Ketum GMKI: Tenggelamnya KM Sinar Bangun Adalah Kejadian yang Direncanakan

Ketua Umum PP GMKI Sahat Martin Sinurat.

MN, Jakarta – Ketua Umun Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Sahat Martin Philips Sinurat menyayangkan terjadinya peristiwa kecelakaan Kapal Motor Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba pada Senin (18/6).

Menurutnya, peristiwa ini bisa dianggap sebagai kejadian yang direncanakan. Hal ini tidak terlepas kegagalan pemerintah dalam merencanakan sistem pengendalian dan pengawasan pelayaran serta sistem keselamatan dan keamanan pelayaran kita.

”Gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan. Jika kita gagal merencanakan sistem pengendalian dan pengawasan pelayaran serta sistem keselamatan dan keamanan pelayaran maka artinya kita telah merencanakan adanya korban apabila terjadi kecelakaan pelayaran,” ujarnya.

Ia juga memaparkan bahwa dalam keselamatan pelayaran dan hal yang terkait di dalamnya merupakan hal yang dijamin oleh undang-undang.

“Undang-undang no.17 Tahun 2008 tentang pelayaran menyatakan bahwa pelayaran adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas angkutan di perairan, kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan, serta perlindungan lingkungan maritim. Sedangkan keselamatan dan keamanan pelayaran adalah suatu keadaan terpenuhinya persyaratan keselamatan dan keamanan yang menyangkut angkutan di perairan, kepelabuhanan, dan lingkungan maritime,” tambahnya.

Lebih lanjut, pria yang berasal dari Sumatera Utara ini juga mengutuk keras bobroknya sistem pelayaran Indonesia, di mana terkesan harus jatuh korban terlebih dahulu sebelum diadakan pembenahan sistem yang sudah sangat bobrok tersebut.

“Sangat disayangkan, harus jatuh korban terlebih dahulu, baru kita ingat tentang bobroknya sistem pelayaran kita. Presiden Republik Indonesia memiliki visi yang besar, namun sangat disayangkan tidak didukung oleh pejabat di bawahnya yang serius membenahi detail sistem pelayaran kita yang sudah sangat bermasalah ini. Harus ada yang diganti. Harus ada perombakan besar-besaran,” lanjutnya.

Ia menegaskan bahwa Menteri Perhubungan harus bertanggungjawab atas kejadian ini serta harus segera melakukan perombakan di jajarannya, terutama yang terkait langsung dengan peristiwa kecelakaan ini.

“Menhub harus bertanggungjawab atas korban kecelakaan kapal di Makassar dan Danau Toba. Ganti Dirjen Perhubungan terkait atau Menhub yang harus mundur. Puluhan nyawa dikorbankan karena sistem pelayaran yang bobrok, khususnya dalam hal keamanan dan keselamatan pelayaran,” tegasnya.

A.P Sulistiawan

Redaktur

Share
Published by
A.P Sulistiawan

Recent Posts

Koordinasi Logistik Membaik, Arus Kapal Pasca Lebaran Terkendali

Jakarta (Maritimnews) - Aktivitas kunjungan kapal dan arus petikemas pasca Lebaran di lingkungan IPC TPK…

1 day ago

Langkah Transformasi Digital Pertamina Dinilai Positif

Jakarta (Maritimnews) - Mengacu hasil survey Lembaga riset strategis Citra Nasional Network (CNN) yang dirilis…

5 days ago

Periode Libur Sekolah 2026, PELNI Kasih Diskon 30%

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) resmi memberikan diskon tarif tiket kapal penumpang…

6 days ago

Sampai April 2026, Arus Peti Kemas Ekspor di Pelindo Tumbuh 10%

Jakarta (Maritimnews) - Peningkatan arus barang melalui pelabuhan, khususnya peti kemas yang dilayani oleh PT…

1 week ago

Pelindo Group Makassar Memperingati Hari Lahir Pancasila

Makassar (Maritimnews) - Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni, Pelindo Group…

1 week ago

Kepercayaan Industri Otomotif, Ekspor IPCC Tumbuh Signifikan

Jakarta (Maritimnews) - Komitmen PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IDX: IPCC) untuk terus memperkuat kapasitas…

2 weeks ago