Kapal Pesiar Mewah Rusak Terumbu Karang di Raja Ampat

Ilustrasi

MNOL, Raja Ampat – Terumbu karang di Raja Ampat, Propinsi Papua Barat, yang merupakan gugusan terindah di dunia menagalami rusak berat. Hal itu terjadi ketika kapal pesiar berbendera Bahama menabrak terumbu karang saat air laut surut.

Kapal pesiar Caledonian Sky sepanjang 90 meter yang dimiliki oleh operator tur Noble Caledonia, kandas setelah menyelesaikan perjalanan bird-watching ke Pulau Waigeo 4 Maret 2017 lalu.

Caledonian Sky merusak terumbu karang seluas 1.600 meter persegi di situs penyelaman yang dikenal sebagai Crossover Reef. Noble Caledonia menggambarkan kecelakaan itu sebagai “sebuah kemalangan” dan menyatakan bekerja sama sepenuhnya dengan pihak berwenang.

Kerusakan kapal sangat minim dan telah berlayar kembali setelah diperiksa oleh para penyeldiik.

Tim evaluasi resmi dari Universitas Papua menemukan bahwa Kapal Caledonian Sky terperangkap di perairan yang surut meskipun dilengkapi GPS dan instrumen radar. Sebuah kapal penarik dari kota Sorong dikerahkan untuk membantu mengapungkan kapal pesiar.

“Ini sesuatu yang seharusnya tidak terjadi karena kerusakan karang lebih buruk,” ujar Ricardo Tapilatu, Kepala Pusat Penelitian Pacific Marine Resources di Universitas Papua seperti dikutip The Guardian, Jumat (10/3/2017).

Untuk mengurangi kerusakan pada terumbu karang, kapal penarik harus menunggu air pasang untuk mengapungkan kembali Caledonian Sky.

Caledonian Sky seberat 4.290 ton mengangkut 102 penumpang dan 79 awak kapal dalam perjalanan 16 hari dari Papua Nugini ke Filipina. Insiden itu mengakibatkan kehancuran habitat ekosistem struktural dan mengurangi atau menghilangkan keanekaragaman delapan jenis karang, termasuk acropora, porites, montipora dan stylophora.

Tim evaluasi akan merekomendasikan Noble Caledonia membayar kompensasi 800-1,200 dolar AS per meter persegi, atau total 1,28 juta-1,92 juta dolar AS. Sambung Tapilatu, ini berdasarkan fakta bahwa kerusakan terjadi di taman nasional yang menjadi rumah keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia.

“Ganti rugi dari perusahaan akan digunakan untuk memperbaiki terumbu karang yang rusak. Proses diperkirakan memakan waktu hingga satu dekade,” pungkasnya.

Selain itu, uang ganti rugi juga akan dipakai untuk menambah buoy sehingga bisa mencegah kapal masuk ke area yang dangkal saat surut.

(Adit/MN)

 

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Pelindo Gelar Coffee Morning, Sosialisasikan peralihan Nota Layanan Jasa Barang Non Petikemas

Jakarta (Maririmnews) - Dalam rangka meningkatkan sinergitas hubungan kerja sama yang telah terjaga dengan baik,…

9 hours ago

TPS Gelar Safety Drill Hadapi Cuaca Ekstrem

Surabaya (Maritimnews) – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menggelar Safety Drill Angin Kencang di area…

6 days ago

TPK Koja Gelar Pelindo Mengajar 2026 di SMAN 8 Yogyakarta

Yogyakarta (Maritimnews) - KSO Terminal Petikemas Koja (TPK Koja) menggelar Program Pelindo Mengajar sebagai bagian…

6 days ago

Hari Sumpah Pemuda, Pelindo Regional 3 Gelar Donor Darah

Surabaya (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 3 berkomitmen untuk terus mendorong kegiatan sosial…

6 days ago

Satu Dekade NPCT 1, Kapasitas Hampir Penuh

Jakarta (Maritimnews) - New Priok Container Terminal One (NPCT1) baru saja merayakan satu dekade operasional…

1 week ago

Pelindo FC Harumkan Indonesia, Juara FIFCO World Corporate Champions Cup 2026 di Turki

Antalya, Turki (Maritimnews) - Perhelatan FIFCO World Corporate Champions Cup 2026 merupakan kompetisi minisoccer korporasi…

1 week ago