Categories: GeopolitikHLTerbaru

AS Tambah Pangkalan Militernya, ‘Bargaining Power’ Filipina Makin Tinggi

Ilustrasi Foto: Istimewa

Jakarta (Maritimnews) – Usai menggelar latihan militer bersama Filipina, Amerika Serikat (AS) terus menjalin hubungan dengan negara-negara ASEAN. Baru-baru ini, Kepala Staf Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) James McConville bertemu dengan Menteri Pertahanan (Menhan) RI Prabowo Subianto di Jakarta.

Keduanya membahas kerja sama militer guna meningkatkan perdamaian, keamanan dan stabilitas kawasan. Indonesia tentu tetap mengacu sebagai negara yang netral dalam konflik Laut China Selatan (LCS).

Dengan Filipina, AS memang sudah membuat kesepakatan kerja sama militer yang dikenal dengan Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA) sejak 2014. Pangkalan militer AS terus bertambah mencapai 9 titik di tahun 2023 ini.

Tujuannya tak lain adalah membendung pengaruh kekuatan China di dalam spektrum konflik Laut China Selatan.

Menurut Wakil Ketua Umum Praktisi Maritim Indonesia (Pramarin) Laksda TNI (Purn) Dr. Surya Wiranto, kerja sama militer AS itu tak dipungkiri akan menimbulkan gejolak yang lebih tinggi di kawasan.

Ia menjelaskan bagi negara-negara yang berkonflik seperti Filipina, kerja sama tersebut memang diharapkan untuk menaikan nilai tawar negaranya di dalam konflik Laut China Selatan.

“Sejak Putusan Permanent Court of Arbitrase (PCA) keluar pada 2016, Filipina tidak bisa meng-endors putusan tersebut karena China menolak, maka dari itu adanya bantuan atau kerja sama militer dengan AS menjadi bargaining power yang menguntungkan mereka,” ucap Surya kepada maritimnews, Minggu (14/5).

Tak hanya Filipina, negara-negara yang berkonflik lainnya di LCS seperti Vietnam, Malaysia dan Brunai Darussalam juga akan senang dengan adanya perkuatan pangkalan militer AS di kawasannya.

“Mereka sebenarnya hanya dimanfaatkan untuk terlibat dalam pusara konflik, yang mana tentu sangat menguntungkan AS dalam upaya mengepung China,” jelasnya.

Lanjut Purnawirawan Bintang Dua TNI AL itu, suasana demikian semakin mengarah kepada besarnya perlombaan senjata antarnegara di kawasan.

“Nah peran Indonesia harus bisa mendamaikan. Indonesia sebagai non blok harus berupaya untuk mewujudkan stabilitas kawasan,” tuturnya.

Walaupun ketika terjadi perang di kawasan ini, Indonesia menjadi negara yang terdampak akibat itu karena titik konflik berada di beranda wilayah kita.

“Dalam sisi kekuatan Indonesia juga harus siap ketika terjadi perang, karena mau tidak mau, suka tidak suka pasti akan terdampak pada kepentingan nasional kita,” pungkasnya. (*)

 

 

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Program Jejak Pelabuhan, Mahasiswa/i UI Kunjungi IPC TPK

Jakarta (Maritimnews) - Kunjungan Mahasiswa dan Mahasiswi Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia (UI) ke…

2 days ago

IPC TPK Gelar Pelatihan Keterampilan Bagi Perempuan Penyandang Disabilitas di Pontianak

Pontianak (Maritimnews) - Dukungan perusahaan IPC Terminal Petikemas terhadap Asta Cita ke-4 Pemerintah Republik Indonesia…

2 days ago

Sinergi Operasional IPC TPK dan PTP di Teluk Bayur

Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Area Teluk Bayur bersama PT Pelabuhan Tanjung…

2 days ago

IPC TPK Jambi Dukung Kelancaran Ekspor Kayu Manis ke Mancanegara

Jambi (Maritimnews) - Indonesia adalah produsen dan eksportir utama kayu manis global, menguasai sekitar 41%…

3 days ago

Barang Kami Tertahan, Bisnis Kami Pun Ikut Berhenti

Dwelling time yang masih jauh di atas standar internasional bukan sekadar masalah teknis kepelabuhanan —…

5 days ago

Pelindo Perkuat Sinergitas Optimalisasi Terminal Kijing, Akses Jalan jadi Prioritas

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) memperkuat sinergitas optimalisasi Terminal Kijing Mempawah Kalimantan Barat…

7 days ago