Sebagai Pusat Tuna Dunia, Indonesia belum Mampu Saingi General Santos

Ilustrasi: Pusat tuna dunia, masih dipegang General Santos

MNOL, Jakarta – Kurun waktu selama 2 tahun, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berambisi untuk menyaingi General Santos sebagai pusat ikan Asia Tenggara. Berbagai kebijakan dikeluarkan oleh Menteri Susi guna mematikan Kota Tuna yang berada di Cotabato Selatan, Filipina itu.

Dari transshipment hingga pelarangan pengiriman tuna dari Sulawesi ke General Santos dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Gensan biasa disingkat juga kerap menjadi pusat pelelangan ikan hasil illegal fishing nelayan Filipina di ZEE Indonesia.

Pada tahun 2015, per tahunnya Gensan mampu mengekspor produk tuna kepada seluruh dunia sebesar USD 2 Miliar, sementara Bitung hanya Rp 16 Miliar. Ditambah lagi pernyataan Wali Kota Gensan, Ronnel Rivera pada tahun 2015 yang dirilis Asian Correspondent yang menyebutkan bahwa nelayan Indonesia tidak berkualitas.

Bertambah geram lah Jakarta, terutama kementerian yang dipimpin oleh Susi Pudjiastuti tersebut. Padahal menurut Susi, majunya Gensan sebagai pusat ikan Asia Tenggara karena banyak orang Indonesia yang bekerja di sana.

Namun alih-alih ingin menyaini Gensan, kebijakan transshipment justru mematikan industri perikanan di berbagai wilayah di Indonesia khususnya Bitung, Sulawesi Utara.

Menurut data yang dihimpun terdapat tujuh pabrik pengalenagan di Bitung yang terancam gulung tikar pasca kebijakan tersebut. Sehingga mengancam pula di PHK-nya ribuan pekerja pabrik.

Sedangkan di saat bersamaan, Gensan masih tetap bertengger sebagai Kota Tuna dunia. Selain menghasilkan peternakan dan produk buah-buahan, Gensan merupakan produsen terbesar sashimi dari ikan tuna, sehingga tak heran kota ini dijuluki sebagai Kota Bisnis Tuna di Filipina.

Menurut info dari situs www gensantos.gov.ph. setiap harinya Gensan mengelola 750 metrik ton ikan tangkapan dari laut. Kota ini juga dilengkapi dengan pelabuhan ikan yang lengkap dan fasilitas modern yang sesuai standar internasional terkait pendaratan ikan tangkap.

Selain ekspor tuna beku, Gensan juga mengekspor tuna kalengan yang diproduksi oleh 7 industri pengalengan tuna yang ada di Gensan. Selain tuna, Gensan juga mengekspor cumi beku hingga udang beku dan produk perikanan lainnya.

Di kota ini ada pelabuhan perikanan General Santos Fish Port Complex (GSFPC) yang memiliki luas kawasan hingga 32 hektar. Di 2013, total kapal yang bersandar di pelabuhan ini mencapai 334.772 kapal, rata-rata kapal yang bersandar setiap bulannya mencapai 27.897 kapal dengan rata-rata membawa 465,49 metrik ton ikan per hari di antaranya tuna sirip kuning, tuna peluru dan lainnya.

Bandingkan dengan jumlah kapal di Bitung, yang hanya memiliki 2.061 kapal ikan lokal dengan melibatkan 28.843 nelayan. Jika ditambah dengan kapal dan nelayan di sekitarnya hingga membentang ke Kepulauan Maluku dan Maluku Utara pun belum mendapat angka yang signifikan.

Padahal periaran Sulawesi hingga ke Maluku dan Papua dikenal sebagai segitiga tuna dunia. Dari bertelur hingga besar, terutama jenis tuna sirip kuning (yellowfin-Thunnus albacares) banyak hidup di perairan ini.

Menurut ketua Persatuan Purnawirawan TNI AL (PPAL) Laksdya TNI (Purn) Djoko Sumaryono, ke depan menjadi tantangan Indonesia untuk bisa memindahkan pusat tuna terbesar di Asia Tenggara dari Gensan ke Indonesia (Bitung).

Ia mengingatkan agar kita jangan terlalu ber-eforia dengan keberhasilan penenggelaman kapal, tetapi lihatlah kondisi riil terkait produktivitas nelayan kita. Dari teknologi hingga kemampuan SDM-nya pun harus menjadi sorotan pemerintah.

“Masak iya kita kalah dengan Gensan, sementara perairan kita melimpah dengan berbagai jenis ikan, apalagi ikan tunanya. Bitung harus bisa menjadi pusat penjualan tuna dunia,” pungkas Djoko.

(Adit/MN)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

GERTAK: Presiden Prabowo Subianto Copot Menkeu Purbaya Terkait Dugaan Isu Jual-Beli Jabatan

Jakarta (Maritimnews) - Jual-beli jabatan merupakan salah satu awal permulaan dan bentuk tindak pidana korupsi…

3 days ago

Survei IDM Ungkap Dua Sisi Bea Cukai: Pelayanan Bagus, Namun Kebijakan Tarif Masih Jadi PR

Jakarta (Maritimnews) - Hasil survei Indonesia Development Monitoring (IDM) terhadap pengguna jasa Direktorat Jenderal Bea…

3 days ago

Analisis Penerbitan PMK 51/2026 tentang Angkutan Barang Terusan

Peraturan Menteri Keuangan No.51 tahun 2026 adalah aturan Kementerian Keuangan yang mengatur tentang Angkut Terus…

4 days ago

TPS Gelar Sosialisasi Bisnis Operasional Bersama GINSI Jatim

Surabaya (Maritimnews) - Kolaborasi antar instansi menjadi faktor penting dalam menciptakan layanan logistik efisien, transparan,…

4 days ago

Atasi Kepadatan, Pelabuhan Tanjung Wangi Kini Dilayani Empat Kapal

Banyuwangi (Maritimnews) - Aktivitas bongkar muat kendaraan melalui kapal Roll On-Roll Off (Ro-Ro) di pelabuhan…

6 days ago

Pelindo Regional 4 dan Kejati Maluku Perkuat Sinergi Hukum

Makassar (Maritimnew) – Dalam rangka memperkuat sinergi dalam penanganan masalah hukum bidang perdata dan tata…

7 days ago