Categories: GeopolitikHL

Konflik LCS, Ketua IK2MI: Jangan Biarkan Wilayah kita Dicaplok

Para Pembicara RTD di Hotel Grand Cempaka (28/7)

MNOL, Jakarta – Setiap jengkal wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) termasuk Natuna tidak boleh diklaim, dikuasai, dan diakuisisi oleh negara-negara manapun. Penjagaan dan pengamanan Perairan Natuna harus dilakukan oleh TNI Angkatan Laut secara terus menerus dan tidak boleh insidental.

Hal itu ditegaskan oleh Ketua IK2MI Laksamana Madya TNI (Purn) Y Didik Heru Purnomo pada kegiatan Round Table Discussion (RTD) di Jakarta, Kamis (28/7/2016). Para pembicara dalam RTD itu antara lain Kurtubi yang merupakan anggota Komisi VII DPR RI, Staf Ahli Menko Polhukam Bidang Kemaritiman Laksamana Muda TNI Dr Surya Wiranto dan Sekdiskumal Kolonel Laut (Kh) Dr Kresno Buntoro dengan moderator Retno Windarti, SH, MSc.

RTD dengan tema “Sengketa Laut China Selatan Pasca Putusan Permanen Arbitrase” dibuka Ketua IK2MI Laksamana Madya TNI (Purn) Y Didik Heru Purnomo. “Negara kita sebagai kawasan maritim yang sangatlah luas harus kita jaga, amankan, dan kelola demi kesejahteraan masyarakat Indonesia secara menyeluruh,” ucapnya.

Terkait dengan keputusan Pengadilan Permanen Arbitrase atas kawasan Laut China Selatan, Didik Heru berharap kita semua bisa menyikapinya dengan arif, sehingga tidak akan terjadi suatu konflik. Dia tidak bisa membayangkan jika konflik terbuka terjadi atas negara-negara yang memiliki kepentingan dengan kawasan Laut China Selatan.

Apalagi Indonesia adalah negara netral yang memiliki politik luar negeri yang bebas dan aktif. “Saya tidak bisa membayangkan jika terjadi Perang Dunia III,” katanya.

Sedangkan Kurtubi lebih tegas lagi menyatakan kecurigaannya terhadap Tiongkok atas perairan Natuna. Dia mengatakan persoalan ikan di Laut China Selatan merupakan masalah kecil. “Saya yakin China dengan segala cara dan strategi ingin menguasai Natuna. Ikan hanya soal kecil,” kata politisi Partai Nasdem itu.

Tiongkok dengan perkembangannya yang sangat pesat sangatlah perlu banyak energi seperti gas dan minyak.

“Di Natuna sudah terbukti cadangan gasnya sangatlah besar, yaitu sekitar 40 triliun kubik. Cadangan gas itu jika dimanfaatkan untuk keperluan dalam negeri kita bisa untuk jangka waktu 50 hingga 100 tahun. Jika Natuna dicaplok oleh China, kita hanya bisa gigit jari. Untuk itu perlu diwaspadai. Jangan ada kerjasama dengan China atau Malaysia untuk membangun rig-rig. Lebih baik kita kerjasama dengan Amerika atau Perancis yang tidak memiliki kepentingan di kawasan Natuna,” pungkasnya. (Tan)

 

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

INSA Jaya Gelar RAC Ke XVIII, Andi Patonangi Ketua Masa Bakti 2026 – 2031

Jakarta (Maritimnews) - Setelah menjabat pengurus antar waktu (PAW), Andi S Patonangi ditetapkan secara aklamasi…

1 day ago

RUPST Pelindo 2025: Kontribusi ke Negara Rp7,81 Triliun

Jakarta (Maritimnews) – Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 PT Pelabuhan…

4 days ago

IPC TPK Jambi Dukung Ekspor 19,2 Ton Kopi Kerinci ke Mesir

Jambi (Maritimnews) - Dalam rangka mendukung kelancaran ekspor kopi robusta asal Kerinci ke negara Mesir…

4 days ago

Januari – Mei 2026, Arus Penumpang Pelindo Regional 4 Melesat 10,2% YoY

Makassar (Maritimnews) - PT Pelindo (Persero) Regional 4 mencatat trafik arus penumpang selama periode Januari–Mei…

6 days ago

Januari – Mei 2026, Throughput IPC TPK Capai 1,49 Juta TEUs

Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) mencatat pertumbuhan arus petikemas sebesar 6,1 persen…

1 week ago

Direct Baru di IPC TPK, MV AS Carolina ke Tiongkok Selatan

Jakarta (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) memperkuat konektivitas logistik internasional melalui pelayanan perdana…

1 week ago