Tak Dilibatkan Gugat MV Caledonian Sky, Dewan Adat Raja Ampat Kecewa

Ilustrasi: Masyarakat Adat Raja Ampat

MNOL, Jakarta – Pemerintah Pusat melalui Kemenko Maritim saat ini tengah mengajukan gugatan ke pihak MV Caledonian Sky terkait kerusakan terumbu karang di Raja Ampat. Kendati masih beragam soal biaya ganti rugi yang diajukan pemerintah, namun terlihat institusi yang dipimpin oleh Jenderal TNI (Purn) Luhut Pandjaitan itu menunjukan keseriusannya.

Namun di tengah upaya itu, Dewan Adat Biak Betew Raja Ampat merasa kecewa perihal tidak dilibatkannya nasyarakat adat setempat dalam proses itu. Mereka mengendus ada permainan Pemerintah Pusat  untuk mendapat keuntungan di balik tragedi ini.

“Dewan Adat Biak Betew Raja Ampat sangat kecewa terhadap langkah pemerintah yang tidak melibatkan masyarakat setempat atau pemilik hak ulayat dalam peristiwa ini,” tegas Viktor Ambaven, salah satu pengurus Dewan Adat Biak Betew Raja Ampat saat dikonfirmasi (20/3).

Pasalnya, masyarakat pemegang hak ulayat merupakan masyarakat yang terkena dampak langsung dari kerusakan tersebut. Tentunya ulah MV Caledonian Sky baik disengaja maupun tidak yang telah merusak kurang lebih 1.600 meter persegi area konservasi terumbu karang itu dapat mengurangi kunjungan wisatawan ke Raja Ampat.

“Raja Ampat merupakan salah satu pusat destinasi wisata bawah laut yang sering dikunjungi para wisatawan di dunia. Kejadian ini membuat mereka ragu untuk datang ke sini,” lanjut Viktor.

Lebih lanjut, Viktor menyatakan seharusnya pemerintah bisa duduk bersama dengan para tetua-tetua adat untuk membahas masalah ini. Karena tanpa kehadiran para Dewan Adat dalam pengajuan gugatan itu akan sulit.

“Dengan kehadiran kami bukannya gugatan itu justru malah bertambah kuat? Secara hukum kamilah pihak yang sangat dirugikan oleh kejadian ini,” pungkasnya.

Keterlibatan masyarakat adat Raja Ampat dalam proses gugatan ini juga didukung oleh pengamat maritim dari National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi. Kepada redaksi Minggu (19/3) lalu ia menayatakan gugatan itu harus didahului oleh masyarakat setempat.

“Masyarakat setempat merupakan entitas yang terkena dampak langsung dari kerusakan terumbu karang oleh kandasnya MV Caledonian Sky. Hal itu pun kita juga belajar dari kasus Montara pada tahun 2013,” kata Siswanto.

Pada intinya, skema pengajuan gugatan yang didasarkan dari hukum internasional perlu dipahami oleh pemerintah. Tujuannya agar keberhasilan dari proses ini untuk kemenangan gugatan dapat tercapai dan diterima oleh semua pihak.

(Adit/MN)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

IPCC Gelar Public Expose 2026

Jakarta (Maritimnews) – PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IDX:IPCC), anak perusahaan PT Pelindo Multi Terminal…

7 hours ago

Pelindo Gelar Coffee Morning, Sosialisasikan peralihan Nota Layanan Jasa Barang Non Petikemas

Jakarta (Maririmnews) - Dalam rangka meningkatkan sinergitas hubungan kerja sama yang telah terjaga dengan baik,…

2 days ago

TPS Gelar Safety Drill Hadapi Cuaca Ekstrem

Surabaya (Maritimnews) – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menggelar Safety Drill Angin Kencang di area…

7 days ago

TPK Koja Gelar Pelindo Mengajar 2026 di SMAN 8 Yogyakarta

Yogyakarta (Maritimnews) - KSO Terminal Petikemas Koja (TPK Koja) menggelar Program Pelindo Mengajar sebagai bagian…

1 week ago

Hari Sumpah Pemuda, Pelindo Regional 3 Gelar Donor Darah

Surabaya (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 3 berkomitmen untuk terus mendorong kegiatan sosial…

1 week ago

Satu Dekade NPCT 1, Kapasitas Hampir Penuh

Jakarta (Maritimnews) - New Priok Container Terminal One (NPCT1) baru saja merayakan satu dekade operasional…

1 week ago