Ketua Dewan Pembina Pramarin Adharta Ongkosaputra. (Foto: DokPribadi)
MN, Jakarta – Sebagai solusi untuk menghindari keterpurukan bisnis maritim yang saat ini melanda beberapa pelaku usaha di bidang ini maka suatu terobosan baru sangat diperlukan. Bentuk digitalisasi dan kolaborasi atau yang disebut sistem ekonomi berbagi saat ini sedang di-godok oleh pelaku usaha maritim yang dimotori organisasi Praktisi Maritim Indonesia (Pramarin).
“Saya itu mempunyai suatu gagasan mengenai sistem logistik di Indonesia. Kita bisa menekan biaya dengan cara digitalisasi setiap pembiayan dan melakukan kolaborasi serta investasi yang mempunyai nilai tambah,” ujar Ketua Dewan Pembina Pramarin Adharta Ongkosaputra, di kantornya, Aditya Building, Kelapa Gading, Jakarta (28/7).
Ia menjelaskan kolaborasi di sini lebih kepada penekanan biaya dalam sistem logistik. Misalnya biaya trucking, yang menyangkut komponen seperti truk, ban, bahan bakar dan sopir, semuanya bisa digitalisasi baik per hari, per jam atau per kilometer.
Susunan dari seluruh komponen itu dibuat secara sistematis di mana masing-masing komponen memiliki nilai tambah. Begitu juga dengan kapal yang menyangkut maintenance (docking), bahan bakarnya, asuransi dan sebagainya.
“Sebagai sebuah operator dia mudah menghitung biaya dengan kolaborasi seperti itu. Sementara kesulitan saat ini ialah sulit menghitung biaya. Ini kan namanya sistem ‘tanggung renteng’, rugi sama-sama dan untung pun sama-sama. Kalau sistem ini sudah berjalan semua pihak pasti mau untung dan tidak mau rugi,” terangnya.
Lebih lanjut, CEO PT Aditya Aryaprawira ini menyatakan hal itu sebagai prinsip kebersamaan atau kolaborasi yang dapat dijual dengan adanya nilai tambah. Pihak bank dan asuransi pun bisa menjadi bagian ini pada saat menanggung awal dari biaya-biaya yang menyangkut komponen tadi.
“Biasanya seperti asuransi dan bahan bakar tidak mau dibayar cicilan tetapi dibayar sekaligus. Nah maka dari itu bank bisa meng-handle, kemudian kolaborasi yang membayar cicilan itu dengan jaminan. Bank pun juga bisa dapat untung dari bunganya,” ungkapnya.
Adharta menyebut sistem ini bisa berjalan dengan manual terlebih dahulu. Secara online pun memang sudah dicanangkan tetapi masih butuh proses. Ia menyebut saat ini sudah dibuat ABC Online yang isinya menyangkut hal kolaborasi tersebut dalam bisnis logistik. Namun masih butuh penyempurnaan lebih lanjut.
“Digitalisasi ini merupakan sharing economy atau ekonomi berbagi-bagi. Ini sangat bagus sekali karena dapat menolong krisis yang ada. Inilah sistem yang membagi-bagikan bisnis yang ada dan saling berjamaah. Tidak ada yang curang dari sistem ini karena diawasi ramai-ramai,” bebernya.
Fenomena yang kerap terjadi saat ini ialah jika ada orang yang memiliki kapal kemudian kapalnya tak dapat jalan karena tak mampu beli BBM dan docking akhirnya jadi besi tua dan bank pun rugi. “Jadi ini bisa di-handle bersama dan bank pun akan membantu. Ketika beroperasi kapal pun tidak takut tak mendapat muatan, karena dengan kolaborasi tadi muatan juga bisa di-share,” tandasnya dengan optimis.
“Jika ada kapal naik dock, kita bisa duduk bersama-sama berapa biayanya dan pihak bank serta galangan juga sama-sama diuntungkan. Prinsip ini intinya menolong orang yang lagi kesusahan,” ungkapnya lagi.
Sistem koloborasi ini selain untuk meminimalisir cost juga menghasilkan keuntungan bersama. Suatu prinsip yang notabene sudah diatur sebenarnya dalam Pasal 33 ayat 1 UUD 1945, ‘Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan’. Namun sejak republik ini berdiri konsep luhur itu memang dalam perjalanannya masih jauh panggang daripada api.
“Yang kita inginkan adalah keuntungan bersama, bukan pula ekonomi yang high cost tetapi yang minimize cost,” pungkas Adharta.
(Adit/MN)
Jakarta (Maritimnews) - Keluarga Besar Federasi Serikat Pekerja (FSP BUMN Bersatu) berdukacita atas kejadian tabrakan…
Jakarta (Maritimnews) - Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada…
Makassar (Maritimnews) - Peluang kolaborasi internasional di sektor kepelabuhanan dan kawasan industri semakin terbuka setelah…
Makassar (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memperkuat sinergi…
Bandar Lampung (Maritimnews) - IPC Terminal Peti Kemas (IPC TPK) area Panjang berhasil menjaga produktivitas…
Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) konsisten…