Menanti Terusan Kra Thailand yang Tak Kunjung Pasti

Terusan Kra, Thailand

MN, Bangkok – Terusan Tanah Genting Kra atau Terusan Kra di Thailand adalah Kanal yang akan membelah melewati daratan Thailand bagian selatan untuk mempersingkat waktu transportasi laut, sama seperti Terusan Panama dan Terusan Suez.

Proyek raksasa sepanjang 120 Km dan lebar 500 meter diisukan telah dimulai pembangunannya pada tahun 2015 dan bakal rampung tahun 2025. Pemerintah Thailand menggandeng China, bahkan Thailand membagi pengelolaan Terusan Kra dengan China.

Namun keberadaan Terusan Kra masih belum juga terealisasi, pembangunannya justru menjadi perbincangan hangat yang tak pasti. Apalagi isu keamanan di Negeri Gajah Putih acapkali mengemuka, proyek Terusan Kra pun ikut tertunda.

Untuk diketahui, Terusan Tanah Genting Kra diusulkan pada tahun 1677, ketika Raja Thai Narai yang Agung meminta insinyur Perancis de Lamar meneliti kemungkinan membangun terusan yang menghubungkan Songkhla dengan Myanmar.

Ide untuk membangun Terusan Kra mengemuka kembali menyusul penandatanganan MoU antara the China-Thailand Kra Infrastructure Investment and Development dengan Asia Union Group pada tahun 2015 yang lalu.

Diprediksi, Terusan Kra bakal mengancam kegiatan Hub Port Singapura dan Malaysia sebagai negara “penguasa” Selat Malaka. Kedua negara tersebut cukup lama memanfaatkan jalur lalulintas utama kapal dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik.

Sedangkan Indonesia sepertinya tidak terancam, kecuali kita jadi hub atau transit pelayaran yang melalui Selat Singapore dan Selat Malaka. Justru potensi pelabuhan Kuala Tanjung dan Sabang yang bakal berkembang bersama Terusan Kra.

Terusan Kra merupakan jalur pintas ke Eropa, Timur tengah, India, dan Afrika. Memanfaatkan Terusan Kra, kapal-kapal tidak perlu lagi melewati Singapura dan Semenanjung Malaysia sehingga dapat memotong waktu perjalanan sampai dengan 72 jam atau 1.200 kilometer.

Bicara kepentingan bisnis pengusaha cargo dan kapal tangker, tentulah Terusan Kra bakal menjadi pilihan Pelayaran. Dapat dikatakan itu jalur pintas favorit, sehingga diyakini banyak kapal perdagangan dari Asia Timur ke Eropa dan Amerika tidak lagi melewati Selat Malaka.

(Bayu/MN)

Bayu

Jurnalis Maritimnews.com

Share
Published by
Bayu

Recent Posts

IPC TPK Dorong Sportivitas Bersama Badminton Competition 2026

Jakarta (Maritimnews) - Komitmen PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) untuk tidak hanya unggul dalam…

6 days ago

Pasca QCC Baru, Tingkatkan Produktivitas Layanan IPC TPK Panjang

Bandar Lampung (Maritimnews) - Kehadiran Quay Container Crane (QCC) tipe Post Panamax di IPC TPK…

6 days ago

Semester I/2026, Throughput IPC TPK Meningkat 7 Persen

Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja operasional yang solid…

2 weeks ago

Mengawal Meritokrasi BUMN; Mengapa JOB BIDDING Jangan Menjadi Alat Menghukum Pengalaman

Oleh: Djusman H Umar Praktisi Ketenagakerjaan & Ketua Harian Federasi BUMN Bersatu (FSP BUMN Bersatu)…

2 weeks ago

Setetes Harapan di Hari Jadi IPC TPK, Himpun 128 Kantong Darah

Jakarta (Maritimnews) – Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13 PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK)…

2 weeks ago

Pelindo Terminal Petikemas Terima Dua Penghargaan Ajang GSPI ASRI 2026

Surabaya (Maritimnews) - PT Pelindo Terminal Petikemas meraih penghargaan dalam ajang Green and Smart Port…

2 weeks ago