Published On: Thu, Sep 13th, 2018

Kecelakaan Cikidang, Dampak Panjang Pariwisata Maritim Nasional

Arung Jeram Sungai Citarik.

Arung Jeram Sungai Citarik.

MN, Jakarta – Kecelakaan bus pariwisata di daerah Cikidang Sukabumi beberapa waktu menyisakan beberapa persoalan yang turut mengikuti tragedi memilukan tersebut. Selain menyebabkan 21 jiwa melayang, kecelakaan tragis ini juga berdampak langsung pada sektor pariwisata di daerah tersebut.

Pihak terkait masalah ini (Dishub dan Polres Sukabumi) melalui pemberitaan di beberapa media menyatakan bahwa jalan yang menjadi alternatif penghubung menuju Pelabuhan Ratu ini tidak diperuntukan bagi bus dan truk. Bahkan sudah terpasang pemberitahuan dengan narasi yang bertuliskan ‘Bus Besar/Kecil Dilarang Masuk Sering Terjadi Kecelakaan’.

Hal ini tentu saja membuat resah sebagian besar penduduk kawasan ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa sektor pariwisata, dalam hal ini wisata arung jeram, cukup memiliki andil dalam perkembangan kawasan ini, setidaknya bagi sebagian masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari usaha-usaha yang terkait dengan pariwisata di kawasan ini.

Pada dasarnya, kawasan ini merupakan salah satu wilayah dengan potensi ekonomi yang sangat besar. Sebelum perkebunan kelapa sawit merajai lahan-lahan perkebunan di wilayah ini, kawasan ini didominasi hutan karet yang di beberapa lokasi masih terlihat rindang.

Memasuki medio tahun sembilan puluhan, kawasan ini memasuki salah satu fase penting dalam sejarah perkembangan wilayahnya. Masuknya pelopor wisata petualangan berbasis arung jeram, Sobek Bali, sedikit demi sedikit turut serta mengubah wajah kawasan ini.

Di sini sejarah kawasan ini mulai berubah perlahan. Orang-orang dari luar kawasan, utamanya dari ibu kota, lebih mengenal kawasan ini sebagai Citarik, merujuk pada sungai yang mengalir melewati kawasan ini. Hal in i terus berlangsung hingga kini meskipun di daerah yang sedikit lebih jauh, yaitu di Pelabuhan Ratu, ada sebuah desa yang bernama Citarik.

Istilah ‘Citarik’ pun sudah bisa dikatakan menjadi trademark bagi para pelaku usaha pariwisata di kawasan ini. Tedapat enam operator arung jeram yang seluruhnya lebih memilih mendekatkan diri dengan istilah Citarik dibanding Cikidang itu sendiri.

Bila sebelumnya sebagian besar penduduk di kawasan Cikidang rata-rata berprofesi sebagai petani, penyadap karet, atau bekerja keluar wilayah tersebut, maka saat ini ketika perubahan kawasan tersebut mendekati usia 30 tahun, sudah tidak asing lagi menemukan penduduk kawasan ini yang berprofesi di bidang pariwisata.

Sangat mudah menemukan penduduk Cikidang yang berprofesi sebagai pemandu wisata, pemandu arung jeram, pekerja penginapan, fasilitator outbond, tukang masak, hingga atlet dan pelatih arung jeram. Ini belum termasuk penduduk yang bekerja atau memiliki usaha yang secara tidak langsung terkait dengan sektor pariwisata, seperti penyedia jasa angkutan antar jemput peserta arung jeram (touring), penyedia makanan, fotografer, hingga penyanyi dan pemain organ tunggal.

Kawasan ini juga mengukir sejarah besar setelah terpilih menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Arung Jeram (World Rafting Competition/WRC) pada tahun 2015 yang lalu. Dalam ajang bertaraf internasional tersebut, Indonesia juga sukses untuk pertama kalinya dalam sejarah keikutsertaannya meraih kemenangan dalam beberapa kategori lomba.

Merujuk pada beberapa fakta tersebut, alangkah bijaknya apabila pihak-pihak terkait dalam masalah ini, terutama yang memiliki peran terkait regulasi, bersikap lebih arif dalam setiap tindakan, keputusan, ataupun pernyataan yang dilontarkan kepada publik.

Baik pernyataan maupun penerapan larangan masuknya bus besar ataupun kecil ke kawasan tersebut, akan berdampak terhadap kondisi pariwisata di kawasan ini, baik dampak secara langsung maupun tidak langsung.

