Categories: EkonomiTerbaru

Praktisi: Kalau perlu Bunga Bank untuk Pengusaha Maritim Dihapuskan

Ilustrasi

MNOL, Jakarta – Praktisi pelayaran, Ir Adharta Ongkosaputra menyatakan dengan tegas agar bunga bank dalam usaha pembuatan kapal dihapuskan. Bahkan para pengusaha kapal pun perlu diberi subsidi agar usahanya makin berkembang di tengah laju perjalanan visi Poros Maritim Dunia.

Hal itu ia sampaikan di sela-sela pelantikan kepengurusan Praktisi Maritim Indonesia (Pramarin) di gedung Mercantile Athletic Club, Kawasan Sudirman, Jakarta, (22/4) lalu. Keluhan tersebut dilontarkan mengingat semakin parahnya kondisi bisnis maritim di Indonesia terutama dalam hal pembiayaan dan perbankan.

“Selain masalah tekanan global, masalah pembiayaan dan perbankan buat para pengusaha maritim kita juga jadi hal yang serius,” ujar Adharta.

Sambungnya, dengan bunga 11 % saat ini sangat tidak masuk akal membuat pengusaha maritim untuk maju dan berkembang usahanya. Yang ada justru banyak dari mereka yang kelilit utang dan gulung tikar.

Maka dari itulah, ia bersama praktisi maritimnya dari berbagai bidang mendorong untuk terbentuknya suatu wadah atau organisasi yang diberi nama Pramarin. Tujuannya sebagai jembatan antara para pengusaha dan pemerintah termasuk perbankan.

“Ini soal regulasi bukan komitmen, saya rasa OJK tidak mau membuka keran regulasi yang sudah ada dari pemerintah. Nah Pramarin di sini menjadi agent of development yang melakukan lobi-lobi terhadap kedua institusi itu,” selorohnya.

Tidak tanggung-tanggung, CEO PT Aditya Aryaprawira ini menghendaki agar bunga bank untuk pengusaha maritim dihapuskan, namun tetap dalam jangka waktu tertentu.

“Bunga bank kalau perlu dihapuskan untuk jangka waktu tertentu misalnya 5 tahun. Dan tenor pembayaran tidak 4-5 tahun seperti sekarang, kalau perlu hingga 10 tahun atau 15 tahun. Bahkan pengusaha pelayaran perlu diberi subsidi hingga 50% agar bisa bangkit dan maju,” tandas dia.

Menurutnya, itu satu-satunya jalan untuk membangun bisnis maritim Indonesia. Jika terus seperti ini maka para pengusaha maritim akan terus berdarah-darah dan Indonesia sebagai negara maritim akan sulit terbangun.

Ia pun miris ketika bunga bank dalam dunia pelayaran hampir sama dengan bisnis property bahkan lebih tinggi. Padahal sebagai negara maritim, tetapi mengapa bunga bank di Indonesia  sangat tinggi dibanding negara-negara lain.

“Tentu dengan Pramarin ini kita akan suarakan hal itu dan menjadi keran pembuka bagi regulasi maritim di Indonesia. Dan masih banyak problematika kita lainnya dalam bidang maritim yang perlu kita bahas satu per satu nantinya,” pungkas Adharta mengakhiri.

(Adit/MN)

 

 

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Kinerja Positif IPC TPK Hingga Agustus 2026, Tumbuh 8,37 Persen

Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) kembali mencatatkan tren kinerja operasional yang positif…

8 hours ago

TPS Perkuat Komitmen ESG Melalui Konversi Kendaraan Operasional Berbasis Listrik

Surabaya (Maritimnews) – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) terus memperkuat komitmennya terhadap operasional pelabuhan yang…

2 days ago

Masa Depan Pelabuhan Indonesia antara Peluang dan Tantangan

Oleh: Arief Poyuono Komisaris PT Pelindo (Persero) Pelabuhan telah berkembang jauh melampaui sekadar pusat logistik.…

2 days ago

Pelindo Sosialisasikan Layanan Alat Pemindai Petikemas kepada Pelanggan

Surabaya (Maritimnews) – Pelindo menyelenggarakan rangkaian sosialisasi penerapan layanan tambahan berupa alat pemindai petikemas kepada…

3 days ago

Transisi Adil Bagi Pekerja yang Terotomatisasi di Sektor Pelabuhan

Tenaga kerja pelabuhan dapat didefinisikan dengan berbagai cara. Dalam definisi sempit, tenaga kerja pelabuhan merujuk…

4 days ago

Program TJSL TEUs Bersinar TPK Koja, Perluas Akses Pendidikan Pelajar

Jakarta (Maritimnews) - KSO Terminal Petikemas Koja (TPK Koja) kembali melanjutkan program Tanggung Jawab Sosial…

5 days ago