agak mahal.

“Tetapi kalau kita tidak pakai itu, perjalanan akan lebih lama dan membuat barang semakin mahal. Akhirnya ini menjadi sebuah dilema bagi pengusaha,” pungkasnya.

Sementara dengan kondisi sistem aturan dan perbankan kita tak memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut. Ini yang membuatnya para pengusaha maritim terus berdarah-darah jika kondisinya terus demikian.

Oleh karena itu dengan adanya Pramarin ini ia berharap pengusaha maritim Indonesia tak lagi berdarah-darah dalam menghadapi situasi seperti ini, terlebih dalam era visi Poros Maritim Dunia dan Tol Laut.

(Adit/MN)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

FSP BUMN Bersatu Berduka cita Atas Musibah Kecelakaan KA di Bekasi Timur

Jakarta (Maritimnews) - Keluarga Besar Federasi Serikat Pekerja (FSP BUMN Bersatu) berdukacita atas kejadian tabrakan…

23 hours ago

Konsolidasi Kekuatan Nasional, ABUPI Perkuat Kolaborasi Jasa Kepelabuhanan

Jakarta (Maritimnews) - Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada…

3 days ago

Abu Dhabi Ports Group Lirik MNP

Makassar (Maritimnews) - Peluang kolaborasi internasional di sektor kepelabuhanan dan kawasan industri semakin terbuka setelah…

1 week ago

Bank Mandiri Siap Dukung Infrastruktur Pelindo di Indonesia Timur

Makassar (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memperkuat sinergi…

1 week ago

Triwulan I 2026, IPC TPK Panjang Tumbuh 2,06%

Bandar Lampung (Maritimnews) - IPC Terminal Peti Kemas (IPC TPK) area Panjang berhasil menjaga produktivitas…

1 week ago

Pelindo Konsisten Jaga Kelestarian Lingkungan Laut

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) konsisten…

1 week ago