TKBM Pelabuhan Tanjung Priok, Hidup Segan Mati Tak Mau

Para TKBM Pelabuhan Tanjung Priok, makin tergantikan dengan teknologi. (Foto: Bayu/MN)

MNOL, Jakarta – Penerapan peralatan bongkar muat berteknologi canggih di Pelabuhan Tanjung Priok, ternyata berpengaruh signifikan terhadap Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) yang bekerja di pelabuhan tersebut. Sejak penerapan peralatan canggih di tahun 2014, jumlah pekerja yang dipakai untuk menunjang kegiatan bongkar muat menurun mencapai 50 %.

“Sebelum 2014, kegiatan bongkar muat membutuhkan rata-rata 1.400 pekerja, saat ini kegiatan bongkar muat butuh sekitar 1.000 pekerja saja,” jelas GM UUPJ Koperasi TKBM Pelabuhan Tanjung Priok, Sutejo,  kepada maritimnews.com, Selasa (3/5) di Jakarta.

Keberadaan TKBM seperti hidup segan mati pun tak mau, betapa tidak, dari seluruh peralatan bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok hampir 90 % didominasi oleh alat dengan sistem canggih. Dipastikan itu telah mengurangi peran para pekerja. Data Koperasi TKBM Pelabuhan Tanjung Priok menyebutkan bahwa jumlah anggota tahun 2016 sebanyak 2.439 orang, berarti hanya sekitar 1.200 TKBM yang mendapat kerja bersama peralatan canggih di terminal-terminal milik PT Pelabuhan Indonesia II/IPC.

“TKBM hanya dianggap penunjang kegiatan bongkar muat saja, karena alat-alat canggih di Pelabuhan Tanjung Priok tidak butuh TKBM lagi. Ke depan situasi ini akan semakin memburuk, apabila tidak ada solusinya bagi kami,” ujar Sutejo.

Di satu sisi, pengurus Koperasi TKBM punya kewajiban memberikan hak-hak anggota antara lain, Tunjangan Hari Raya (THR), jaminan pemeliharaan kesehatan, dan pengadaan alat pelindung diri (APD).

“Untuk THR Lebaran tahun 2016, koperasi memerlukan dana tidak sedikit. Sementara pemasukan kami berkurang, otomatis menghambat kinerja koperasi,” paparnya seraya menambahkan pengurus Koperasi berharap pihak Otoritas Pelabuhan selaku Pembina memberikan solusi terbaik bagi mereka.

Selain Rasionalisasi, kata Sutejo, pihak Koperasi TKBM Pelabuhan Tanjung Priok telah menerapkan sistem kerja baru yang tidak lagi menggunakan sistem harian (gang/shift), namun memakai sistem borongan yang dihitung berdasarkan per boks untuk kegiatan bongkar muat container.

“Kami telah menawarkan system borongan dengan tarif Rp 28.500 per boks kepada NPCT1 Kalibaru. Harapannya walaupun pekerjaan berkurang tapi penghasilan bisa meningkat,” tandasnya. (Bayu/MN)

 

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Kepuasan Publik terhadap Kinerja Pemerintahan Prabowo Gibran Mencapai 80,4 Persen

Jakarta (Maritimnews) – Panel Survey Indonesia (PSI) merilis hasil survei nasional mengenai Tingkat Kepuasan Masyarakat…

19 hours ago

Program PELITA 2026 Dimulai di Rawa Badak Utara

Jakarta (Maritimnews) – Peluncuran program Pelindo Tanpa Balita Stunting (PELITA) 2026, IPC Terminal Petikemas bersama…

1 day ago

Pertengahan Juni 2026, Throughput IPC TPK Panjang Tumbuh Signifikan

Jakarta (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Panjang mencatat performa gemilang pada pertengahan tahun…

2 days ago

Negara Maritim yang Takluk di Lautnya Sendiri

Ketika negara gagal menjamin keselamatan warganya dalam aktivitas yang paling mendasar, maka yang dipertanyakan bukan…

2 days ago

Prestasi Penegakan Hukum Jangan Dibangun di Atas Kriminalisasi

oleh: Rizma Wulan Sari, SH, MH (Sekretaris Keluarga Besar Putra Putri Purnawirawan Hakim Indonesia/KB P3HI)…

2 days ago

Karyawan APBS Perkara Pengerukan Pelindo Harus Diputus Bebas Demi Hukum

Oleh: Malvin Berimbing, SH., MH . Direktur Eksekutif LBH-BUMN Indonesia sedang berada pada fase penting…

3 days ago