Ini Torpedo “Predator” Beruang Merah untuk Kekuatan Maritimnya

Torpedo Predator asal Rusia (Foto: jakartagreater)

MNOL, Jakarta – Awal Oktober, sejumlah pakar militer Rusia melaporkan bahwa beberapa perancang di Angkatan Laut (AL) Rusia tengah menyelesaikan rancangan proyek torpedo berkecepatan tinggi terbaru yang fundamental bernama Khischnik (harfiah: predator). Kabarnya Khischnik akan mengungguli kemampuan pendahulunya, Torpedo Shkval (harfiah: badai), yang telah berkontribusi besar selama masa perang dingin.

Namun sayangnya belum ada informasi yang terperinci mengenai torpedo anyar Negeri Beruang Merah tersebut tentang bagaimana karakteristik teknisnya. Maklum, proyek torpedo Khischnik memang sangat dirahasiakan identitas dan kemampuannya.

Dilaporkan oleh RBTH Indonesia, sampai sejauh ini hanya diketahui bahwa torpedo dikembangkan oleh Biro Desain Elektropribor yang memiliki spesifikasi di bidang teknologi aviasi. Selain torpedo, proyek ini juga tengah mengembangkan misil bawah laut yang mesinnya memiliki banyak kesamaan dengan misil versi udara.

Sebagai perbandingan, torpedo standar hanya memiliki kecepatan 140 km/jam. Dengan kecepatan seperti itu, masih memungkinkan kapal lawan yang menjadi target untuk melakukan manuver sehingga dapat menghindari serangan. Tentu hal ini menambah kekuatan maritim negara beribukota Mokow itu.

Sedangkan torpedo Skhval tak memberikan kesempatan pada musuh untuk melakukan manuver penghindaran. Torpedo Skhval memiliki kecepatan meluncur hampir tiga kali lipat daya luncur torpedo standar. Artinya, kapal target hanya diperkenankan untuk menghindar dengan waktu sepertiga dari torpedo standar. Dalam pertempuran laut sesungguhnya, hal tersebut merupakan serangan yang hampir tak terhindarkan.

Sementara torpedo Khischnik, satu hal yang pasti, dalam segi spesifikasi utama, torpedo ini akan melampaui kemampuan dan ketangguhan pendahulunya, Shkval.

Pada era perang dingin, torpedo Shkval telah melalui konfrontasi global Uni Soviet (sekarang Rusia)-Amerika Serikat. Shkvalawalnya diciptakan sebagai balasan Uni Soviet atas pengembangan pertahanan udara AL Amerika Serikat. Sayangnya kedirgantaraan Soviet tak sebanding dengan AL Amerika Serikat yang tangguh pada masa itu. Atas historis tersebut, maka torpedo reaktif akhirnya muncul sebagai upaya untuk mengejar ketertinggalan tersebut.

Shkval merupakan senjata antimarinir yang terbilang cukup efektif. Walaupun namanya mashur pada masa perang dingin, namun Shkval masih populer hingga saat ini. Perancang Rusia mengembangkan sebuah versi ekspor torpedo Shkval pada tahun 1992. Walaupun terbilang lebih inferior dibanding versi aslinya, dari segi jangkauan serta kecepatan, torpedo tersebut tetap lebih unggul dibandingkan senjata sejenis yang diproduksi oleh negara lainnya. (Ery/MN)

 

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Sampai April 2026, Arus Peti Kemas Ekspor di Pelindo Tumbuh 10%

Jakarta (Maritimnews) - Peningkatan arus barang melalui pelabuhan, khususnya peti kemas yang dilayani oleh PT…

2 days ago

Pelindo Group Makassar Memperingati Hari Lahir Pancasila

Makassar (Maritimnews) - Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni, Pelindo Group…

4 days ago

Kepercayaan Industri Otomotif, Ekspor IPCC Tumbuh Signifikan

Jakarta (Maritimnews) - Komitmen PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IDX: IPCC) untuk terus memperkuat kapasitas…

6 days ago

Layanan South China Java X-Press Feeders di IPC TPK Tanjung Priok

Jakarta (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menunjukkan komitmennya mendukung kelancaran arus logistik internasional…

6 days ago

Kebersamaan Idul Adha jadi Momentum bagi IPC TPK

Jakarta (Maritimnews) - Melalui semangat Hari Raya Idul Adha, IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) berharap…

1 week ago

Pelindo Cilacap Salurkan Hewan Qurban Idul Adha 1447 H Bagi Masyarakat Sekitar

Tanjung Intan (Maritimnews) - Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 H/2026 M, program…

1 week ago