Ini Pesan untuk Bangsa Indonesia, Pewaris Negeri Nuh

Ilustrasi Kapal nabi Nuh

MNOL, Jakarta – Negeri Indonesia yang dahulu bernama Nusantara ternyata menyimpan misteri yang hingga kini belum terungkap. Buah dari penjajahan Belanda selama tiga setengah abad ternyata merubah seluruh tatanan kehidupan masyarakatnya termasuk sejarahnya.

Setelah mengeluarkan pernyataan Nusantara sebagai representasi Negeri Saba sebagaimana yang tertulis dalam Kitab Suci Al Qur,an yang sejalan dengan perspektif KH Fahmi Basya, kini Letkol Laut (P) Salim kembali mengemukakan pandangannya yang mengurai bahwa Nusantara merupakan Negerinya Nabi Nuh setelah isi bumi ini dilanda banjir besar.

“Kata Nusantara itu berasal dari Nuh dan Santara. Nuh itu Nabi Nuh dan Santara yang berarti towong/lowong/kosong menurut kamus Padmasusastra 1903 halaman 11. Jadi Nusantara merupakan Tanah Nuh yang kosong pasca banjir, pernyataan Nusantara yang berasal dari nusa dan antara itu akal-akalan Belanda lihat aja sumbernya di Wikipedia itu kan orang Belanda penulisnya,” tegas Salim kepada maritimnews, Sabtu (24/9).

Dia selanjutnya menjelaskan  Naskah Carita Wara Guru, 1750 M “di bawah unggah ke perahu, mangka bijil angina topan sapocoro ti sagara mangka keueum alam dunya”// setelah dibawah naik (jenazah Nabi Adam) ke dalam perahu Nabi Nuh, muncul taufan dahsyat dari samudera, lalu tenggelamlah alam dunia, “Urang Nusa Jawa rame eukeur nyien gunung”//(waktu itu) orang-orang di Nusa Jawa sedang marak membangun pepunden (step pyramid)”.

Dia menyebut sumber bacaan dan sebagian hipotesa itu berasal dari dalam Al-Quran. Secara nalar berdasarkan Kitab Suci, Nabi Nuh AS seorang nabi yang hidup selama 800 tahun. Dikisahkan, Kaum Nuh tidak taat terhadap seruan Nabi Nuh untuk menyembah Tuhan YME bahkan anaknya pun mengingkari ajarannya.

Mereka lebih memilih menyembah berhala hingga akhirnya Allah Swt mengeluarkan peringatan akan adanya bencana dahsyat yang melanda seluruh belahan bumi. Allah perintahkan Nuh bersama pengikutnya yang berjumlah 80 orang untuk membuat perahu besar di atas bukit.

Tatkala, ketika banjir besar, Nuh bersama 80 orang beserta beberapa sepasang hewan  selamat di dalam bahtera besar itu.

Seluruh permukaan bumi tertutup air hingga tidak tahu kemana bahtera yang mengangkut orang-orang Tauhid (Penyembah Tuhan YME) itu menepi.

Kisah itu pun terhenti saat Nuh bersama pengikutnya menepi di suatu negeri kala air menyurut. Negeri itu lah belum pernah terungkap karena tidak ada penjelasan rinci di dalam Al Qur’an maupun penelitian para Sejarawan dan Arkeolog.

Letkol Laut (P) Salim

Dari kandungan kisah tersebut, Salim memberanikan diri menyebut negeri itu adalah Nusantara yang menjadi sumber peradaban dunia, karena nenek moyangnya adalah orang-orang shalih (pengikut Nabi Nuh AS). Ketika populasi semakin bertambah tentu penyimpangan-penyimpangan terjadi sehingga penyembahan terhadap berhala kembali menyebar hingga Tuhan menurunkan utusan-utusan berikutnya.

Lebih lanjut sejarah Nuhsantara ini akan dituangkan dalam Kuliah Umum di UIN Jakarta pada tanggal 30 September 2016 sekaligus bedah buku My Fish My Life.

Tidak melanjutkan kisahnya, lulusan AAL tahun 1995 ini hanya berpesan agar bangsa ini terus berjuang dengan iman kepada Tuhan YME dan penuh semangat.

“Negeri ini adalah negeri perjuangan. Pancasila dan UUD 1945 adalah ruhnya. Sesungguhnya kita telah memasuki fajar menyingsing maka ketika kita harus kembali, berarti kita harus berjuang dengan iman dan semangat,” tandas Salim.

Perwira Menengah TNI AL yang rajin menulis buku ini selanjutnya mengungkapkan jangan takut bagi orang-orang yang tengah berjuang karena kemenangan berada di pihaknya.

“Perangilah mereka yang membuat kebatilan di tanah air ini, ibu pertiwi akan menjaga kita,” bebernya.

Dengan penuh keyakinan, dia pun menyatakan bahwa merah putih akan berkibar selamanya dan menjulang di seantero jagad raya. Hal itu pun sama seperti yang diucapakan oleh Bung Karno di sidang umum PBB di New York, 30 September 1960, di mana Sang Proklamator itu menyatakan bahwa negara ini membawa misi untuk umat manusia.

“Kedaulatan rakyat yang berdasar Pancasila dan UUD 1945 akan tegak di negeri ini bahkan ke seluruh penjuru dunia,” imbuhnya.

Di akhir penjelasannya, Salim menyatakan suatu bangsa akan mengalami kejayaan ketika hati menjadi Panglima, dan akan mengalami masa keemasan ketika akal fikiran dan hati disatukan, dan akan mengalami kehancuran ketika akal fikiran dan nafsu menjadi Panglima. Kembali atau hancur,” pungkasnya. (Tan)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Momentum HUT IPC TPK Ke-13, Hadirkan Khitanan Massal di Cilincing

Jakarta (Maritimnews) – Menyambut HUT PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) ke-13 telah diawali dengan…

2 days ago

Maklumat Pelayanan, Komitmen Pelindo Regional 2 Tanjung Priok

Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka meningkatkan kepercayaan masyarakat dan pengguna jasa terhadap pelayanan terminal penumpang,…

3 days ago

IPC TPK dan Mitra PBM Dorong Operational Excellence

Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka menghadirkan layanan terminal yang unggul (Operational Excellence) berkelanjutan, PT IPC…

1 week ago

Hari Lingkungan Hidup 2026, Kolaborasi Pelindo Regional 2 Priok dan Pemkot Jakut

Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 PT Pelabuhan Indonesia (Persero)…

1 week ago

Transformasi Terminal Sri Bintan Pura Tingkatkan Sinergitas

Tanjung Pinang (Maritimnews) - Langkah Transformasi Terminal Penumpang Sri Bintan Pura di Tanjung Pinang telah…

1 week ago

Jalan di Balik Dermaga: Menuntaskan Hinterland yang Terlupakan

Investasi besar pada terminal pelabuhan tanpa membenahi konektivitas di belakangnya ibarat membangun mulut tanpa tenggorokan.…

1 week ago