Published On: Wed, Jan 16th, 2019

Bangsa Ini Layaknya Manfaatkan Potensi Jaringan Internet untuk Edukasi Bencana Alam

Suasana usai tsunami di wilayah Banten

MNOL, Jakarta – Rentetan bencana alam yang terus banyak mendera negeri ini di sepanjang tahun 2018 yang lalu, seharusnya menyadarkan kita akan pentingnya pendidikan atau edukasi kebencanaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di luar tiga bencana dahsyat yang melanda penghujung tahun lalu (Lombok, Sulawesi Tengah, dan Banten), tercatat banyak bencana lainnya yang menerjang negeri di sepanjang tahun lalu dalam skala yang bervariasi, yang didominasi oleh banjir, tanah longsor, angin ribut, hingga gunung meletus. Selain itu, ada pula gempa-gempa lain yang melanda negeri ini dengan efek kerusakan yang tidak separah Lombok, Palu, maupun Donggala.

Pada akhir tahun 2018 yang lalu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan peringatan tentang sejumlah 2.500 bencana alam yang berpotensi menerjang negeri di tahun 2019 ini.

Dengan berkaca pada dua tsunami besar yang melanda Sulawesi Tengah dan Selat Sunda di tahun 2018 yang lalu, kita bisa melihat kurang siapnya masyarakat Indonesia dalam menghadapi bencana yang sejatinya sudah berada di depan mata. Dalam kasus Palu, tak hanya permasalahan kurangnya koordinasi dan pola komunikasi BMKG yang buruk, kondisi masyarakat yag sadar bencana belum terbentuk.

Hal ini bisa dilihat dari salah satu video amatir yang diunggah oleh warga yang mengalami langsung peristiwa tersebut, di mana saat gelombang tsunami dalam hitungan menit sudah terlihat menuju Palu, masih banyak masyarakat yang beraktifitas dan berlalu lalang di lokasi yang paling rawan diterjang gelombang dahsyat tersebut. Bahkan ada satu unit mobil yang justru malah berhenti seakan sedang bersantai ria menunggu gelombang tersebut menyapu dirinya.

Senada dengan Palu, di Anyer dan beberapa lokasi wisata di Banten pun demikian kondisinya. Saat tsunami Selat Sunda menerjang, grup musik Seventeen yang saat itu sedang menghibur para peserta gathering Perusahaan Listrik Negara (PLN), secara tiba-tiba diterjang gelombang tsunami dan pada akhirnya menewaskan empat personelnya serta banyak korban lainnya.

Terlihat orang-orang yang berada di sana tak siap, bahkan kondisi lokasi acara pun boleh dikatakan memang sangat rawan terdampak bencana. Inilah yang harusnya kita sikapi sedari kini, agar kejadian demi kejadian yang memakan korban jiwa yang sangat banyak bisa diminimalisir.

Dari banyak keterangan yang terkumpul, masih dapat disimpulkan bahwa masyarakat  Indonesia pada umumnya belum atau tidak sadar bencana. Di sinilah perlu kerja keras seluruh pihak-pihak yang berkepentingan dengan ini untuk terus memberikan edukasi kepada pihak-pihak yang notabenenya belum memahami pentingnya hal ini.

Kita bisa memanfaatkan jaringan internet untuk edukasi ini. Dengan jumlah pengguna internet aktif sebesar 143,26 juta jiwa (data APJII), potensi memberikan edukasi kepada sebagian masyarakat Indonesia adalah sebuah keniscayaan.

Dengan beragam metode  yang bisa dilakukan, selayaknya usaha dengan memaksimalkan potensi jaringan internet ini bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan bila terjadi suatu bencana. Dengan pemberian edukasi dini yang terarah, diharapkan dalam waktu yang lebih cepat masyarakat sadar bencana di negeri ini sudah terbentuk.

Dalam beberapa bencana besar terakhir yang terjadi, banyak hoax muncul yang memanfaatkan jaringan internet. Baik itu melalui aplikasi pesan singkat, media sosial, ataupun media informasi lainnya.

Analoginya, bila hoax saat terjadi ataupun terkait bencana bisa sangat mudah menyebar, edukasi tentang mitigasi bencana pun sudah selayaknya mudah disebarkan.

About the Author

- Redaktur

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com