Categories: HLOpiniTerbaru

Mari Kawal Poros Maritim dari Timur Indonesia

 

Oleh: Muhammad Sutisna S.Sos*

 

Dari Sabang sampai Merauke

Berjajar pulau-pulau

Sambung menyambung menjadi satu

Itulah Indonesia

Indonesia tanah airku

Aku berjanji padamu

Menjunjung tanah airku

Tanah airku Indonesia (Sabang sampai Merauke, cipt: R Suharjo)

Kapal Pinisi buatan Bulukumba, simbol maritim Indonesia Timur

Lirik lagu di atas memang sudah tak asing lagi terdengar, yang selalu terngiang dalam ingatan kita. Sekaligus menegaskan bahwa Indonesia adalah negara maritim yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke serta memiliki wilayah yang sebagian besar kepulauan dan laut yang menjadi penyambungnya. Sebuah jatidiri bangsa yang selalu kita tegaskan bahwa bangsa ini adalah bangsa maritim.

Secara Geografis jumlah pulau di Indonesia terdiri atas 17.504 pulau dan terletak pada posisi silang dunia, yaitu di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, serta di antara Benua Asia dan Benua Australia. Luas wilayah Indonesia adalah 7,9 km2, terdiri atas 1,8 juta km2 berupa daratan, 3,2 juta km2 wilayah laut territorial, dan 2.9 juta km2 sebagai perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dengan panjang garis pantai sekitar ±93.000 km. Berdasarkan hasil survey Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Pushidrosal), total wilayah Indonesia 77% berupa perairan atau tiga kali luas wilayah daratannya.

Deklarasi Djuanda pada tanggal 13 Desember 1957 merupakan langkah awal bagi Indonesia untuk menegaskan pada dunia internasional sebagai negara kepulauan yang berdaulat. Meskipun kedudukan Indonesia sebagai negara maritim baru disahkan melalui perjalanan yang panjang, yakni pada tahun 1982. Pada momentum diterima dan ditetapkannya dalam konvensi hukum laut PBB ke-III Tahun 1982 (United Nations Convention On The Law of The Sea/UNCLOS 1982). Selanjutnya deklarasi ini dipertegas kembali dengan UU Nomor 17 Tahun 1985 tentang pengesahan UNCLOS 1982 bahwa Indonesia adalah negara kepulauan.

Dalam romantisme masa silam yang begitu indahnya, Wilayah Nusantara (sebelum disebut Indonesia) melahirkan  pelaut-pelaut yang tangguh. Sebut saja di wilayah Timur ada Sultan Nuku, Gurabesi dan tentunya Sultan Hasanuddin, Sang Ayam Jantan dari Timur yang memiliki keberanian dalam setiap mengarungi lautan dan perlawanannya dalam menghadapi Belanda sang penjajah. Keberanian itu ada, karena disebabkan oleh iklim geopolitik global yang menjadikan laut sebagai arena pertarungan dan pusat peradaban.

Bahkan jauh sebelum bangsa Eropa mulai mengarungi lautan, Bangsa kita sudah terlebih dahulu mengarungi lautan, dengan menggunakan Kapal Pinisi yang menjadi ciri khas masyarakat timur khususnya suku Bugis yang saat itu menjadi simbol kebanggaan maritim di bumi Nusantara.

Kawasan timur Nusantara juga memiliki peranan penting dalam konstelasi global, ketika Makassar menjadi pusat perdagangan internasional, serta pusat kebudayaan karena adanya akulturasi budaya antara pribumi dengan non pribumi sehingga pada saat itu pantai serta pelabuhan menjadi tempat yang sangat strategis di era tersebut. Kerajaan-kerajaan di wilayah timur memiliki kekayaan rempah-rempah yang melimpah, sehingga menjadi salah satu target operasi dari para imperialis untuk menguasainya sebagai bentuk  monopoli perdagangan agar bisa mendapatkan barang dengan harga murah.

Menurut sejarahwan Tome Pires upaya perlawanan terhadap para penjajah oleh rakyat Makassar terus menggelora meskipun pada akhirnya tumbang. Hal itu akibat konflik internal yang berhasil diciptakan oleh VOC melalui politik adu domba dan adanya Perjanjian Bongaya pada 1667.

Praktis peristiwa itu  berhasil meruntuhkan kejayaan peradaban maritim di Nusantara. Mengubah mindset rakyat menjadi mental inlander dan bercorak kontinental yang dibangun oleh Belanda. Dan sampai saat ini bangsa ini masih kehilangan jatidirinya sebagai bangsa maritim.

Pembangunan Belum Merata

Romantisme masa lalu yang menggambarkan tentang posisi kejayaan maritim di Nusantara khususnya di wilayah Timur tidak cukup membangkitkan kembali peradaban maritim di kawasan ini. Justru malah sebaliknya, di kawasan timur Indonesia yang kaya akan sumber daya maritimnya terkesan tertinggal jauh selama Republik ini berdiri. Pemerintah lebih sibuk kepada permasalahan konflik horizontal di beberapa daerah.

Kendati Indonesia dalam kategori negara maritim bila dilihat dari perspektif wilayah dan sejarahnya, namun masih gagal menjadikan laut sebagai sumber kehidupan dan penghidupannya. Terutama dalam perdagangan nasional yang berdampak kepada perekonomian nasional. Sehingga hal tersebut menyebabkan tidak meratanya pembangunan akibat dari terlalu fokusnya pembangunan yang tersentral di Pulau Jawa.  Karena Indonesia bukan hanya Pulau Jawa saja, tetapi terbentang dari Sabang hingga Merauke yang disatukan melalui laut dengan potensi ekonominya yang melimpah.

