Masalah Klasik Infrastruktur Pendukung Pelabuhan Besar

Beyond Connectity – Indonesia Transport System

MN, Jakarta – Masalah klasik infrastruktur pendukung pelabuhan adalah tidak terencananya dengan baik antara pembangunan/pengembangan pelabuhan dengan akses jalan serta Kawasan Industri, sehingga menjadi suatu proyek yang tidak efektif bagi kepentingan Bangsa secara makro.

Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi selaku pelaku usaha Logistik kepada Maritimnews, menyikapi upaya Pemerintah terkait menekan cost logistic yang kerap jadi talk show dan tak pernah ada solusinya.

“Konektivitas pelabuhan dan Kawasan Industri ataupun sumber pasokan komoditas haruslah dibangun secara bersamaan dan terintegrasi, tentu melalui pertimbangan jangka panjang pula,” jelas Yukki di Jakarta, Sabtu (28/12).

Oleh sebab itu, terang Yukki N Hanafi, pembangunan pelabuhan Baru maupun pengembangan pelabuhan existing perlu dikaji dalam rangka meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Sehingga dapat mengendalikan biaya logistik maupun daya saing barang serta jasa.

“Seringkali terjadi pembangunan pelabuhan baik Laut maupun Udara tidak diselaraskan dengan pembangunan akses jalan maupun profile lingkungannya, sehingga fasilitas pelayanan menjadi tidak efektif apalagi efisien,” ujarnya.

Yukki N Hanafi sepakat, bahwa angka pertumbuhan throughput baik petikemas maupun general cargo di pelabuhan besar tidak tumbuh signifikan. Apabila akses infrastruktur pendukung baik jalan raya atau jalan tol, tak cukup layak dalam rangka kelancaran arus barang.

Kedepan kita akan melihat, contoh pelabuhan Kijing Mempawah yang populer disebut Terminal Kijing adalah pelabuhan besar berkonsep modern dengan dermaga sepanjang 5 km dan kedalaman – 15 LWS. Namun secara cost logistic, pengguna jasa pasti itung-itungan di akses jalan.

Masalah klasik “serupa tak sama” telah dialami oleh New Port Container Terminal (NPCT 1) Kalibaru yang agak kesulitan menuju akses jalan Tol, begitupun Terminal Teluk Lamong, pelabuhan Kuala Tanjung, dan Makassar New Port (MNP) yang juga terkendala infrastruktur jalan pendukung.

“Belum lagi masalah perijinan usaha dan kegiatannya yang sering kali kurang saling menunjang antara kebijakan Pusat dengan Daerah, dimana mengakibatkan ketidakpastian untuk iklim usaha di negeri ini,” pungkasnya.

(Bayu/MN)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Rekayasa Ulang BUMN Melalui Danantara Sebagai Motor Penggerak Kekuatan Ekonomi Nasional

Ditulis oleh :Arief Poyuono (Komisaris Pelindo) Jakarta 4 Oktober 2026 "Jika Anda tidak bisa memberikan…

4 days ago

Implementasi EAZI di TTL Group, Tekan Port Stay

Surabaya (Maritimnews) - Terminal Petikemas Teluk Lamong (TTL) Group berkolaborasi berbagi peran dengan KSOP Utama…

6 days ago

TPS Gelar Safety Stand Down, Perkuat Budaya Keselamatan Kerja

Surabaya (Maritimnews) - Komitmen PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) terhadap safety culture terus dilaksanakan secara…

6 days ago

Fit to Drive IPC TPK bagi 150 Sopir Truk Peti Kemas

Jakarta (Maritimnews) - Bertepatan dengan perayaan Hari Pelindo ke-5, PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK)…

6 days ago

Pelindo 5 Tahun Bersatu, Perkenalkan ADHARA

Jakarta (Maritimnews) - Bersamaan dengan memperingati Hari Ulang Tahun ke-5 PT Pelabuhan Indonesia atau Pelindo,…

6 days ago

Kapal dan Pelabuhan: Kisah Cinta yang Tidak Perlu Dimerger

Oleh: Laksda TNI (Purn) Dr. Soleman B Ponto. ST, SH, MH Konon, di dunia maritim…

1 week ago