Pinmarine Turntable, Fitur Penting Operasi Pendaratan Amfibi

Pinmarine Turntable produksi PT. Pindad (Persero)

MNOL, Jakarta – Bagi kebanyakan generasi sekarang, apalagi yang tidak berkecimpung di dunia yang tidak berhubungan dengan pelayaran, maka mendengar kata turntable dapat dipastikan reaksi mereka adalah menjawab tidak tahhu atau tahu tapi merujuk pada alat pemutar piringan hitam yang biasa digunakan oleh disc jockey (DJ). Hal ini dapat dipahami mengingat peralata ini bukanlah peralata yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari – hari. Hanya bagi mereka yang berkecimpung di dunia pelayaran atau memiliki aktifitas yang terkait dengan pelabuhan yang kemungkinan besar mengenal alat ini.

Turntable yang dimaksud di sini adalah alat bantu manuver bagi tank di atas kapal. Bila diistilahkan ke dalam bahasa Indonesia, kata ini mungkin bisa berarti meja putar. Dan istilah ini memang bisa jadi benar secara proses kerjanya. Turntable yang kita bicarakan saat ini berbentuk plat/meja yang digunakan untuk memutar arah kendaraan lapis baja di dalam tank deck pada  Landing Ship Tank (LST). Turntable ini juga yang menjadi salah satu karakteristik suatu kapal perang dikualifikasikan sebagai LST. Pada umumnya LST dirancang dengan satu pintu ramp (ramp door) pada bagian haluan, dimana ramp door tersebut digunakan untuk masuk dan keluar kendaraan ke dalam tank deck. Di sinilah peran turntable sangat diperlukan untuk memutar arah kendaraan lapis baja tersebut.

Pada dasarnya prinsip kerja turntable mirip dengan prinsip kerja pemutar lokomotif kereta api. Kendaraan yang masuk ke dalam LST perlu memutar arah di dalam tank deck, tujuannya adalah agar didapat posisi yang ideal untuk proses debarkasi basah, yaitu proses pendaratan ranpur amfibi dari tengah laut. Debarkasi basah sendiri menjadi menu wajib dalam tiap latihan pendaratan amfibi berskala besar.

Indonesia sendiri telah mampu memproduksi alat ini melalui PT. Pindad (Persero), yang dikenal dengan nama Pinmarine Turntable. Pinmarine Turntable sudah diaplikasikan pada LST terbesar yang dimiliki TNI AL saat ini, yaitu LST KRI Teluk Bintuni – 520.

Bermaterikan baja ringan dengan permukaan akhir yang dicat pada bahan dasarnya dan memiliki dimensi sebesar 9 meter, bobot putar untuk turntable produksi PT. Pindad ini sendiri mencapai 90 ton. Sebagai informasi, bobot Tank Leopard yang diangkut oleh KRI Teluk Bintuni – 520 adalah sebesar 60 ton. Jauh lebih lebih berat dibandingkan kebanyakan tank yang dimiliki TNI AL sebelumnya, yaitu sekitar 20 ton.

Pinmarine turntable produksi PT. Pindad (Persero) ini mampu berputar hingga 360o dalam rotasinya dengan komponen utama yang dimilki yaitu table assy, column assy, rotator assy, slewing bearin, dan power system (Electrical atau Hydraulic system).

A.P Sulistiawan

Redaktur

Share
Published by
A.P Sulistiawan

Recent Posts

INSA Jaya Gelar RAC Ke XVIII, Andi Patonangi Ketua Masa Bakti 2026 – 2031

Jakarta (Maritimnews) - Setelah menjabat pengurus antar waktu (PAW), Andi S Patonangi ditetapkan secara aklamasi…

2 hours ago

RUPST Pelindo 2025: Kontribusi ke Negara Rp7,81 Triliun

Jakarta (Maritimnews) – Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 PT Pelabuhan…

3 days ago

IPC TPK Jambi Dukung Ekspor 19,2 Ton Kopi Kerinci ke Mesir

Jambi (Maritimnews) - Dalam rangka mendukung kelancaran ekspor kopi robusta asal Kerinci ke negara Mesir…

4 days ago

Januari – Mei 2026, Arus Penumpang Pelindo Regional 4 Melesat 10,2% YoY

Makassar (Maritimnews) - PT Pelindo (Persero) Regional 4 mencatat trafik arus penumpang selama periode Januari–Mei…

5 days ago

Januari – Mei 2026, Throughput IPC TPK Capai 1,49 Juta TEUs

Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) mencatat pertumbuhan arus petikemas sebesar 6,1 persen…

6 days ago

Direct Baru di IPC TPK, MV AS Carolina ke Tiongkok Selatan

Jakarta (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) memperkuat konektivitas logistik internasional melalui pelayanan perdana…

1 week ago