Dengan terjadinya musibah ini saja, penduduk setempat yang kehidupannya bergantung dari sektor pariwisata ini sudah cukup diresahkan dengan potensi menurunnya jumlah pegunjung di kemudian hari yang bisa dikatakan merupakan dampak langsung munculnya kekhawatiran akan keselamatan melewati jalur ini untuk sampai ke objek wisata tersebut.

Kini ditambah dengan beberapa pernyataan serta himbauan yang bernada larangan bagi bus besar/kecil memasuki wilayah tersebut akan membuat kondisi ini menjadi semakin sulit. Akan lebih arif dan bijak apabila pihak-pihak yang berwenang sambil mencari akar masalah dan solusi terbaik menahan diri untuk mengeluarkan pernyataan yang membingungkan.

Menjadi ironi ketika keluar pernyataan bahwa jalur ini bukan untuk bus saat terjadi musibah yang menewaskan 21 jiwa tersebut, ketika korban jiwa yang cukup besar sudah jatuh. Bagaimana bus tersebut bisa masuk ke kawasan itu bila memang dilarang, dan seberapa banyak pelanggaran yang terjadi selama ini.

Bila memang dilarang, mengapa setiap minggu terkecuali pada bulan Ramadhan, selalu ada bus pariwisata yang melewati jalur ini. Bila memang dilarang, mengapa dalam beberapa kesempatan ditemukan rombongan yang justru mendapat ‘pengawalan’ saat hendak berwisata ke kawasan ini. Di jalur ini pun, terdapat satu kantor Kepolisian Sektor (Polsek) yang pasti dilewati oleh bus-bus tersebut.

Seperti disebutkan sebelumnya, pada akhir tahun 2015 yang lalu, daerah ini terpilih menjadi tuan rumah penyelengaraan World Rafting Competition (WRC), yang dihadiri oleh ratusan atlet dari seluruh dunia.

Sudah mahfum bahwa untuk mengangkut atlet-atlet tersebut mayoritas menggunakan bus ukuran medium dari berbagai perusahaan otobus. Dan dalam masa kedatangan dan kepulangan para atlet tersebut, hampir setiap hari banyak bus medium yang hilir mudik melewati jalur ini untuk sampai ke lokasi penyelenggaraan.

Apakah hal ini luput dari perhatian pihak yang berwenang, dan apakah mungkin pihak-pihak yang berwenang tersebut tidak mengetahui akan adanya ajang ini?

Setidaknya, dalam menyikapi permasalahan ini, seluruh pihak yang terkait dan berwenang dalam hal aturan ataupun larangan, lebih bersikap tenang, bijak, dan tidak terkesan terburu-buru. Pernyataan yang sudah dikeluarkan dan sudah tersebar luas ke masyarakat umum, akan sulit untuk ditarik kembali.  Bila itu berdampak negatif, akan sulit untuk memulihkannya lagi.

Jalur ini juga merupakan jalur yang sangat penting dalam mendukung sektor pariwisata, utamanya pariwisata maritim. Sesuai dengan visi ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, presiden Joko Widodo mengeluarkan lima pilar yang salah satu diantaranya berbunyi ‘Memberi prioritas pada pembangunan infrastruktur dan konektivitas maritim dengan membangun tol laut, deep seaport, logistik, industri perkapalan, dan pariwisata maritim’.

Bisa kita lihat bahwa pariwisata maritim masuk menjadi salah satu penopang visi bangsa kita. Dan jalur ini merupakan salah satu elemen penting dalam mendukung pariwisata maritim kita, utamanya di wilayah Sukabumi.

Selain menjadi jalur utama menuju sentra arung jeram, jalur ini juga menjadi jalur alternatif utama untuk menuju lokasi-lokasi pariwisata maritim lainnya, seperti Pelabuhan Ratu, Sarwana, hingga lokasi yang saat ini sedang hits, Geopark Cileteuh. Jalur ini bisa mempesingkat waktu tempuh hingga beberapa jam perjalanan.

Perlu kearifan, kerja sama, dan saling pengertian dalam meyikapi masalah ini. Karena ada ratusan orang dan mungkin menyentuh angka ribuan yang kehidupannya terkait dengan jalur ini.

About the Author

- Redaktur

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha

alterntif text
alterntif text
alterntif text
Connect with us on social networks
Recommend on Google
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com