Permasalahan lainnya  masih terjebaknya kontradiksi apakah Indonesia ini negara maritim atau negara agraris. Namun nyatanya untuk memenuhi kebutuhan pangan Indonesia masih tetap harus impor baik beras maupun beberapa kebutuhan pokok lainnya. Itu menjadi tugas bersama bagi kita yang masih peduli akan keberlangsungan hidup di republik ini.

Di sektor maritim, kita sering mengalami kerugian yang amat besar, melebihi kerugian kita ketika ditinggal oleh sang kekasih. Karena itu hanya menyangkut permasalahan individu saja. Berbeda dengan kerugian di sektor maritim yang menyangkut hajat hidup rakyat khususnya di kawasan Indonesia Timur, ketika banyaknya illegal fishing, penyelundupan lewat jalur laut, dan masih banyak lagi beberapa contoh kasus tentang kerugian Indonesia di sektor maritim.

Poros Maritim Jokowi, Teruskan Cita-cita Gus Dur

Menurut penulis yang menjadi alasan kenapa Presiden Jokowi sangat serius dalam pembangunan di sektor maritim, salah satunya adalah meneruskan amanat Presiden RI Keempat, KH Abdurrachman Wahid (Gus Dur). Setelah 32 tahun rezim Soeharto belum mampu membangkitkan semangat maritim yang dimiliki bangsa ini. Namun, Gus Dur telah melakukan gebrakan dengan membentuk Departemen Kelautan sebagai salah satu bentuk ikhtiarnya dalam menjadikan laut sebagai sumber utama kehidupan. Karena dengan laut lah bangsa ini akan bangkit dari keterpurukan.

Pelantikan Jokowi – JK di atas kapal pinishi

Meskipun kepemimpinan Gus Dur tidak berlangsung lama, setidaknya putra sulung KH Wahid Hasyim itu telah membuka jalan bagi kita untuk kembali meneruskan semangat yang sebenarnya sudah diemban oleh Sang Proklamator, Bung Karno pada masa pemerintahannya. Di era pemerintahan Presiden Joko Widodo saat ini, salah satu Nawacita-nya adalah menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Melihat kondisi geografis Indonesia Timur yang memiliki sumber daya yang melimpah mulai dari sumber daya mineral seperti Blok Masela, potensi ALKI II dan III serta kondisi perairan yang menjadi pertemuan arus yang menghasilkan sumber daya ikan melimpah hingga potensi wisata laut yang sangat indah tentunya.

Seperti apa yang dikatakan oleh Rear Admiral Alfred Thayer Mahan yang merupakan pimpinan besar US NAVY juga seorang pencetus teori pertahanan maritim. Menurutnya, ada beberapa faktor suatu negara dikategorikan sebagai negara maritim dengan kekuatan laut terbesar yakni: letak geografi (geographical position), bangun muka bumi (physical conformation), luas dan panjang wilayah (extent of territory), karakter penduduk (character of the people), jumlah penduduk (number of population), dan karakter pemerintah (character of govermeny).

Dari beberapa teori yang dijelaskan oleh Mahan tersebut, untuk mencapai negara maritim Indonesia belum memiliki 2 ciri yakni  karakter dari penduduk dan karakter pemerintah. Namn dengan karakter orang-orang Indonesia timur, setidaknya ada harapan untuk menjadikan laut sebagai simbol peradaban di bumi pertiwi. Seperti  yang pernah dilakukan oleh para pelaut-pelaut tangguh dari Indonesia Timur.

Sudah saatnya Indonesia Jaya, Seperti apa yang dikatakan oleh Presiden Jokowi dalam kunjungannya di Ambon sekaligus menjadikan Ambon sebagai lumbung ikan Nasional “kita sudah lama memunggungi laut, memunggungi teluk, dan memunggungi samudra. Padahal, masa depan kita ada di sana.”

Akhir kata dalam tulisan ini penulis menutupnya dengan sebuah sajak tentang laut:

Laut kita Kaya

Biru bercahaya

Kadang tak bersahaja

Namun pasti tak sengaja

Laut tampak begitu indah

Dibawah pantai yang teduh

Disini ku duduk

Tak hanya aku namun juga banyak

Semuanya menikmati karya Tuhan semesta

Semoga laut kita akan senantiasa membawa kejayaan bangsa

 

Jalesveva Jayamahe!!!

 

 

*Penulis adalah Alumni Ilmu Politik FISIP UIN  Jakarta, Anak Muda NU

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Barang Kami Tertahan, Bisnis Kami Pun Ikut Berhenti

Dwelling time yang masih jauh di atas standar internasional bukan sekadar masalah teknis kepelabuhanan —…

1 day ago

Pelindo Perkuat Sinergitas Optimalisasi Terminal Kijing, Akses Jalan jadi Prioritas

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) memperkuat sinergitas optimalisasi Terminal Kijing Mempawah Kalimantan Barat…

3 days ago

Maret 2026, IPC TPK Jambi Tumbuh 22,5%

Jambi (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Area Jambi mencatatkan pertumbuhan signifikan pada Maret…

4 days ago

IPC TPK Gandeng Mitra Pelayaran Perkuat Konservasi Laut dan Ekosistem Pelabuhan Berkelanjutan

Bandar Lampung (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) memperkuat komitmen keberlanjutan dengan menggelar aksi…

4 days ago

Tingkatkan Kapasitas SDM Kelautan dan Perikanan, KIOTEC Kunjungi Korsel

KIOTEC kembali mengadakan program kunjungan ke Korea Selatan. Kunjungan ini didedikasikan untuk memperkuat keahlian teknis…

4 days ago

IPC TPK Bangun Fasilitas Air Bersih di Muaro Jambi

Jambi (Maritimnews) - IPC TPK membangun sumur bor lengkap dengan instalasi pendukung sebagai sumber air…

4 days ago