Pengerukan Alur Pelayaran Pelabuhan Pulau Baai jadi Proyek Tahunan

Alur pelayaran pelabuhan Bengkulu

MN, Bengkulu – Masalah klasik yang tak kunjung usai di pelabuhan Pulau Baai Bengkulu, adalah kondisi alur pelayaran yang selalu mengalami pendangkalan (sedimentasi). Oleh sebab itu, alur masuk pelabuhan wajib dilakukan pengerukan secara berkala dan optimal.

Volume sedimentasi tinggi, tak ada opsi lain bagi alur pelayaran dan kolam pelabuhan Pulau Baai selain dikeruk. Pekerjaan pengerukan menjadi proyek rutin setiap tahun, terlambat saja dikeruk maka kapal besar tidak dapat sandar di pelabuhan.

Kegiatan pengerukan di alur pelayaran sebanyak dua kali dalam setahun, untuk mempertahankan kedalaman minus 10 mLws. Diperkirakan sedimentasi sebanyak 50.000 meter kubik perbulan atau volume sedimentasi rata-rata 600.000 meter kubik pertahun.

Biaya pengerukannya pun tidak sedikit, disinyalir sekali keruk (per enam bulan) biaya sekitar Rp 25 milyar. Itu artinya dalam setahun akan menelan dana sebesar Rp 50 milyar, bahkan bisa lebih apabila ada biaya “tak terduga”.

Berdasarkan keterangan tim PT Pelindo II/IPC Bengkulu, Kamis (31/5), lokasi terparah akibat sedimentasi berada di alur pelayaran spot 1.200 sepanjang 300 sampai 400 meter persegi yang endapan material pasirnya telah mencapai permukaan.

Kondisi alur pelayaran tidak didukung pemeliharaan sandtrap yang optimal. Sandtrap telah menampung sekitar 6 – 7 juta meter kubik pasir (terlihat bagai daratan), hingga material pasir terpaksa beralih masuk alur.

Sepatutnya pengerukan alur pelayaran dan sandtrap di pelabuhan Pulau Baai dilakukan oleh kapal keruk kapasitas minimal 150.000 meter kubik, agar kinerja kapal lebih optimal.

Seperti diketahui pada akhir Maret 2018, alur pelayaran pelabuhan Pulau Baai mulai dikeruk dari minus 5,5 mLws menjadi minus 10 mLws menggunakan kapal TSHD Kalimantan II Type Hopper kapasitas 4.000 meter kubik milik PT Rukindo.

Entah bagaimana, sedimentasi masih tinggi dan penanganan pengerukan yang kurang optimal. Praktis tak ada kegiatan ekspor batubara menggunakan kapal besar kapasitas 35.000 ton. Angkutan batubara hanya menggunakan tongkang (draft 5,7 meter), itupun menunggu air laut pasang.

(Bayu/MN)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Pelindo Regional 4 Kunjungi KPPU Makassar, Perkuat Persaingan Sehat Jasa Kepelabuhanan

Makassar (Maritimnews) – PT Pelindo (Persero) Regional 4 mengunjungi kantor Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)…

13 hours ago

IPCC Gelar Public Expose 2026

Jakarta (Maritimnews) – PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IDX:IPCC), anak perusahaan PT Pelindo Multi Terminal…

3 days ago

Pelindo Gelar Coffee Morning, Sosialisasikan peralihan Nota Layanan Jasa Barang Non Petikemas

Jakarta (Maririmnews) - Dalam rangka meningkatkan sinergitas hubungan kerja sama yang telah terjaga dengan baik,…

4 days ago

TPS Gelar Safety Drill Hadapi Cuaca Ekstrem

Surabaya (Maritimnews) – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menggelar Safety Drill Angin Kencang di area…

1 week ago

TPK Koja Gelar Pelindo Mengajar 2026 di SMAN 8 Yogyakarta

Yogyakarta (Maritimnews) - KSO Terminal Petikemas Koja (TPK Koja) menggelar Program Pelindo Mengajar sebagai bagian…

1 week ago

Hari Sumpah Pemuda, Pelindo Regional 3 Gelar Donor Darah

Surabaya (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 3 berkomitmen untuk terus mendorong kegiatan sosial…

1 week ago