Ironi Hari Nelayan, Abdul Rivai Ras: Adakah Bangsa ini Mencintai Nelayannya?

Kolonel Laut (KH) Abd. RIvai Ras. (Foto; Dok Pribadi)

MNOL, Jakarta – Peringatan Hari Nelayan Nasional yang jatuh pada hari ini, 6 April 2016, membuat tuntutan dari berbagai pihak untuk bersama-sama memperbaiki nasib nelayan. Sehingga peringatan Hari Nelayan ini sarat akan ironi sebagai negeri yang dilimpahi laut yang luas dan melimpah kekayaannya, namun kondisi nelayannya begitu memprihatinkan.

Menanggapi fenomena tersebut, pengamat maritim, Kolonel (KH) Abdul Rivai Ras menyatakan kendati sudah mencanangkan diri sebagai negara poros maritim dunia, namun masih banyak yang tak sadar dan peduli akan nasib nelayan di bangsa ini.

“Tak banyak pemberitaan yang membahas Hari Nelayan, tak ada peringatan gegap gempita, tak banyak pula yang sadar dan mau peduli dengan nasib nelayan di Republik ini, sungguh miris kita melihatnya,” ujar Rivai dengan berkeluh kesah.

Nampaknya, Indonesia belum sepenuh hati mengangkat harkat dan martabat nelayan, terutama dari garis kemiskinan yang melanda kehidupannya saat ini. Nelayan kita mendapat predikat sebagai penyumbang 7,87 juta jiwa bagi jumlah total rakyat miskin Indonesia yang mencapai 31,02 juta jiwa.

“Tingkat kesejahteraan nelayan pun belum kunjung membaik. Masih terseok seok di antara 31,02 juta jiwa penduduk miskin nasional,” selorohnya.

Lebih lanjut, Bakal Calon Gubernur Sulawesi Selatan itu mengungkapkan kehidupan nelayan yang jauh dari hidup mentereng, turut menjadi alasan profesi ini kian tidak diminati khususnya bagi anak muda.

“Dengan kulit gelap terbakar matahari dan bau amis karena harus bergumul dengan ikan hasil tangkapan. Jam kerja yang tidak biasa, karena harus pergi melaut hingga berhari-hari, karena itu pula tak banyak diminati oleh anak muda zaman sekarang,” tandasnya.

Profesi yang disebut-sebut hanya pelarian karena tak diterima di profesi kerja lainnya, sambung Pamen TNI AL yang kerap menjadi pengajar di berbagai Perguruan Tinggi itu meluapkan kerisauan hatinya. Menurutnya, kondisi ini makin terbalik dengan sumber daya laut kita yang begitu melimpah.

“Ironi, bila melihat apa yang terjadi dengan nelayan Indonesia. Hidup merana, terbelit utang, rumah tidak layak dan hidup jauh dari sehat,” keluhnya.

Di akhir penyampaiannya, Rivai berkilah dengan semboyan kita yang katanya mengaku bernenek moyang seorang pelaut, namun kehidupan nelayannya hidup segan mati tak mau.

“Adakah bangsa yang kita cintai ini mencintai para nelayannya,” pungkasnya. (TAN)

 

 

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Maklumat Pelayanan, Komitmen Pelindo Regional 2 Tanjung Priok

Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka meningkatkan kepercayaan masyarakat dan pengguna jasa terhadap pelayanan terminal penumpang,…

2 days ago

IPC TPK dan Mitra PBM Dorong Operational Excellence

Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka menghadirkan layanan terminal yang unggul (Operational Excellence) berkelanjutan, PT IPC…

7 days ago

Hari Lingkungan Hidup 2026, Kolaborasi Pelindo Regional 2 Priok dan Pemkot Jakut

Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 PT Pelabuhan Indonesia (Persero)…

7 days ago

Transformasi Terminal Sri Bintan Pura Tingkatkan Sinergitas

Tanjung Pinang (Maritimnews) - Langkah Transformasi Terminal Penumpang Sri Bintan Pura di Tanjung Pinang telah…

7 days ago

Jalan di Balik Dermaga: Menuntaskan Hinterland yang Terlupakan

Investasi besar pada terminal pelabuhan tanpa membenahi konektivitas di belakangnya ibarat membangun mulut tanpa tenggorokan.…

1 week ago

Geliat IPC TPK Panjang Dukung Ekspor Provinsi Lampung

Bandar Lampung (Maritimnews) - PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) area Panjang semakin memperkuat perannya…

2 weeks ago